dari sudut lain memandang dunia

Thursday, July 06, 2006

Lesbianisme dan Paradoks Kebahagiaan

Program I-sinema Anteve edisi Selasa (4/7/06) menggulirkan film yang diangkat dari novel karya Alberthiene Endah, Dincintai Jo (Jakarta: Gramedia, 2005). Bersetia pada novelnya, film dibuka dengan pertemuan dua tokoh utamanya, Santi dan Jo di acara pembukaan pameran fotografi. Santi seorang wartawan, dan Jo fotografer. Bagi yang sudah membaca novelnya bisa langsung menebak kelanjutannya. Namun, bagi yang belum pun, kiranya tak teramat susah untuk meraba ke mana arah cerita film ini. Yakni, sejak kita menyaksikan sosok Jo yang stereotip: cewek kelaki-lakian berambut cepak, dengan tatapan mata dan ekspresi wajah yang berbinar-binar saat menghadapi lawan bicaranya, yang sama-sama perempuan itu.

Ya sudah, kita langsung melompat ke bagian ending-nya saja, yang menurut saya cukup menarik: ketika Santi telah menemukan titik kesadaran bahwa ia tak bisa hidup tanpa Jo, justru Jo kini yang tampil dengan kesadaran lain. Dengan arif ia mengakui dirinya selama ini begitu egois karena memanfaatkan keluguan dan keterpurukan Santi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Mendengar itu, Santi mencoba meyakinkan bahwa ia juga mencintai Jo, tapi Jo tetap bersikeras, dengan penegasan: bagi seorang lesbian seperti saya, memaksakan cinta itu sesuatu yang nista.

Tapi, Jo tidak sepenuhnya jujur. Nyatanya, setelah meninggalkan Santi dan masuk ke mobil, ia berkali memukul-mukul stir mobilnya, menumpahkan kekecewaan dan kekesalannya. Kita bisa membacanya sebagai ungkapan ketakberdayaannya merebut kebahagiaan dirinya sendiri: mengapa ketika Santi yang selama ini dikejarnya telah bisa menerima cintanya, ia justru tak punya nyali untuk merengkuhnya, dan justru “sok-bijak” berpetuah tentang ‘cinta yang tak bisa dipaksakan’? Bila Santi sendiri sudah mengakui ‘tidak bisa hidup tanpamu’, mengapa ia justru masih merasa memaksa?

Dicintai Jo menurut saya cukup baik menampilkan sisi paradoks kebahagiaan. Betapa selama ini kita jatuh bangun memburunya, mengejarnya sampai ke ujung dunia dengan segala cara, namun ketika kita berhasil menemukannya di depan mata, begitu dekat dan nyata, dan kita tinggal menjulurkan tangan untuk menjangkaunya, ternyata kita justru tidak siap. Kebahagiaan yang sebelumnya kita impikan, ketika sudah mewujud nyata, tiba-tiba tampak begitu menakutkan. Ternyata kita takut bahagia. Apakah ini problematika khas seorang lesbian?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home