Teks, Perspektif, Penyimpangan
Sapardi Joko Damono suatu kali pernah disibukkan dengan problem pembacaan berkaitan dengan ideologi gender yang tersirat di balik sebuah teks, ketika menghadapi cerpen-cerpen Linda Christanty. “Sebagai (pembaca) laki-laki, sulit bagi saya membayangkan, dagu (laki-laki) kok seksi.” Ujaran Sapardi itu merujuk pada cerpen berjudul Lubang Hitam (dalam Kuda Terbang Maria Pinto, Jakarta: Katakita, 2004), pada bagian ketika tokoh perempuan bernama Tina “tak berkedip menatap pria itu…jejak cukuran kumis si pria yang kehijauan membuat dagu belahnya tampak seksi.” Apakah Sapardi harus menjadi perempuan, seperti Tina, untuk bisa menyelami teks tersebut?
Membaca imajinasi penulis-penulis generasi sekarang, dan dalam pembicaraan ini khususnya yang berjenis kelamin perempuan, agaknya memerlukan perspektif baru yang mampu memaknai teks secara “benar”. Dalam sebagian besar karya-karya mereka –sebutlah penulis generasi (setelah) Ayu Utami- kita akan mendapati sebuah dunia, orang-orang, berikut alam pikirannya yang sama sekali berbeda. Sebagai gambaran awal, ada baiknya kita tengok lebih dalam cerpen Linda tadi. Tina adalah perempuan yang percaya bahwa nenek moyang manusia itu ikan. Tapi, Tante Sin, adik ibunya, menyebut binatang lain ketika beberapa kali bicara tentang laki-laki. Jangan percaya pria. Mereka semua kucing pada dasarnya. Tina pun jadi berpikir, ayah juga kucing. Dan, Tina kemudian memang mendengar dan melihat sendiri lebih banyak lagi: ayahnya punya perempuan simpanan. Ibunya juga punya lelaki lain, tapi mereka tewas dalam kecelakaan mobil. Anehnya, setelah ibu meninggal, hubungan ayah dan kekasih gelapnya itu justru bubar jalan. Pada suatu hari, ayah yang sedang mabuk memperkosa Rena, kakak Tina. Di hadapan sang adik, Rena menangis dan berkata, “Ayah sudah minta maaf, tapi aku ingin lagi.”
Alkisah, setelah itu, Tina melanjutkan kulihnya ke Australia dan di sana ia pacaran dengan (sesama) perempuan, bernama Natalie. Tepat setelah ia lulus, datang kabar bahwa ayah mati mendadak. Tina pun pulang, meninggalkan Natalie. Di kampung halaman, Tina bertemu dan berkenalan dengan seorang pria peniup saksofon di sebuah kafe. Tepat setahun setelah kematian Ayah, Tina melahirkan bayi dari hasil hubungannya dengan sang pria. Tapi, pria itu sudah pergi sejak bulan pertama kehamilan Tina. Sedih? Tidak. Sejak awal mereka sepakat having fun. Dan, bayi itu mati dalam kandungan.
Di tangan Linda, cerpen adalah kerumitan yang luar biasa yang dijalin dari kejadian-kejadian yang tak biasa pula. Teks bagaikan lalu lintas informasi yang riuh, susul-menyusul, seperti keping-keping mozaik yang tak beraturan. Apa yang disebut sebagai peristiwa, jika memang ada, bukanlah sesuatu yang terjadi saat ini, melainkan hadir sebagai tuturan kisah dari masing-masing tokohnya, dalam bentuk ingatan-ingatan yang datang kembali secara acak. Tiba-tiba ia masih anak usia dua tahun, berbaju katun motif ikan mas koki bordiran, sedang makan telur rebus. Tiba-tiba dia sudah terlempar pada tahun yang sekarang, minum anggur di kamar hotel. Ingatan manusia berlaku acak.
Tokoh-tokoh, dalam cerpen Linda, merupakan semesta pembicaraan yang lain, yang tak kalah rumit dibandingkan dengan hubungan-hubungan antartokoh itu sendiri. Rena misalnya, sejak kanak-kanak sudah beberapa kali dibawa ke psikiater karena menderita skizofrenia paranoia. Ia pernah mencoba mencekik pembantu di rumah, lari bugil keliling rumah dan mengaduk-aduk kotorannya sendiri di lantai ruang tamu. Ketika dewasa, oleh sang ayah Rena dijodohkan dengan keponakan jauh, tapi pernikahan mereka hancur, dan Rena menjadi janda. Belakangan Rena mengaku, dialah sebenarnya yang membunuh ayah, dengan mencampurkan pil tidur dalam whisky. Cerpen ini ditutup dengan kisah Tina yang kemudian menjalin hubungan dengan Lilian. Dia bertemu Lilian dua minggu lalu di sebuah galeri. Mereka saling jatuh cinta. Tapi, tak ada yang bisa menggantikan Natalie. Di akhir cerita, Tina bunuh diri dengan terjun dari jendela kamar lantai atas, pada pagi hari setelah semalaman bercinta dengan Lilian.
***
Cerpen Lubang Hitam karya Linda adalah sebuah panggung bagi pribadi-pribadi dengan biografi yang kelam, yang lahir dari sebuah keluarga yang jauh dari gambaran ideal tentang keluarga bahagia dalam buku pelajaran sekolah atau iklan teh celup. Salah satu hasil dari keluarga yang carut-marut itu adalah lahirnya sosok-sosok yang punya kecenderungan sakit jiwa. Termasuk di dalamnya, kalau kita baca teks Linda, individu yang memiliki orientasi seksual yang dalam ukuran normal dianggap menyimpang.
Panorama imajinasi yang sama tampak dalam cerpen Ucu Agustin berjudul Anak yang Ber-Rahasia (dalam Rahasia Bulan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006). Ayah dalam cerpen ini punya perilaku yang sama dengan ayah dalam cerpen Linda: ia memerkosa anaknya sendiri. Bedanya, dalam cerpen Ucu, anak yang diperkosa oleh sang ayah itu laki-laki. Hal itu terjadi ketika usia sang anak delapan tahun. Dua bulan setelah ulang tahunnya yang ke duapuluh ia pergi. Setelah itu dikisahkan, ia berpacaran dengan (sesama) laki-laki. Tak pelak, cerpen ini menghadirkan kesimpulan tunggal bahwa homoseksualitas tokoh tersebut disebabkan oleh trauma psikologis masa lalu akibat peristiwa perkosaan oleh ayahnya sendiri itu. Pada Linda, biseksualitas tokoh Tina kemungkinan besar disebabkan oleh keluarganya yang berantakan, ditambah dengan peringatan tantenya tentang ‘semua pria kucing’.
Dalam nafas yang masih kurang-lebih sama, tokoh lesbian dalam cerpen Stefanny Irawan, Ketika Hangat Lupa Pulang pada Teh (dalam Tak Ada Kelinci di Bulan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006) punya masa lalu yang agak berbeda. Waktu masih kecil, ‘aku’ sering diajak ayahnya makan mie ayam di sebuah warung yang merangkap sebagai tempat semacam lokalisasi bagi laki-laki penggemar seks kilat. Suatu hari, ‘aku’ memegorki ayahnya sedang melakukannya dengan seorang perempuan di kamar belakang warung. Agak susah mengaitkan kejadian masa lalu itu dengan homoseksualitas sang ‘aku’ ketika ia dewasa. Tapi, penekanan cerpen Stefanny memang bukan pada homoseksualitasnya itu sendiri, melainkan pada sensasi seks kilat yang memerlukan strategi tersendiri agar tidak kepergok orang, termasuk anaknya sendiri.
Dan, sebagaimana Linda dan Ucu, Stefanny juga sama sekali tidak memberikan klaim eksplisit tentang orientasi seksual tokohnya. Tak ada kata lesbian, dan pada kenyataannya, tokoh ‘aku’ pada cerpen Stefanny punya anak. Ada kemungkinan dia biseksual juga seperti Tina dalan cerpen Linda, tapi kemungkinan lain juga bisa terjadi: bisa saja anak itu hasil adopsi setelah ‘aku’ memutuskan untuk hanya berhubungan dengan perempuan, yang oleh sang anak dipanggil ‘tante’ itu. Dengan demikian, tokoh-tokoh dan cerita dalam cerpen-cerpen tersebut memang memerlukan pembacaan secara kritis, dengan menimbang berbagai kemungkinan karena teks-nya sendiri menolak untuk berterus-terang. Mungkin inilah salah satu ciri karya sastra, dengan kesengajaan memberikan ambiguitas pada pembacanya untuk memperkaya pemaknaan.
Masalahnya sekarang, sudah siapkan kita dengan perspektif yang memadai untuk melihat teks-teks semacam itu? Saya jadi teringat bagaimana Maman S Mahayana membedah novel N Riantiarno, Cermin Merah (Jakarta: Grasindo, 2004) yang secara eksplisit (jelas-jelas) menempelkan identitas gay pada tokoh-(tokoh)nya. Jangankan menelisik, apakah penokohan gay dalam novel itu memang substantif, atau hanya tempelan belaka, yang jika diganti dengan identitas lain tidak mengubah cerita. Maman bahkan masih hanya berputar-putar dalam terma-terma standar yang kabur, semisal “problem psikologis”, “letupan hasrat terpendam”, dan “percintaan menyimpang”. Bagi Maman, homoseksualitas tokoh novel tersebut tak lebih dari bagian tema besar tentang penyimpangan. Sumber segala penyimpangani itu adalah penculikan…yang dilegitimasi atas nama negara. Penyimpangan ini menular pada hubungan seks dan ekses lain.
Bagaimana kikuknya Sapardi membaca “dagu seksi” pada cerpen Linda sudah cukup membuktikan, bahwa perspektif perempuan yang selama ini sudah populer dan lazim untuk membaca teks karya sastra saja (ternyata) belum cukup diakrabi oleh kritikus. Sementara, di luar sana, dalam taman sastra kita telah berkembang subur teks-teks yang sudah tidak memadai lagi untuk sekedar dibaca dengan perspektif perempuan. Teks semacam yang disuguhkan Linda, Ucu dan Stefanny, dengan contoh cerpen masing-masing, secara khusus memerlukan perspektif homoseksual untuk memahaminya. Benarkah, misalnya, keluarga yang berantakan melahirkan anak-anak yang cenderung homoseks? Atau, sebaliknya, masih relevankah bicara homoseksualitas hanya sebatas problem trauma masalalu dan pengaruh lingkungan? Benarkah ada faktor-faktor yang bisa membuat seseorang menjadi gay, lesbian atau biseks? Di atas semua itu, apakah penulis-penulis kita memperlakukan tema homoseksualitas sebagai bagian dari wacana sosial-politik, atau (masih) sekedar melihatnya sebagai “tema kontroversial” -sehingga dengan menuliskannya sang sastrawan akan mendapat pujian tinggi sebagai “pendobrak tabu yang berani menyentuh tema-tema sensitif”?
Membaca imajinasi penulis-penulis generasi sekarang, dan dalam pembicaraan ini khususnya yang berjenis kelamin perempuan, agaknya memerlukan perspektif baru yang mampu memaknai teks secara “benar”. Dalam sebagian besar karya-karya mereka –sebutlah penulis generasi (setelah) Ayu Utami- kita akan mendapati sebuah dunia, orang-orang, berikut alam pikirannya yang sama sekali berbeda. Sebagai gambaran awal, ada baiknya kita tengok lebih dalam cerpen Linda tadi. Tina adalah perempuan yang percaya bahwa nenek moyang manusia itu ikan. Tapi, Tante Sin, adik ibunya, menyebut binatang lain ketika beberapa kali bicara tentang laki-laki. Jangan percaya pria. Mereka semua kucing pada dasarnya. Tina pun jadi berpikir, ayah juga kucing. Dan, Tina kemudian memang mendengar dan melihat sendiri lebih banyak lagi: ayahnya punya perempuan simpanan. Ibunya juga punya lelaki lain, tapi mereka tewas dalam kecelakaan mobil. Anehnya, setelah ibu meninggal, hubungan ayah dan kekasih gelapnya itu justru bubar jalan. Pada suatu hari, ayah yang sedang mabuk memperkosa Rena, kakak Tina. Di hadapan sang adik, Rena menangis dan berkata, “Ayah sudah minta maaf, tapi aku ingin lagi.”
Alkisah, setelah itu, Tina melanjutkan kulihnya ke Australia dan di sana ia pacaran dengan (sesama) perempuan, bernama Natalie. Tepat setelah ia lulus, datang kabar bahwa ayah mati mendadak. Tina pun pulang, meninggalkan Natalie. Di kampung halaman, Tina bertemu dan berkenalan dengan seorang pria peniup saksofon di sebuah kafe. Tepat setahun setelah kematian Ayah, Tina melahirkan bayi dari hasil hubungannya dengan sang pria. Tapi, pria itu sudah pergi sejak bulan pertama kehamilan Tina. Sedih? Tidak. Sejak awal mereka sepakat having fun. Dan, bayi itu mati dalam kandungan.
Di tangan Linda, cerpen adalah kerumitan yang luar biasa yang dijalin dari kejadian-kejadian yang tak biasa pula. Teks bagaikan lalu lintas informasi yang riuh, susul-menyusul, seperti keping-keping mozaik yang tak beraturan. Apa yang disebut sebagai peristiwa, jika memang ada, bukanlah sesuatu yang terjadi saat ini, melainkan hadir sebagai tuturan kisah dari masing-masing tokohnya, dalam bentuk ingatan-ingatan yang datang kembali secara acak. Tiba-tiba ia masih anak usia dua tahun, berbaju katun motif ikan mas koki bordiran, sedang makan telur rebus. Tiba-tiba dia sudah terlempar pada tahun yang sekarang, minum anggur di kamar hotel. Ingatan manusia berlaku acak.
Tokoh-tokoh, dalam cerpen Linda, merupakan semesta pembicaraan yang lain, yang tak kalah rumit dibandingkan dengan hubungan-hubungan antartokoh itu sendiri. Rena misalnya, sejak kanak-kanak sudah beberapa kali dibawa ke psikiater karena menderita skizofrenia paranoia. Ia pernah mencoba mencekik pembantu di rumah, lari bugil keliling rumah dan mengaduk-aduk kotorannya sendiri di lantai ruang tamu. Ketika dewasa, oleh sang ayah Rena dijodohkan dengan keponakan jauh, tapi pernikahan mereka hancur, dan Rena menjadi janda. Belakangan Rena mengaku, dialah sebenarnya yang membunuh ayah, dengan mencampurkan pil tidur dalam whisky. Cerpen ini ditutup dengan kisah Tina yang kemudian menjalin hubungan dengan Lilian. Dia bertemu Lilian dua minggu lalu di sebuah galeri. Mereka saling jatuh cinta. Tapi, tak ada yang bisa menggantikan Natalie. Di akhir cerita, Tina bunuh diri dengan terjun dari jendela kamar lantai atas, pada pagi hari setelah semalaman bercinta dengan Lilian.
***
Cerpen Lubang Hitam karya Linda adalah sebuah panggung bagi pribadi-pribadi dengan biografi yang kelam, yang lahir dari sebuah keluarga yang jauh dari gambaran ideal tentang keluarga bahagia dalam buku pelajaran sekolah atau iklan teh celup. Salah satu hasil dari keluarga yang carut-marut itu adalah lahirnya sosok-sosok yang punya kecenderungan sakit jiwa. Termasuk di dalamnya, kalau kita baca teks Linda, individu yang memiliki orientasi seksual yang dalam ukuran normal dianggap menyimpang.
Panorama imajinasi yang sama tampak dalam cerpen Ucu Agustin berjudul Anak yang Ber-Rahasia (dalam Rahasia Bulan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006). Ayah dalam cerpen ini punya perilaku yang sama dengan ayah dalam cerpen Linda: ia memerkosa anaknya sendiri. Bedanya, dalam cerpen Ucu, anak yang diperkosa oleh sang ayah itu laki-laki. Hal itu terjadi ketika usia sang anak delapan tahun. Dua bulan setelah ulang tahunnya yang ke duapuluh ia pergi. Setelah itu dikisahkan, ia berpacaran dengan (sesama) laki-laki. Tak pelak, cerpen ini menghadirkan kesimpulan tunggal bahwa homoseksualitas tokoh tersebut disebabkan oleh trauma psikologis masa lalu akibat peristiwa perkosaan oleh ayahnya sendiri itu. Pada Linda, biseksualitas tokoh Tina kemungkinan besar disebabkan oleh keluarganya yang berantakan, ditambah dengan peringatan tantenya tentang ‘semua pria kucing’.
Dalam nafas yang masih kurang-lebih sama, tokoh lesbian dalam cerpen Stefanny Irawan, Ketika Hangat Lupa Pulang pada Teh (dalam Tak Ada Kelinci di Bulan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006) punya masa lalu yang agak berbeda. Waktu masih kecil, ‘aku’ sering diajak ayahnya makan mie ayam di sebuah warung yang merangkap sebagai tempat semacam lokalisasi bagi laki-laki penggemar seks kilat. Suatu hari, ‘aku’ memegorki ayahnya sedang melakukannya dengan seorang perempuan di kamar belakang warung. Agak susah mengaitkan kejadian masa lalu itu dengan homoseksualitas sang ‘aku’ ketika ia dewasa. Tapi, penekanan cerpen Stefanny memang bukan pada homoseksualitasnya itu sendiri, melainkan pada sensasi seks kilat yang memerlukan strategi tersendiri agar tidak kepergok orang, termasuk anaknya sendiri.
Dan, sebagaimana Linda dan Ucu, Stefanny juga sama sekali tidak memberikan klaim eksplisit tentang orientasi seksual tokohnya. Tak ada kata lesbian, dan pada kenyataannya, tokoh ‘aku’ pada cerpen Stefanny punya anak. Ada kemungkinan dia biseksual juga seperti Tina dalan cerpen Linda, tapi kemungkinan lain juga bisa terjadi: bisa saja anak itu hasil adopsi setelah ‘aku’ memutuskan untuk hanya berhubungan dengan perempuan, yang oleh sang anak dipanggil ‘tante’ itu. Dengan demikian, tokoh-tokoh dan cerita dalam cerpen-cerpen tersebut memang memerlukan pembacaan secara kritis, dengan menimbang berbagai kemungkinan karena teks-nya sendiri menolak untuk berterus-terang. Mungkin inilah salah satu ciri karya sastra, dengan kesengajaan memberikan ambiguitas pada pembacanya untuk memperkaya pemaknaan.
Masalahnya sekarang, sudah siapkan kita dengan perspektif yang memadai untuk melihat teks-teks semacam itu? Saya jadi teringat bagaimana Maman S Mahayana membedah novel N Riantiarno, Cermin Merah (Jakarta: Grasindo, 2004) yang secara eksplisit (jelas-jelas) menempelkan identitas gay pada tokoh-(tokoh)nya. Jangankan menelisik, apakah penokohan gay dalam novel itu memang substantif, atau hanya tempelan belaka, yang jika diganti dengan identitas lain tidak mengubah cerita. Maman bahkan masih hanya berputar-putar dalam terma-terma standar yang kabur, semisal “problem psikologis”, “letupan hasrat terpendam”, dan “percintaan menyimpang”. Bagi Maman, homoseksualitas tokoh novel tersebut tak lebih dari bagian tema besar tentang penyimpangan. Sumber segala penyimpangani itu adalah penculikan…yang dilegitimasi atas nama negara. Penyimpangan ini menular pada hubungan seks dan ekses lain.
Bagaimana kikuknya Sapardi membaca “dagu seksi” pada cerpen Linda sudah cukup membuktikan, bahwa perspektif perempuan yang selama ini sudah populer dan lazim untuk membaca teks karya sastra saja (ternyata) belum cukup diakrabi oleh kritikus. Sementara, di luar sana, dalam taman sastra kita telah berkembang subur teks-teks yang sudah tidak memadai lagi untuk sekedar dibaca dengan perspektif perempuan. Teks semacam yang disuguhkan Linda, Ucu dan Stefanny, dengan contoh cerpen masing-masing, secara khusus memerlukan perspektif homoseksual untuk memahaminya. Benarkah, misalnya, keluarga yang berantakan melahirkan anak-anak yang cenderung homoseks? Atau, sebaliknya, masih relevankah bicara homoseksualitas hanya sebatas problem trauma masalalu dan pengaruh lingkungan? Benarkah ada faktor-faktor yang bisa membuat seseorang menjadi gay, lesbian atau biseks? Di atas semua itu, apakah penulis-penulis kita memperlakukan tema homoseksualitas sebagai bagian dari wacana sosial-politik, atau (masih) sekedar melihatnya sebagai “tema kontroversial” -sehingga dengan menuliskannya sang sastrawan akan mendapat pujian tinggi sebagai “pendobrak tabu yang berani menyentuh tema-tema sensitif”?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home