Brokeback Mountain: Muara Ironi
Menerjemahkan sebuah cerita pendek asing ke dalam Bahasa Indonesia dan menerbitkannya dalam sebuah buku barangkali bukan hal yang cukup lazim. Betapa pun “panjang”-nya cerpen tersebut, dan cukup “pantas” untuk dikemas menjadi buku yang berdiri sendiri, bila hal itu dilakukan tetaplah akan menyisakan tanda tanya. Tapi, cerpen “Brokeback Mountain” karya Annie Proulx yang pertama kali dipublikasikan di The New Yorker pada 1997 ini memang terlalu menggoda untuk tidak diterjemahkan -dan kita semua sudah tahu sebabnya. Pertanyaan susulan: mengapa tidak diterjemahkan bersama-sama dengan cerpen Proulx lainnya yang terhimpun dalam Close Range: Wyoming Stories (1999)?
Saya menduga, godaan untuk menerjemahkan dan menerbitkan “Brokeback Montain” ini lebih bersifat ekonomi ketimbang, misalnya ideologis. Meskipun Gramedia Pustaka Utama (GPU) belakangan ini dikenal termasuk salah satu penerbit yang terdepan dalam membantu meningkatkan produksi wacana homoseksualitas melalui karya fiksi, tapi dalam “kasus” cerpen Proulx ini justru agak sulit membayangkan bahwa hal itu dilakukan secara sengaja untuk ikut memperjuangkan eksistensi kaum homoseksual di Indonesia dalam level wacana. Meskipun, memang, tak ada tuntutan juga untuk memenuhi hal itu. Tapi, setidaknya, ini cukup menjadi penjelasan paling awal betapa “Brokeback Mountain” telah menjadi ironi besar, muara dari begitu banyak ironi yang selalu menyelimuti wacana homoseksualitas.
Puncak dari segala ironi itu terjadi pada perhelatan Piala Oscar, 6 Maret lalu, ketika film yang diangkat dari cerpen tersebut, yang dijagokan dan diyakini oleh “seluruh dunia” akan memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik, ternyata tidak terbukti. Proulx, lewat “Brokeback Mountain” telah membuat homoseksualitas menjadi begitu “normal”, begitu wajar dan alami, dan dengan demikian begitu mudah diterima oleh semua orang. Tapi, untuk diakui “kebenarannya”, ternyata, nanti dulu! Orang mulai bicara tentang cinta-yang-universal, cinta-yang-mengatasi-jenis-kelamin, tapi tetap menyembunyikan homoseksualitas itu sendiri. Orang masih takut dengan formalitas istilah, dengan 'label' resmi. Tak ada yang pernah menyebut Ennis maupun Jack -dua koboi dalam cerpen yang sedang dibicarakan ini sebagai gay.
Proulx sendiri tak sekalipun menggunakan istilah itu dalam cerpennya ini. Sebab, pada tahun itu, 1963, ketika Ennis dan Jack pertama kali bertemu, kata 'gay' memang belum populer, bahkan mungkin belum ada. Tapi, hubungan mereka kemudian berlanjut, setelah keduanya sempat berpisah dan masing-masing beristri dan beranak, sampai tahun 1980-an, jauh setelah gerakan-gerakan kaum gay marak di Amerika menuntut persamaan hak. Bahkan, ketika mereka bertemu lagi setelah empat tahun berpisah itu, Ennis masih berkata, “Aku tahu aku bukan begitu...” Jauh sebelum itu, ketika mereka baru pertama kali terlibat dalam pengalaman seksual berdua, masing-masing menegaskan diri dengan perkataan, “Aku bukan banci.” Tapi, apa yang bergejolak di dalam hati tak bisa diingkari.
Ketika keduanya bertemu lagi, pertautan perasaan di antara mereka makin menebal bahkan sampai membuat Ennis, dalam bahasa Serat Centhini, “melupakan kenikmatan tubuh istrinya”. Hingga akhirnya rumah tangga Ennis pun bubar dan api asmaranya untuk Jack makin berkobar. Mulai ada rasa cemburu, yang memuncak dengan pertengkaran ketika Ennis bertanya apakah Jack pernah ke Meksiko. Proulx melukiskan pentingnya pembicaraan ini: Meksiko adalah tempatnya. Ennis pernah mendengarnya. Dia melangar batas sekarang, memasuki topik berbahaya.
Ternyata, selama mereka berpisah, Jack berhubungan seks dengan lelaki lain. Ennis marah, tapi Jack tak mau disalahkan, dan Proulx melukiskan konflik ini dengan dialog yang indah, meluap-luap dan menyentuh. Dan, sejauh itu, Proulx tak pernah mengklaim karyanya ini sebagai “cerpen-gay”. Ia hanya memaksudkannya sebagai bagian dari cerpen-cerpen “observasi-sosial” yang diangkatnya dalam kumpulan “Closing Range” -tak ada misi khusus, tak ada pesan khusus. Tapi, sebuah teks tetap saja -dan memang sudah semestinya- bisa dianalisis berdasarkan teks-nya itu sendiri, dan bukan berdasarkan kemauan pengarangnya. Kalau sebagai karya film, “Brokeback Mountain” betapapun masih dianggap terlalu kontroversial untuk Amerika, maka sebagai cerita pendek yang tercetak dalam lembar-lembar buku, ia telah melelehkan kebekuan wacana homoseksual dalam fiksi.
Pada akhirnya, ironi-ironi tadi kemudian terbayar dengan kekuatan teks-nya sendiri. “Brokeback Mountain” karya Proulx telah menggugurkan dekor-dekor stereotip yang selalu “menghiasi” fiksi-fiksi bertema homoseksual. Sepasang cowok yang jatuh cinta pastilah terdiri atas satu cowok macho dan satu cowok lemah-lembut. Dalam sejumlah novel gay yang terbit di Tanah Air, seperti “Kaubunuh Aku dengan Cinta” (Andy Lotex), “Manusia-manusia” (Bagus Utama), “Lelaki Terindah” (Andrei Aksana) hingga “Ini Dia, Hidup” (Ezinky), stereotipisasi itu bahkan terjatuh ke dalam tindakan bunuh diri teks yang fatal: novel-novel dengan tokoh gay itu justru menjadi arena homofobia baru, yang menegaskan kembali norma heteroseksual. Sedangkan Proulx melangkah sangat jauh -ia seperti membuat eksperimen untuk memancing reaksi homofobia langsung ke “pusatnya”: memainkan tokoh-tokoh gay di panggung subkultur yang tertutup, angkuh dan eksklusif bernama koboi.
Abidah El-khaliqy pernah membuat “eksperimen” serupa lewat “Geni Jora” yang memenangkan hadiah kedua Sayembara Novel DKJ 2003. Tapi, ia tak hanya gagal total, melainkan terjerembab dengan pretensinya sendiri. Dalam novel tersebut, secara sekilas-tipis Abidah sempat menyingkap tabir sakral subkultur pesantren perempuan, yang ternyata tak kalis dengan praktik homoseksualitas, dalam hal ini lesbianisme. Novel ini menyimpan potensi untuk menjadi kekuatan yang mendobrak macam “Brokeback Mountain”, sendainya saja Abidah bisa jujur dengan dirinya sendiri. Tapi, seperti kebanyakan penulis lain di Indonesia, ia tidak: ia mengungkap lesbianisme di pesantren dengan tujuan untuk menolaknya, menyembunyikannya. Proulx sebaliknya, mengungkap realitas sebagaimana adanya, tanpa pretensi moral untuk mengomentarinya. Itulah tugas sastra.
Saya menduga, godaan untuk menerjemahkan dan menerbitkan “Brokeback Montain” ini lebih bersifat ekonomi ketimbang, misalnya ideologis. Meskipun Gramedia Pustaka Utama (GPU) belakangan ini dikenal termasuk salah satu penerbit yang terdepan dalam membantu meningkatkan produksi wacana homoseksualitas melalui karya fiksi, tapi dalam “kasus” cerpen Proulx ini justru agak sulit membayangkan bahwa hal itu dilakukan secara sengaja untuk ikut memperjuangkan eksistensi kaum homoseksual di Indonesia dalam level wacana. Meskipun, memang, tak ada tuntutan juga untuk memenuhi hal itu. Tapi, setidaknya, ini cukup menjadi penjelasan paling awal betapa “Brokeback Mountain” telah menjadi ironi besar, muara dari begitu banyak ironi yang selalu menyelimuti wacana homoseksualitas.
Puncak dari segala ironi itu terjadi pada perhelatan Piala Oscar, 6 Maret lalu, ketika film yang diangkat dari cerpen tersebut, yang dijagokan dan diyakini oleh “seluruh dunia” akan memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik, ternyata tidak terbukti. Proulx, lewat “Brokeback Mountain” telah membuat homoseksualitas menjadi begitu “normal”, begitu wajar dan alami, dan dengan demikian begitu mudah diterima oleh semua orang. Tapi, untuk diakui “kebenarannya”, ternyata, nanti dulu! Orang mulai bicara tentang cinta-yang-universal, cinta-yang-mengatasi-jenis-kelamin, tapi tetap menyembunyikan homoseksualitas itu sendiri. Orang masih takut dengan formalitas istilah, dengan 'label' resmi. Tak ada yang pernah menyebut Ennis maupun Jack -dua koboi dalam cerpen yang sedang dibicarakan ini sebagai gay.
Proulx sendiri tak sekalipun menggunakan istilah itu dalam cerpennya ini. Sebab, pada tahun itu, 1963, ketika Ennis dan Jack pertama kali bertemu, kata 'gay' memang belum populer, bahkan mungkin belum ada. Tapi, hubungan mereka kemudian berlanjut, setelah keduanya sempat berpisah dan masing-masing beristri dan beranak, sampai tahun 1980-an, jauh setelah gerakan-gerakan kaum gay marak di Amerika menuntut persamaan hak. Bahkan, ketika mereka bertemu lagi setelah empat tahun berpisah itu, Ennis masih berkata, “Aku tahu aku bukan begitu...” Jauh sebelum itu, ketika mereka baru pertama kali terlibat dalam pengalaman seksual berdua, masing-masing menegaskan diri dengan perkataan, “Aku bukan banci.” Tapi, apa yang bergejolak di dalam hati tak bisa diingkari.
Ketika keduanya bertemu lagi, pertautan perasaan di antara mereka makin menebal bahkan sampai membuat Ennis, dalam bahasa Serat Centhini, “melupakan kenikmatan tubuh istrinya”. Hingga akhirnya rumah tangga Ennis pun bubar dan api asmaranya untuk Jack makin berkobar. Mulai ada rasa cemburu, yang memuncak dengan pertengkaran ketika Ennis bertanya apakah Jack pernah ke Meksiko. Proulx melukiskan pentingnya pembicaraan ini: Meksiko adalah tempatnya. Ennis pernah mendengarnya. Dia melangar batas sekarang, memasuki topik berbahaya.
Ternyata, selama mereka berpisah, Jack berhubungan seks dengan lelaki lain. Ennis marah, tapi Jack tak mau disalahkan, dan Proulx melukiskan konflik ini dengan dialog yang indah, meluap-luap dan menyentuh. Dan, sejauh itu, Proulx tak pernah mengklaim karyanya ini sebagai “cerpen-gay”. Ia hanya memaksudkannya sebagai bagian dari cerpen-cerpen “observasi-sosial” yang diangkatnya dalam kumpulan “Closing Range” -tak ada misi khusus, tak ada pesan khusus. Tapi, sebuah teks tetap saja -dan memang sudah semestinya- bisa dianalisis berdasarkan teks-nya itu sendiri, dan bukan berdasarkan kemauan pengarangnya. Kalau sebagai karya film, “Brokeback Mountain” betapapun masih dianggap terlalu kontroversial untuk Amerika, maka sebagai cerita pendek yang tercetak dalam lembar-lembar buku, ia telah melelehkan kebekuan wacana homoseksual dalam fiksi.
Pada akhirnya, ironi-ironi tadi kemudian terbayar dengan kekuatan teks-nya sendiri. “Brokeback Mountain” karya Proulx telah menggugurkan dekor-dekor stereotip yang selalu “menghiasi” fiksi-fiksi bertema homoseksual. Sepasang cowok yang jatuh cinta pastilah terdiri atas satu cowok macho dan satu cowok lemah-lembut. Dalam sejumlah novel gay yang terbit di Tanah Air, seperti “Kaubunuh Aku dengan Cinta” (Andy Lotex), “Manusia-manusia” (Bagus Utama), “Lelaki Terindah” (Andrei Aksana) hingga “Ini Dia, Hidup” (Ezinky), stereotipisasi itu bahkan terjatuh ke dalam tindakan bunuh diri teks yang fatal: novel-novel dengan tokoh gay itu justru menjadi arena homofobia baru, yang menegaskan kembali norma heteroseksual. Sedangkan Proulx melangkah sangat jauh -ia seperti membuat eksperimen untuk memancing reaksi homofobia langsung ke “pusatnya”: memainkan tokoh-tokoh gay di panggung subkultur yang tertutup, angkuh dan eksklusif bernama koboi.
Abidah El-khaliqy pernah membuat “eksperimen” serupa lewat “Geni Jora” yang memenangkan hadiah kedua Sayembara Novel DKJ 2003. Tapi, ia tak hanya gagal total, melainkan terjerembab dengan pretensinya sendiri. Dalam novel tersebut, secara sekilas-tipis Abidah sempat menyingkap tabir sakral subkultur pesantren perempuan, yang ternyata tak kalis dengan praktik homoseksualitas, dalam hal ini lesbianisme. Novel ini menyimpan potensi untuk menjadi kekuatan yang mendobrak macam “Brokeback Mountain”, sendainya saja Abidah bisa jujur dengan dirinya sendiri. Tapi, seperti kebanyakan penulis lain di Indonesia, ia tidak: ia mengungkap lesbianisme di pesantren dengan tujuan untuk menolaknya, menyembunyikannya. Proulx sebaliknya, mengungkap realitas sebagaimana adanya, tanpa pretensi moral untuk mengomentarinya. Itulah tugas sastra.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home