Surga di Bumi: Aspek-aspek Budaya Gay Kontemporer di Indonesia (2)
Mengapa klab malam khusus gay yang paling baru dan sedang happening di Jakarta dinamai Heaven? Karena di sini, konon, “semua orang” bisa menjadi apapun sesuai keinginan. Bukankah demikian hakikat surga yang kita ketahui dari ajaran agama? Dengan maksud memberikan suasana surga seperti itulah Heaven Club hadir di Jakarta sejak kurang lebih setahun lalu, dan menandai pembukaannnya secara resmi Minggu (27/10/2003) malam dalam sebuah acara grand launching bertajuk Kingdom of Heaven.
Heaven merupakan sebuah klab franchise dari Singapura yang menempati salah satu sudut Dharmawangsa Square, sebuah citywalk elit di kawasan Jakarta Selatan. Heaven sendiri terdiri atas dua diskotek, masing-masing Centro the Club di lantai dasar dan Heaven Club di lantai dua. Bila Heaven Club –meski tidak dieksplisitkan- secara khusus ditujukan sebagai tempat clubbing kaum gay, maka Centro dibuka untuk umum, dengan satu malam tertentu, yakni Minggu malam, disediakan khusus sebagai gay night. Acara grand launching malam itu digelar di dua diskotek tersebut sekaligus dengan pemandu acara Ivan Gunawan dan Dave Hendrik. Keduanya mengenakan kostum ketat, Ivan warna putih dan Dave warna hitam, dengan sayap bulu-bulu berbentuk lambang cinta di punggung masing-masing. Ivan, konon mewakili malaikat dan Dave representasi sosok setan.
Begitulah, atmosfer surga memang terasa sejak pengunjung memasuki arena klab. Lelaki-lelaki berbusana ketat serba putih lengkap dengan sayap di punggung –yang mengimajinasikan sosok malaikat- berseliweran. Mereka para kru klab tersebut, yang belum lama direkrut lewat sebuah pengumuman yang secara terang-terangan menyebutkan kata “gay” sebagai persyaratan bagi yang tertarik untuk melamar. Salah satu tugas mereka malam itu menjajakan kondom fiesta yang merupakan sponsor utama. Sponsor lainnya antara lain Hard Rock FM Jakarta yang cukup menunjukkan bahwa acara tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan, atau katakanlah media, mainstream. Apakah ini merupakan isyarat permukaan bahwa budaya gay telah, atau setidaknya mulai, diterima sebagai bagian dari budaya arus utama? Ini pertanyaan berat. Untuk menjawabnya kita juga bisa mempertimbangkan kehadiran Ivan Gunawan dan Dave Hendrik yang merupakan sosok-sosok yang telah dikenal secara luas sebagai “selebriti
nasional”, bintang-bintang televisi yang sukses dan digemari masyarakat. Namun, bukankah mereka berdua, betapa pun jaimnya ketika tampil di televisi maupun di media massa lainnya, identik dengan homoseksualitas? Atau, masyarakat luas dengan sederhana akan mengidentifikasikan mereka sebagai “banci”. Dalam pergaulan sosial, gay dan banci sering tak dibedakan dan sampai batas tertentu ini bisa kita terima sebagai bentuk pemahaman tertentu dari kaum awam.
Di Heaven, Ivan dan Dave –yang beberapa hari sebelumnya tampil bareng pula memandu acara ulang tahun tayangan infotainment KISS di Menchester United Café, Sarinah- tampil dengan lepas, saling melempar joke khas para gay, dengan sedikit sentuhan intelektual ala presenter profesional. Di acara ulang tahun KISS, mereka harus membawakan acara dengan tunduk pada skenario, sedangkan di grand launching Heaven Club keduanya, seperti mereka ungkapkan sendiri di atas panggung, “bisa menjadi diri kita sendiri.” Di mana lagi Ivan Gunawan bisa, misalnya, memelorotkan celana ketatnya untuk mempelihatkan G-string hitam yang dikenakannya, dan memamerkan perutnya yang “ke mana-mana” itu? Di mana lagi Dave Hendrik bisa, misalnya, secara terang-terangan memuji cowok ganteng yang berdiri di antara pengunjung yang memadati acara yang sedang ia pandu, sambil melontarkan celetukan, “Saya pulang jam empat, nomer hp saya…”
Semua itu hanya bisa terjadi di Heaven Club, sebuah ruang surga yang dihadirkan di bumi Jakarta yang penuh hipokrisi.
***
Tidak terlalu penting untuk menyebutkan, bahwa acara grand launching Heaven Club menampilkan, antara lain, DJ dari De Javu Bali. Dan, sudah agak klise pula jika dirinci bahwa pergelaran tersebut dimeriahkan oleh parade cowok-cowok berbadan bagus yang hanya mengenakan celana dalam mini. Namun, yang masih menarik untuk dibicarakan adalah penampilan grup Lenong Bocor malam itu. Bukan penampilan di atas panggung itu benar yang penting, namun fenomena Lenong Bocor sendiri yang identik dengan duo Olga dan Ruben. Boleh dibilang mereka ini merupakan pengisi tetap gay night di Heaven Club. Malam itu, mereka memang tidak tampil secara mengesankan, mungkin karena waktu yang sangat singkat dan hanya tampil bertiga.
Lenong Bocor merupakan sempalan dari sebuah grup yang sebelumnya dikenal sebagai Lenong Bocah. Setelah cukup dikenal dari panggung ke panggung, nama Lenong Bocor mencuat ketika menjadi pengisi acara sahur Ramadhan 2005 di Indosiar, bersama-sama dengan Dorce, Marwoto, Taufik Savalas dan Topan-Leisus. Di antara para komedian senior, baik yang “modern” maupun “tradisional” itu, Olga dan Ruben sama sekali tak tenggelam. Sebaliknya, mereka bahkan berhasil mencuri perhatian dan menonjol dengan lawakan-lawakannya yang segar, yang barangkali tanpa disadari oleh publik pemirsanya, banyak mereka olah dari khasanah budaya gay. Gaya mereka yang kemayu, dan sering berperan sebagai sosok perempuan, sebenarnya bukan hal baru dalam khasanah lawakan di negeri ini. Namun, Olga dan Ruben, serta anggota Lenong Bocor secara keseluruhan, mampu memberikan sentuhan lain yang membedakan mereka dengan, misalnya Tessy atau pelawak-pelawak lelaki lainnya yang tergolong sering berperan sebagai perempuan, seperti Wendy (dari grup Cagur) atau pun Aming (Ekstravaganza).
Sungguh menarik menyaksikan penampilan Lebong Bocor di Heaven Club pada salah satu malam di pertengahan bulan puasa lalu. Mereka memparodikan sosok-sosok perempuan berjilbab, dan salah satu sasaran parodi mereka tak lain Dorce, “bunda” mereka sendiri dan lawan main mereka di acara sahur Indosiar. Lawakan Lenong Bocor cenderung spontan, kadang kasar dan tak jarang “kasar sekali” dan sering terjatuh ke dalam slapstick yang dangkal. Begitulah yang tampak dalam setiap penampilan mereka di Heaven. Namun, di televisi tentu saja mereka demikian santun, dan dalam acara sahur Indosiar itu, Lenong Bocor diberi sesi khusus, dan mereka mengangkat khasanah legenda atau pun cerita rakyat yang popoler sebagai materi lawakan.
Ketika ada seorang penulis surat pembaca di Kompas yang mengeluhkan betapa acara sahur di TV didominasi oleh lawakan, yang kemudian dikembangkan oleh harian tersebut menjadi sebuah artikel yang membahas soal itu, yang pertama terbayang di benak saya tak lain Olga dan Ruben dan Lenong Bocor. Seandainya saja penulis surat pembaca itu, dan publik secara luas, tahu bahwa beberapa jam sebelum tampil di acara sahur itu, Olga dan Ruben dan Lenong Bocor tampil di sebuah klab gay dengan lawakan yang sama sekali lain…
***
Untuk itulah, perlunya dibangun surga di bumi, dan Heaven Club telah memberikan itu. Yakni, untuk memungkinkan terwujudnya sesuatu yang tak mungkin ditampakkan di media publik seperti televisi. Yakni, ini yang lebih penting, untuk memberi ruang kepada orang-orang yang ingin menjadi dirinya sendiri dan apa yang mereka inginkan. Karena surga seperti itu memang tidak ada di luar sana…
Heaven merupakan sebuah klab franchise dari Singapura yang menempati salah satu sudut Dharmawangsa Square, sebuah citywalk elit di kawasan Jakarta Selatan. Heaven sendiri terdiri atas dua diskotek, masing-masing Centro the Club di lantai dasar dan Heaven Club di lantai dua. Bila Heaven Club –meski tidak dieksplisitkan- secara khusus ditujukan sebagai tempat clubbing kaum gay, maka Centro dibuka untuk umum, dengan satu malam tertentu, yakni Minggu malam, disediakan khusus sebagai gay night. Acara grand launching malam itu digelar di dua diskotek tersebut sekaligus dengan pemandu acara Ivan Gunawan dan Dave Hendrik. Keduanya mengenakan kostum ketat, Ivan warna putih dan Dave warna hitam, dengan sayap bulu-bulu berbentuk lambang cinta di punggung masing-masing. Ivan, konon mewakili malaikat dan Dave representasi sosok setan.
Begitulah, atmosfer surga memang terasa sejak pengunjung memasuki arena klab. Lelaki-lelaki berbusana ketat serba putih lengkap dengan sayap di punggung –yang mengimajinasikan sosok malaikat- berseliweran. Mereka para kru klab tersebut, yang belum lama direkrut lewat sebuah pengumuman yang secara terang-terangan menyebutkan kata “gay” sebagai persyaratan bagi yang tertarik untuk melamar. Salah satu tugas mereka malam itu menjajakan kondom fiesta yang merupakan sponsor utama. Sponsor lainnya antara lain Hard Rock FM Jakarta yang cukup menunjukkan bahwa acara tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan, atau katakanlah media, mainstream. Apakah ini merupakan isyarat permukaan bahwa budaya gay telah, atau setidaknya mulai, diterima sebagai bagian dari budaya arus utama? Ini pertanyaan berat. Untuk menjawabnya kita juga bisa mempertimbangkan kehadiran Ivan Gunawan dan Dave Hendrik yang merupakan sosok-sosok yang telah dikenal secara luas sebagai “selebriti
nasional”, bintang-bintang televisi yang sukses dan digemari masyarakat. Namun, bukankah mereka berdua, betapa pun jaimnya ketika tampil di televisi maupun di media massa lainnya, identik dengan homoseksualitas? Atau, masyarakat luas dengan sederhana akan mengidentifikasikan mereka sebagai “banci”. Dalam pergaulan sosial, gay dan banci sering tak dibedakan dan sampai batas tertentu ini bisa kita terima sebagai bentuk pemahaman tertentu dari kaum awam.
Di Heaven, Ivan dan Dave –yang beberapa hari sebelumnya tampil bareng pula memandu acara ulang tahun tayangan infotainment KISS di Menchester United Café, Sarinah- tampil dengan lepas, saling melempar joke khas para gay, dengan sedikit sentuhan intelektual ala presenter profesional. Di acara ulang tahun KISS, mereka harus membawakan acara dengan tunduk pada skenario, sedangkan di grand launching Heaven Club keduanya, seperti mereka ungkapkan sendiri di atas panggung, “bisa menjadi diri kita sendiri.” Di mana lagi Ivan Gunawan bisa, misalnya, memelorotkan celana ketatnya untuk mempelihatkan G-string hitam yang dikenakannya, dan memamerkan perutnya yang “ke mana-mana” itu? Di mana lagi Dave Hendrik bisa, misalnya, secara terang-terangan memuji cowok ganteng yang berdiri di antara pengunjung yang memadati acara yang sedang ia pandu, sambil melontarkan celetukan, “Saya pulang jam empat, nomer hp saya…”
Semua itu hanya bisa terjadi di Heaven Club, sebuah ruang surga yang dihadirkan di bumi Jakarta yang penuh hipokrisi.
***
Tidak terlalu penting untuk menyebutkan, bahwa acara grand launching Heaven Club menampilkan, antara lain, DJ dari De Javu Bali. Dan, sudah agak klise pula jika dirinci bahwa pergelaran tersebut dimeriahkan oleh parade cowok-cowok berbadan bagus yang hanya mengenakan celana dalam mini. Namun, yang masih menarik untuk dibicarakan adalah penampilan grup Lenong Bocor malam itu. Bukan penampilan di atas panggung itu benar yang penting, namun fenomena Lenong Bocor sendiri yang identik dengan duo Olga dan Ruben. Boleh dibilang mereka ini merupakan pengisi tetap gay night di Heaven Club. Malam itu, mereka memang tidak tampil secara mengesankan, mungkin karena waktu yang sangat singkat dan hanya tampil bertiga.
Lenong Bocor merupakan sempalan dari sebuah grup yang sebelumnya dikenal sebagai Lenong Bocah. Setelah cukup dikenal dari panggung ke panggung, nama Lenong Bocor mencuat ketika menjadi pengisi acara sahur Ramadhan 2005 di Indosiar, bersama-sama dengan Dorce, Marwoto, Taufik Savalas dan Topan-Leisus. Di antara para komedian senior, baik yang “modern” maupun “tradisional” itu, Olga dan Ruben sama sekali tak tenggelam. Sebaliknya, mereka bahkan berhasil mencuri perhatian dan menonjol dengan lawakan-lawakannya yang segar, yang barangkali tanpa disadari oleh publik pemirsanya, banyak mereka olah dari khasanah budaya gay. Gaya mereka yang kemayu, dan sering berperan sebagai sosok perempuan, sebenarnya bukan hal baru dalam khasanah lawakan di negeri ini. Namun, Olga dan Ruben, serta anggota Lenong Bocor secara keseluruhan, mampu memberikan sentuhan lain yang membedakan mereka dengan, misalnya Tessy atau pelawak-pelawak lelaki lainnya yang tergolong sering berperan sebagai perempuan, seperti Wendy (dari grup Cagur) atau pun Aming (Ekstravaganza).
Sungguh menarik menyaksikan penampilan Lebong Bocor di Heaven Club pada salah satu malam di pertengahan bulan puasa lalu. Mereka memparodikan sosok-sosok perempuan berjilbab, dan salah satu sasaran parodi mereka tak lain Dorce, “bunda” mereka sendiri dan lawan main mereka di acara sahur Indosiar. Lawakan Lenong Bocor cenderung spontan, kadang kasar dan tak jarang “kasar sekali” dan sering terjatuh ke dalam slapstick yang dangkal. Begitulah yang tampak dalam setiap penampilan mereka di Heaven. Namun, di televisi tentu saja mereka demikian santun, dan dalam acara sahur Indosiar itu, Lenong Bocor diberi sesi khusus, dan mereka mengangkat khasanah legenda atau pun cerita rakyat yang popoler sebagai materi lawakan.
Ketika ada seorang penulis surat pembaca di Kompas yang mengeluhkan betapa acara sahur di TV didominasi oleh lawakan, yang kemudian dikembangkan oleh harian tersebut menjadi sebuah artikel yang membahas soal itu, yang pertama terbayang di benak saya tak lain Olga dan Ruben dan Lenong Bocor. Seandainya saja penulis surat pembaca itu, dan publik secara luas, tahu bahwa beberapa jam sebelum tampil di acara sahur itu, Olga dan Ruben dan Lenong Bocor tampil di sebuah klab gay dengan lawakan yang sama sekali lain…
***
Untuk itulah, perlunya dibangun surga di bumi, dan Heaven Club telah memberikan itu. Yakni, untuk memungkinkan terwujudnya sesuatu yang tak mungkin ditampakkan di media publik seperti televisi. Yakni, ini yang lebih penting, untuk memberi ruang kepada orang-orang yang ingin menjadi dirinya sendiri dan apa yang mereka inginkan. Karena surga seperti itu memang tidak ada di luar sana…

0 Comments:
Post a Comment
<< Home