Bapakku
Malam itu, aku masuk ke kamar bapak. Bau pesing dan aroma tahi langsung menyerbu hidungku tapi tak kuhiraukan. Sudah seminggu bapak terbaring tak berdaya di tempat tidur, tanpa bisa bergerak ke mana-mana. Ia kencing dan berak di kasur, dan aku mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Kulihat mata bapak terpejam, tapi aku menduga ia belum tidur. Telapak tangannya yang memeluk bantal di atas perutnya bergerak-gerak, seolah mengikuti ketukan sebuah irama musik yang tengah mengalun. Tapi, tak ada suara di kamar itu selain desah napas bapak yang beraturan, yang menyebabkan perutnya yang buncit tertutup bantal bergerak naik-turun. Tubuh bapak hanya terbalut kain sarung yang menutupi sebagian perut hingga bawah lututnya. Kulihat sarung bapak basah, tentu oleh air kencing.
Kuurungkan niatku untuk menyapanya. Kubalikkan badanku, tapi sebelum tanganku mencapai gagang pintu, kudengar bapak memanggilku.
“Lintang, kok belum tidur?”
Aku berbalik dan kembali mendekat.
“Bapak juga belum tidur?”
“Jangan khawatirkan bapak,”
“Saya hanya mau memastikan apakah bapak baik-baik saja.”
“Mana mungkin aku baik-baik saja anakku? Separo badanku lumpuh, aku tak bisa ke mana-mana selain berbaring di tempat tidur seperti kain basah yang teronggok…”
“Pak! Maksudku, saya ingin memastikan apakah bapak sudah tidur.”
“Bagaimana orang bisa tidur di atas kasur yang basah dan bau pesing ompolnya sendiri.”
“Sini, Pak, biar saya ganti sarung Bapak.”
“Tidak usah, nak, percuma, sebentar lagi bapak pasti akan kencing lagi, dan terus kencing lagi sepanjang malam.”
“Mestinya bapak kalau mau kencing bangun, dan kencing di pispot yang sudah saya sediakan.”
“Bapak nggak pernah tahu kapan akan kencing, selalu saja tiba-tiba kasur di bawah paha bapak sudah basah.”
Aku menghela napas paling berat yang bisa dihela oleh orang yang tengah mengahadapi sebuah kenyataan terpahit dalam hidupnya.
“Ya, sudah, Pak, tidur, kalau perlu apa-apa panggil saya.”
“Kamu nggak pernah mendengar kalau Bapak panggil.”
“Mungkin suara Bapak kurang keras.”
***
Aku bangun dengan ingatan pada Bapak. Sejak dulu aku selalu memendam ketakutan tertentu pada orang sakit. Entahlah, aku selalu berpikir, orang sakit akan meninggal pada pagi hari. Maka, inilah kesibukanku setiap pagi sejak bapak mengalami kelumpuhan pada separo badannya: terburu-buru membuka pintu kamar bapak dan memastikan apakah perutnya yang buncit masih bergerak naik-turun sebagai pertanda bahwa ia masih bernafas.
Biasanya, bapak masih tidur ketika aku menenggoknya pertama kali pada pagi hari. Bila begitu, aku akan kembali ke kamar, melanjutkan tidurku barang satu atau dua jam. Ketika aku bangun lagi, kutengok kembali kamar bapak dan biasanya kudapati bapak sudah bangun.
Dan, kumulailah ritual yang sebelumnya tak pernah kubayangkan akan kulakukan sepanjang hidupku: mengganti sprei penuh tahi dan air kencing, dan mengelap seluruh tubuh bapak dengan handuk basah. Setelah itu, kubikinkan bapak sarapan. Biasanya dua gulung omelet dan secangkir kopi. Aku juga membuat sarapan yang sama untuk diriku sendiri. Tapi, pada hari ketiga sakitnya, ia minta nasi uduk. Kalang kabut aku mencari nasi uduk pada pukul 8 pagi seperti itu. Setelah bertanya kepada tetangga sebelah, aku berhasil menemukan warung nasi uduk di dekat pasar tak jauh dari rumah.
Tiba-tiba aku merasa telah menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus sebuah keluarga. Tapi, setelah kupikir lagi, tak seharusnya aku punya perasaan seperti itu. Aku hanyalah anak bapakku, yang kini sehari-hari tergolek tak berdaya di tempat tidur. Siapa lagi yang akan mengurusnya kalau bukan aku? Para tetangga, terutama ibu-ibu yang suka berkumpul dan menggosip, saling berbisik menyatakan keheranannya atas apa yang kulakukan. Lelaki semuda itu, bagaimana bisa begitu telaten mengurus orangtua yang sudah jompo. Yang lain kudengar bilang, benar-benar anak yang tahu balas budi pada orangtua. Yang lain lagi menambahi, sudah cakep, karier mapan, berhati mulia pula. Mereka tentu tidak tahu, bagaimana sebenarnya perasaanku terhadap bapakku, bahkan sampai ketika ia sudah seminggu terbaring tak berdaya layaknya bayi merah yang baru lahir.
***
Ketika umurku masih 10 tahun, bapak meninggalkan kami –aku dan ibu. Sejak itu, ibu jadi sakit-sakitan. Lebih-lebih setelah mendengar kabar bahwa bapak menikah lagi dengan perempuan di kota lain. Tak kuat menanggung sakit hati, ibu pun meninggal dalam kekecewaan dan beban pikiran. Umurku sudah 14 tahun waktu itu, dan aku sudah bisa membenci ayahku. Bertahun-tahun aku membencinya, namun ketika lulus kuliah dan mendapat pangilan kerja di kota yang sama dengan bapakku tinggal, aku jadi ingin bertemu dengannya. Entahlah, kebencianku seperti berubah menjadi kerinduan. Bagaimana pun aku pernah punya bapak.
Akhirnya kutemukan bapakku, yang ternyata juga merindukanku. Lalu bapak memintaku tinggal bersama di rumahnya. Aku bersedia karena bapak tak memiliki anak lagi dengan istri barunya itu, seorang perempuan yang masih muda dan cantik. Empatbelas tahun lebih muda daripada bapak. Tapi, aku tetap memanggilnya ibu. Ia baik sekali padaku, begitu memperhatikanku seolah anak kandungnya sendiri. Lalu bapak pun beranjak tua dan mulai sakit-sakitan. Dan, istrinya yang masih muda dan cantik itu nafsunya masih begitu membara. Aku mulai mencium gelagat yang tidak baik, dan tetangga-tetangga pun mulai menggosip tentang istri bapak yang punya demenan lagi.
Dan, kenyataannya, istri bapak mulai jarang pulang. Tapi, bapak mencoba menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi dengan mengatakan, ibumu menginap di rumah teman pengajiannya. Aku geram dengan ketakberdayaan bapak. Sehari setelah bapak benar-benar sudah ambruk tak berdaya, aku membawanya ke rumah sakit. Tepatnya, aku memaksanya karena bapak bersikeras tidak mau berobat. Sebenarnya memang boleh dibilang percuma membawa bapak ke rumah sakit, karena bapak sebenarnya tidak sakit. Ia hanya tak berdaya menanggung beban pikiran yang sangat berat baginya.
***
“Sebenarnya apa yang Bapak pikirkan?” tanyaku suatu malam kepada bapak, mencoba membuka percakapan yang serius dengan harapan, bapak mau berterus terang membuka segala yang selama ini dipendamnya.
“Mengapa kau berpikir bahwa sakit bapak disebabkan oleh beban pikiran?”
Aku gemas mendengar jawaban bapak yang berupa pertanyaan balik.
“Aku justru ingin bertanya, mengapa kau tak kunjung menikah? Berapa umurmu sekarang? Mau menunggu apa lagi? Pekerjaan sudah mapan, gaji lumayan…menikahlah dan rumah ini bisa kau tempati.”
Aku menghempaskan nafas kekesalan yang tak tertahankan.
“Pak, ini kita bicara tentang sakit bapak. Kenapa bapak malah ngomong macam-macam?”
Kulihat wajah bapak menatap tegak lurus ke langit-langit kamar. Pandangannya kosong. Beberapa detik aku menunggu bapak bicara. Tapi, sampai terhitung menit, hanya kesunyian yang lewat.
“Pak, bapak jangan menutupi persoalan yang sesungguhnya. Bapak sakit karena mikirin istri bapak, maksudku, mikirin ibu. Mengapa bapak tak mencoba mengambil keputusan sebelum segalanya terlambat? Bapak tinggal mengatakan apa yang bapak inginkan saat ini, dan saya akan berusaha mewujudkannya. Misalnya, kalau bapak ingin kembali ke Solo dan menghabiskan sisa umur bapak di sana…”
Mata bapak terpejam. Nafasnya berbunyi layaknya sebuah dengkuran. Ternyata bapak tidak mendengar apa yang kukatakan.
***
Seandainya tak pernah ada pertemuan kembali dengan bapak, barangkali aku tak perlu menanggung beban seperti sekarang ini. Istri bapak sudah benar-benar tak pernah pulang ke rumah. Bapak mulai bicara tentang karma. Dulu aku meninggalkan ibumu, sekarang…tapi, aku tak mau berpikir apa pun. Aku hanya menyesali kenapa harus aku juga yang akhirnya harus mengurus bapakku di masa tuanya. Aku benci jika teringat dulu ia meninggalkan kami dan menyebabkan ibu meninggal lebih cepat. Aku benci jika teringat dalam usiaku yang baru 10 tahun aku sudah tak memiliki seorang lelaki yang bisa kupanggil bapak dengan penuh kemanjaan layaknya anak-anak sebayaku.
Pagi itu, segala kebencian dan dendam menyumbat otakku ketika kakiku bergerak keluar dari kamarku, dan masuk ke kamar bapakku. Kulihat sarung basah bau pesing terserak di lantai. Tubuh bapak telanjang bulat di atas kasur yang spreinya tersingkap ke mana-mana dan penuh ceceran tahi. Untuk pertama kalinya perutku terasa mual menyaksikan semua itu. Pandanganku gelap oleh rasa pusing yang membelit kepalaku. Dalam kegelapan itu, aku tak bisa melihat dengan jelas apakah bapak sudah bangun. Yang kulihat hanya gundukan tahi yang menggunung, dan kuraup bersama dengan sprei yang teronggok di atas kasur. Kumasukkan sprei bersama sarung ke dalam ember dan kuinjak-injak agar lebih mampat, lalu kuseret ember penuh tahi ke kamar mandi dan kusiram berjam-jam dengan air yang mengucur dari kran, sambil terus kuinjak-injak.
Menjelang siang, aku terduduk kelelahan di dapur sambil kuketik SMS di layar HP-ku: teman-teman, bapakku telah meninggal dengan tenang pagi ini.
Kulihat mata bapak terpejam, tapi aku menduga ia belum tidur. Telapak tangannya yang memeluk bantal di atas perutnya bergerak-gerak, seolah mengikuti ketukan sebuah irama musik yang tengah mengalun. Tapi, tak ada suara di kamar itu selain desah napas bapak yang beraturan, yang menyebabkan perutnya yang buncit tertutup bantal bergerak naik-turun. Tubuh bapak hanya terbalut kain sarung yang menutupi sebagian perut hingga bawah lututnya. Kulihat sarung bapak basah, tentu oleh air kencing.
Kuurungkan niatku untuk menyapanya. Kubalikkan badanku, tapi sebelum tanganku mencapai gagang pintu, kudengar bapak memanggilku.
“Lintang, kok belum tidur?”
Aku berbalik dan kembali mendekat.
“Bapak juga belum tidur?”
“Jangan khawatirkan bapak,”
“Saya hanya mau memastikan apakah bapak baik-baik saja.”
“Mana mungkin aku baik-baik saja anakku? Separo badanku lumpuh, aku tak bisa ke mana-mana selain berbaring di tempat tidur seperti kain basah yang teronggok…”
“Pak! Maksudku, saya ingin memastikan apakah bapak sudah tidur.”
“Bagaimana orang bisa tidur di atas kasur yang basah dan bau pesing ompolnya sendiri.”
“Sini, Pak, biar saya ganti sarung Bapak.”
“Tidak usah, nak, percuma, sebentar lagi bapak pasti akan kencing lagi, dan terus kencing lagi sepanjang malam.”
“Mestinya bapak kalau mau kencing bangun, dan kencing di pispot yang sudah saya sediakan.”
“Bapak nggak pernah tahu kapan akan kencing, selalu saja tiba-tiba kasur di bawah paha bapak sudah basah.”
Aku menghela napas paling berat yang bisa dihela oleh orang yang tengah mengahadapi sebuah kenyataan terpahit dalam hidupnya.
“Ya, sudah, Pak, tidur, kalau perlu apa-apa panggil saya.”
“Kamu nggak pernah mendengar kalau Bapak panggil.”
“Mungkin suara Bapak kurang keras.”
***
Aku bangun dengan ingatan pada Bapak. Sejak dulu aku selalu memendam ketakutan tertentu pada orang sakit. Entahlah, aku selalu berpikir, orang sakit akan meninggal pada pagi hari. Maka, inilah kesibukanku setiap pagi sejak bapak mengalami kelumpuhan pada separo badannya: terburu-buru membuka pintu kamar bapak dan memastikan apakah perutnya yang buncit masih bergerak naik-turun sebagai pertanda bahwa ia masih bernafas.
Biasanya, bapak masih tidur ketika aku menenggoknya pertama kali pada pagi hari. Bila begitu, aku akan kembali ke kamar, melanjutkan tidurku barang satu atau dua jam. Ketika aku bangun lagi, kutengok kembali kamar bapak dan biasanya kudapati bapak sudah bangun.
Dan, kumulailah ritual yang sebelumnya tak pernah kubayangkan akan kulakukan sepanjang hidupku: mengganti sprei penuh tahi dan air kencing, dan mengelap seluruh tubuh bapak dengan handuk basah. Setelah itu, kubikinkan bapak sarapan. Biasanya dua gulung omelet dan secangkir kopi. Aku juga membuat sarapan yang sama untuk diriku sendiri. Tapi, pada hari ketiga sakitnya, ia minta nasi uduk. Kalang kabut aku mencari nasi uduk pada pukul 8 pagi seperti itu. Setelah bertanya kepada tetangga sebelah, aku berhasil menemukan warung nasi uduk di dekat pasar tak jauh dari rumah.
Tiba-tiba aku merasa telah menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus sebuah keluarga. Tapi, setelah kupikir lagi, tak seharusnya aku punya perasaan seperti itu. Aku hanyalah anak bapakku, yang kini sehari-hari tergolek tak berdaya di tempat tidur. Siapa lagi yang akan mengurusnya kalau bukan aku? Para tetangga, terutama ibu-ibu yang suka berkumpul dan menggosip, saling berbisik menyatakan keheranannya atas apa yang kulakukan. Lelaki semuda itu, bagaimana bisa begitu telaten mengurus orangtua yang sudah jompo. Yang lain kudengar bilang, benar-benar anak yang tahu balas budi pada orangtua. Yang lain lagi menambahi, sudah cakep, karier mapan, berhati mulia pula. Mereka tentu tidak tahu, bagaimana sebenarnya perasaanku terhadap bapakku, bahkan sampai ketika ia sudah seminggu terbaring tak berdaya layaknya bayi merah yang baru lahir.
***
Ketika umurku masih 10 tahun, bapak meninggalkan kami –aku dan ibu. Sejak itu, ibu jadi sakit-sakitan. Lebih-lebih setelah mendengar kabar bahwa bapak menikah lagi dengan perempuan di kota lain. Tak kuat menanggung sakit hati, ibu pun meninggal dalam kekecewaan dan beban pikiran. Umurku sudah 14 tahun waktu itu, dan aku sudah bisa membenci ayahku. Bertahun-tahun aku membencinya, namun ketika lulus kuliah dan mendapat pangilan kerja di kota yang sama dengan bapakku tinggal, aku jadi ingin bertemu dengannya. Entahlah, kebencianku seperti berubah menjadi kerinduan. Bagaimana pun aku pernah punya bapak.
Akhirnya kutemukan bapakku, yang ternyata juga merindukanku. Lalu bapak memintaku tinggal bersama di rumahnya. Aku bersedia karena bapak tak memiliki anak lagi dengan istri barunya itu, seorang perempuan yang masih muda dan cantik. Empatbelas tahun lebih muda daripada bapak. Tapi, aku tetap memanggilnya ibu. Ia baik sekali padaku, begitu memperhatikanku seolah anak kandungnya sendiri. Lalu bapak pun beranjak tua dan mulai sakit-sakitan. Dan, istrinya yang masih muda dan cantik itu nafsunya masih begitu membara. Aku mulai mencium gelagat yang tidak baik, dan tetangga-tetangga pun mulai menggosip tentang istri bapak yang punya demenan lagi.
Dan, kenyataannya, istri bapak mulai jarang pulang. Tapi, bapak mencoba menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi dengan mengatakan, ibumu menginap di rumah teman pengajiannya. Aku geram dengan ketakberdayaan bapak. Sehari setelah bapak benar-benar sudah ambruk tak berdaya, aku membawanya ke rumah sakit. Tepatnya, aku memaksanya karena bapak bersikeras tidak mau berobat. Sebenarnya memang boleh dibilang percuma membawa bapak ke rumah sakit, karena bapak sebenarnya tidak sakit. Ia hanya tak berdaya menanggung beban pikiran yang sangat berat baginya.
***
“Sebenarnya apa yang Bapak pikirkan?” tanyaku suatu malam kepada bapak, mencoba membuka percakapan yang serius dengan harapan, bapak mau berterus terang membuka segala yang selama ini dipendamnya.
“Mengapa kau berpikir bahwa sakit bapak disebabkan oleh beban pikiran?”
Aku gemas mendengar jawaban bapak yang berupa pertanyaan balik.
“Aku justru ingin bertanya, mengapa kau tak kunjung menikah? Berapa umurmu sekarang? Mau menunggu apa lagi? Pekerjaan sudah mapan, gaji lumayan…menikahlah dan rumah ini bisa kau tempati.”
Aku menghempaskan nafas kekesalan yang tak tertahankan.
“Pak, ini kita bicara tentang sakit bapak. Kenapa bapak malah ngomong macam-macam?”
Kulihat wajah bapak menatap tegak lurus ke langit-langit kamar. Pandangannya kosong. Beberapa detik aku menunggu bapak bicara. Tapi, sampai terhitung menit, hanya kesunyian yang lewat.
“Pak, bapak jangan menutupi persoalan yang sesungguhnya. Bapak sakit karena mikirin istri bapak, maksudku, mikirin ibu. Mengapa bapak tak mencoba mengambil keputusan sebelum segalanya terlambat? Bapak tinggal mengatakan apa yang bapak inginkan saat ini, dan saya akan berusaha mewujudkannya. Misalnya, kalau bapak ingin kembali ke Solo dan menghabiskan sisa umur bapak di sana…”
Mata bapak terpejam. Nafasnya berbunyi layaknya sebuah dengkuran. Ternyata bapak tidak mendengar apa yang kukatakan.
***
Seandainya tak pernah ada pertemuan kembali dengan bapak, barangkali aku tak perlu menanggung beban seperti sekarang ini. Istri bapak sudah benar-benar tak pernah pulang ke rumah. Bapak mulai bicara tentang karma. Dulu aku meninggalkan ibumu, sekarang…tapi, aku tak mau berpikir apa pun. Aku hanya menyesali kenapa harus aku juga yang akhirnya harus mengurus bapakku di masa tuanya. Aku benci jika teringat dulu ia meninggalkan kami dan menyebabkan ibu meninggal lebih cepat. Aku benci jika teringat dalam usiaku yang baru 10 tahun aku sudah tak memiliki seorang lelaki yang bisa kupanggil bapak dengan penuh kemanjaan layaknya anak-anak sebayaku.
Pagi itu, segala kebencian dan dendam menyumbat otakku ketika kakiku bergerak keluar dari kamarku, dan masuk ke kamar bapakku. Kulihat sarung basah bau pesing terserak di lantai. Tubuh bapak telanjang bulat di atas kasur yang spreinya tersingkap ke mana-mana dan penuh ceceran tahi. Untuk pertama kalinya perutku terasa mual menyaksikan semua itu. Pandanganku gelap oleh rasa pusing yang membelit kepalaku. Dalam kegelapan itu, aku tak bisa melihat dengan jelas apakah bapak sudah bangun. Yang kulihat hanya gundukan tahi yang menggunung, dan kuraup bersama dengan sprei yang teronggok di atas kasur. Kumasukkan sprei bersama sarung ke dalam ember dan kuinjak-injak agar lebih mampat, lalu kuseret ember penuh tahi ke kamar mandi dan kusiram berjam-jam dengan air yang mengucur dari kran, sambil terus kuinjak-injak.
Menjelang siang, aku terduduk kelelahan di dapur sambil kuketik SMS di layar HP-ku: teman-teman, bapakku telah meninggal dengan tenang pagi ini.
Selengkapnya!
