dari sudut lain memandang dunia

Wednesday, February 01, 2006

Gay dalam Keluarga dan Masyarakat Jawa

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2004 lalu, saya berkenalan dengan seorang remaja gay Solo, sebut saja namanya Hendra. Ia tinggal di Sangkrah, sebuah kampung padat di bagian timur kota keraton yang sangat terkenal di Jawa Tengah itu. Saya berkunjung ke rumahnya yang masih sangat tipikal rumah orang Jawa tempo dulu: berdinding kayu dengan interior yang nyaris tanpa sekat. Tak ada ruang-ruang. Yang disebut kamar hanyalah dipan kayu yang ditutupi dengan tirai kain, atau pembatas dari papan triplek. Demikian pula dapurnya, tempat keluarga itu memasak, hanyalah lorong memanjang di bagian belakang rumah yang tercipta dari sekat papan. Tak ada ruang makan, bahkan meja makan: anggota keluarga bisa makan di mana saja. Ketika saya berkunjung malam itu, karena kunjungan saya lama, Hendra meminta izin untuk makan, dan ia melakukannya di ruang tengah.

Dan, inilah yang disebut ruang tengah itu: sebuah areal luas yang terbentang di depan pintu masuk, yang terdiri atas seperangkat meja-kursi penjalin yang di-set menghadap ke pesawat televisi mungil berlayar hitam-putih yang diletakkan di atas bufet. Dan, yang disebut sebagai “kamar tidur” tadi terletak di sekitar ruang tengah itu. Komposisi keluarga Hendra sendiri cukup unik: ia tinggal bersama kakek, nenek dan adiknya, lelaki yang berusia dua tahun lebih muda daripadanya yang saat ini duduk di bangku kelas tiga SMU. Ketika saya datang, sang kakek tidur di atas dipan yang terletak di sisi kiri pintu masuk, tanpa sekat apapun. Ketika saya tanyakan hal itu ke Hendra, ia menjelaskan, neneknya juga sedang tidur di balik tirai di sisi dipan sang kakek. Saya tak bisa melihatnya. Di depan dua dipan yang berjajar itu, terdapat satu dipan lagi yang ditutupi dengan papan. Di situlah, Hendra menginapkan tamu-tamu lelakinya, atau pacarnya bila ia sedang punya pacar. Dan, di situ pulalah ia berhubungan seks dengan partnernya!

Saya agak bergidik membayangkan, bagaimana dua lelaki bisa bercinta di atas ranjang tanpa dinding, tanpa daun pintu seperti itu, dalam sebuah keluarga Jawa yang tak punya pemahaman apapun mengenai homoseksualitas. Sebagai bagian dari generasi-baru-gay, Hendra bersosialisasi dan mengenal dunianya lewat chatting. Dari chatting ia tak hanya mendapat banyak kenalan, tapi juga pacar. Tapi, perkenalan pertamanya dengan sesama gay terjadi berkat jasa sebuah ruang biro jodoh di tabloid lokal yang banyak menyajikan menu bertema seks, termasuk homoseksualitas. X-Hot, nama tabloid yang berkantor pusat di Surabaya itu, membuat terobosan berani dengan mengangkat tema gay sebagai bagian dari sajian utamanya. Dari iseng-iseng mengirimkan biodata ke tabloid itu, Hendra mendapat kenalan seorang mahasiswa dari Purwokerto, dan selama setahun, ketika ia masih duduk di kelas satu SMU, Hendra berpacaran jarak jauh dengannya. Beberapa waktu sekali, Hendra berkunjung ke Purwokerto, dan sebaliknya, sang pacar secara periodik melakukan kunjungan balik ke Sangkrah. Oleh suatu sebab yang sengaja tak diungkapkan dengan jelas, hubungan mereka akhirnya putus, dan Hendra menjalin hubungan baru dengan seorang dokter dari Semarang. Kali ini, hubungan mereka bersifat “kakak-adik” tapi setiap sang dokter datang ke Solo, biasanya pada akhir pekan, mereka melakukan hubungan seks di rumah Hendra yang tak bersekat tadi. Ketika saya mengunjunginya pada malam Lebaran itu, Hendra mengaku sedang tak punya pacar, tapi ia punya “kakak” seorang lelaki keturunan Cina asli Solo yang kuliah di Yogya. Kendati menyebutnya kakak, tapi Hendra mengaku mereka berhubungan seks juga.
Saya tak tahu bagaimana Hendra mengkategorikan pasangannya pada suatu masa tertentu sebagai “pacar” atau sebagai “kakak” bila kenyataannya keduanya sama-sama diwarnai dengan hubungan seks. Hendra sendiri tampak begitu kesulitan ketika saya meminta menjelaskannya. Kepada ibunya, seorang perempuan berusia awal 30-an, Hendra memperkenalkan pasangan-pasangan lelakinya itu –baik itu pacar maupun “kakak”- sebagai teman yang dikenalnya dari internet. Dan, sang ibu tak pernah bertanya apa-apa tentang itu. Sedangkan ayah Hendra, 37 tahun, lebih pendiam lagi.

Ayah dan Ibu Hendra tinggal di rumah lain yang terletak di kampung sebelah. Hendra dan adiknya sejak kecil diminta untuk tinggal di rumah kakek-neneknya untuk menemani orang-orang tua itu. Ibu Hendra sendiri setiap hari datang ke rumah orangtuanya itu dari pagi, memasak dll. Sedangkan sang ayah menyusul sepulang kerja. Mereka akan berada di rumah itu sampai pukul satu dini hari. Sang ibu biasanya tidur di dipan tanpa sekat di sebelah kanan ruang tengah itu, dan sang ayah duduk di depan TV, merokok sampai terkantuk-kantuk.
Saat berkunjung malam itu, saya menyaksikan, pasangan suami-istri itu benar-benar baru meninggalkan rumah itu pada pukul satu dini hari dan itu berlangsung sejak dulu, begitu setiap hari. Kunjungan saya berikutnya saya lakukan siang hari, setelah lebaran. Saya ngobrol dengan sang kakek yang bertelanjang dada duduk di lincak depan rumah. Atap rumah di bagian teras itu begitu rendah. Di depan rumah ada sumur, dan tiga kamar yang disewakan. Sang nenek sedang uring-uringan mencari jarum yang hilang yang hendak dipakainya untuk meronce bunga mawar. Sang kakek menyalah-nyalahkan sang nenek yang dikatakannya sudah pikun, suka lupa menaruh sesuatu. Hendra yang habis mandi mengatakan kepada saya bahwa ia benci dengan kakek-neneknya. Mereka berdua sumber stres baginya, dan ia bosan tinggal di situ. Ia ingin tinggal di rumah orangtuanya saja, tapi bapak-ibunya bersikeras Hendra dan adiknya harus tinggal di situ menemani orang-orang jompo itu sampai mereka meninggal dunia.

“Setiap hari begitulah mereka, bertengkar terus untuk hal-hal yang nggak jelas,” gerutu Hendra. Nenek Hendra seorang perempuan berbadan gemuk, berjalan gontai dan berbeda dengan perempuan tua Jawa umunya yang berkain-kebaya, ia mengenakan rok dan kaos yang kedomboran. Hari-hari berikutnya, Hendra mengajak saya untuk berkeliling kota sampai saya kemudian balik ke Jakarta. Saya datang lagi ke Sangkrah seminggu setelah Hari Raya Idul Adha. Dia bilang, baru saja mengantarkan pacarnya pulang setelah menginap empat hari di rumah itu. Pacar yang mana, tanya saya. Rupanya, ia baru saja jadian dengan pacar baru, seorang mahasiswa yang tinggal di Karang Pandan, kota kecamatan di lereng Gunung Lawu berjarak 30-an km dari Solo. “Itu, tasnya masih ditinggal di sini, besok mungkin dia ke sini lagi,” jelasnya sambil menunjuk tas ransel yang tergolek di atas kursi. Matanya berbinar, menyiratkan sebuah kebahagiaan. Tak ada yang berubah dari penampilannya: kemeja kuning, rambut belah tengah model kuno dan celana pendek. Di bawah lampu yang menyala remang, kulitnya yang hitam tampak dekil. Wajahnya juga hitam tapi cukup manis oleh hidung yang mancung. Pada kunjungan saya kali ini, ia minya diantarkan ke wartel untuk menelepon temannya. “Saya mau curhat.” Saya diajak masuk ke bilik telepon di sebuah warnet tak jauh dari rumahnya, dan saya bisa mendengar, ia meminta orang di seberang sana untuk ke rumahnya, besok.

Dua hari kemudian, Hendra menelepon saya dan mengajak saya main ke rumah temannya -teman yang lain lagi, bukan yang ditelepon kemarin untuk diminta datang ke rumahnya itu. Belakangan saya tahu, teman yang dimaksud tak lain salah satu mantan pacar Hendra. Umurnya sebaya, namanya Putera, tinggal di Desa Pandean, Baki, Sukoharjo, sebuah wilayah di perbatasan Solo bagian barat. Ketika diperkenalkan, saya menduga Putera keturunan Cina. Tapi, tenyata tidak. Matanya memang sipit, dan wajahnya yang putih nyaris tertutup oleh timbunan jerawat. Ia seorang penyanyi di kelompok Campur Sari di desanya, yang dipimpin oleh pamannya sendiri. Bersama kelompoknya ia sering mendapat tanggapan untuk acara kawinan.Ketika kami datang ia tengah menyeterika pakaian, rumahnya sepi. Ibu dan bapaknya sedang ke THR di Taman Sriwedari Solo bersama adik perempuannya. Saat itu memang liburan anak sekolah dan THR Sriwedari mengundang siswa berprestasi untuk menikmati fasilitas gratis. “Aku gak ikut karena gak dapet rangking,” kata Putera.

Hendra yang membawa kamera digital segera mengajak Putera untuk foto-foto. Ia ingin difoto bugil. Rumah Putera tampak belum selesai dibangun, sehingga kamar-kamar yang ada belum punya pintu. Mereka masuk ke salah satu kamar, dan saya diminta berjaga di ruang depan, siapa tahu ada yang datang. Hendra melepas pakaiannya, menyisakan celana dalam, dan minta Putera untuk memotretnya. Tapi, prosesi foto bugil itu tak berjalan lancar karena kamera Hendra ternyata rusak.

Pada kesempatan berikutnya, saya berkunjung sendiri ke rumah Putera siang hari. Lagi-lagi rumahnya sepi. Adiknya tengah bermain di sepetak tanah tersisa di depan rumah, di bawah pepohonan melinjo. Ibunya bekerja di pabrik pakaian bayi tak jauh dari rumah. Pada jam makan siang sang ibu pulang untuk makan dan istirahat lalu balik lagi hingga jam 9 malam. Ayahnya kerja sampai sore. Saya ngobrol dengannya di lantai, disuguhi tayangan VCD lagu-lagi campursari. Di sela-sela itu, Putera sesekali menengok ke luar, menyaksikan tetangga-tetangga sebayanya, sebagian besar perempuan, yang sedang bermain “benthik”. “Wah, mereka kurang satu karena aku nggak ikut,” katanya.

Lalu, Putera bercerita bahwa ia belum lama ikut audisi KDI (Kontes Dangdut Indonesia) yang diadakan oleh stasiun televisi TPI di Semarang. “Baru audisi pertama sudah gagal,” ujarnya kecewa. Putera mengaku tak punya banyak cerita tentang dirinya sebagai seorang gay –yang tentu saja seperti halnya Hendra masih tertutup. Ia mengaku baru sekali pacaran, itu pun cuma tiga bulan dan sang pacar itu tak lain Hendra. Tiba-tiba Putera sibuk dengan HP-nya. Ada yang mau datang, katanya. Ia mengajak saya untuk menjemput sang tamu itu di ujung gang, tapi saya sarankan ia jemput sendiri dengan motor saya. Putera setuju. Kira-kira lima belas menit Putera kembali bersama seorang lelaki yang juga mengendarai motor.

Dijelaskan, mereka kenalan lewat chatting dan sudah sebulan ini saling kontak SMS. Ini merupakan pertemuan pertama mereka. Ketika diperkenalkan pada saya, lelaki itu menyebut sebuah nama yang tidak saya dengar dengan jelas, tapi setelah kami ngobrol lebih banyak ia mengaku itu bukan nama aslinya. Nama aslinya Fajar. Ia tinggal di kampung Dawung, masih masuk wilayah Solo sebelah selatan. Saya tanya apa kesibukannya, ia mengaku menganggur. Ia baru saja mengurus surat lamaran pacarnya, sambil buru-buru menjelaskan, pacarnya itu cewek. “Pacar cowok?” pancing saya. “Belum punya, nggak ada yang mau,” sahutnya.

Sedikit demi sedikit, Fajar makin membuka diri. Ia berumur 23 tahun, lulusan sebuah akademi perbangkan di Yogyakarta, dan sekarang tak punya kesibukan apa-apa. “Tadi pagi mbedhol (mencabut -pen) kacang,” katanya yang awalnya saya kira bercanda tapi kemudian dengan serius ia menjelaskan, di belakang rumahnya ada sebidang tanah kosong yang ia tanami kacang. Sampai agak lama, sambil terus ngobrol, Fajar tampak sibuk mengusir gerah. Lalu, ia tiduran di lantai. Saya lihat Putera berkali memperhatikannya, seperti hendak mengenali lebih jauh sosok teman barunya itu. Untuk ukuran rata-rata, wajah Fajar tergolong manis, hidungnya mancung mirip bintang film India –dan ia memang mengaku suka film India. Kulitnya gelap tapi bersih.
Putera mengganti VCD lagu-lagu Jawa dengan Peter Pan. Fajar segera bilang, ia tak suka Peter Pan yang disambut dengan keheranan oleh Putera. “Lagu-lagu Peter Pan ini mirip kisahku,” kata Putera. Fajar menimpali, “Tak ada lagu yang mirip kisahku, karena aku tak punya kisah apapun, hidupku datar saja, biasa saja…”

Ketika saya pamit pulang pukul tigabelas, Fajar hendak ikut pulang juga, tapi dicegah oleh Putera. Akhirnya, ia mengurungkan niatnya. Malamnya, tanpa saya sangka, Fajar mengirim SMS ke saya, memberitahukan bahwa tadi ia pulang dari rumah Putera pukul enambelas karena menunggu hari teduh dan sampai di rumah sempat mbedhol kacang lagi dan kini tengah nonton TV sambil menikmati susu cokelat. Saya senang dengan keakraban yang coba ia bangun lewat SMS seperti itu.

Hendra, Putera, Fajar adalah gambaran dari gay lokal yang sangat jauh bila dibandingkan dengan tipikal gay metropolitan Jakarta. Setidaknya, dalam penampilan fisik mereka begitu sederhana. Meskipun Fajar mengenal istilah-istilah macam “fashionista” dan “metroseksual”, tapi penampilannya sendiri tak mencirikan seorang gay secara stereotip. Ia mengenakan kaos yang dilapisi kemeja hitam dan celana bahan berwarna sama. Potongan rambutnya belah tengah model kuno, layaknya Hendra. Bagi mereka, sepertinya tak terpikirkan sisi-sisi gay sebagai gaya hidup. Mereka hanya tahu mereka punya orientasi seksual yang berbeda dengan kebanyakan, dan itu harus ditutupi dengan rapat di tengah-tengah keluarga dan teman-teman.
***
Hendra, Putera dan Fajar tentu saja bukanlah fenomena baru dalam konteks masyarakat Jawa. Kendati tak secara eksplisit mengacu kepada homoseksual sebagai sebuah orientasi seks, Serat Centhini yang disebut-sebut sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa sudah mengenalnya. Sekali lagi, memang tidak mengacu kepada homoseksual sebagai orientasi seks, melainkan “sekedar” sebagai variasi hubungan seksual yang berbasis pada same sex relation.

Serat Centhini, atau lebih lengkapnya Centhini Tambangraras-Amongraga ditulis pada 1814 sampai 1823 oleh sebuah tim yang dipimpin Adipati Anom Amangkunagara III, putera mahkota Kerajaan Surakarta, yang kemudian menjadi raja dengan gelar Sunan Paku Buwana V (1820-1823). Anggota tim penulis itu terdiri atas tiga orang, yakni Kiai Ngabei Ranggasutrasna, Kiai Ngabei Yasadipura II dan Kiai Ngabehi Sastradipura. Ketebalan naskah ini mencapai 4200 halaman yang tertuang dalam 12 jilid dengan kandungan isi yang sangat beragam.

Jika dapat dikatakan sebagai suatu cerita, seperti catatan yang pernah diberikan oleh Benedict Anderson, secara sekilas Centhini dapat dijabarkan sebagai berikut: Setelah penaklukan-berdarah atas Giri, kerajaan Islam yang makmur di pelabuhan Jawa Timur, pada 1625 oleh tentara Sultan Agung dari Mataram di Jawa Tengah, ketiga anak (dua laki-laki dan satu perempuan) penguasa yang ditaklukan itu lari untuk menyelamatkan diri. Diburu mata-mata Mataram, mereka pun berpisah: anak sulung yang bernama Jayengresmi (yang kemudian bergelar Seh Amongraga) lari ke barat, sedang dua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti meloloskan diri ke tenggara. Mereka lalu disatukan oleh seorang tokoh yang aneh bernama Cebolang, anak semata wayang seorang pertapa di Gunung Sokayasa. Untuk menghidupi dirinya, Mas Cebolang mencari nafkah sebagai penghibur keliling –ia bermain musik, menari dan memainkan sulapan. Ia juga berjudi, mencuri dan berzina.Lewat tokoh Cebolang itulah, seks dieksplorasi dalam Centhini, tepatnya pada Jilid V –yang terjemahannya kebetulan terbit awal tahun ini (Yogyakarta: Gajah Mada University Press). Proyek penyaduran Centhini Jilid V ini merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh Balai Pustaka, yang hingga 1992 lalu telah menerbitkan terjemahannya sampai Jilid IV.

Dalam Centhini Jilid V itu dikisahkan, Cebolang dan para santrinya ditanggap oleh adipati Kabupaten Wirasaba untuk merayakan kelahiran puteranya. Penampilan Cebolang dan salah satu penari utamanya yang bernama Nurwitri membuat Sang Adipati terpesona. Demikianlah, Kiai Adipati hatinya sungguh-sungguh hanyut oleh Nurwitri, penari laki-laki. Ki Adipati sedikit mabuk brem, tape dan tua. Ia mabuk bercampur asmara. Nurwitrilah yang menjadi sasaran asmaranya. Baru kali inilah ia berkehendak yang janggal. Nurwitri dibawa pulang ke rumah tembok bagian belakang. Kiai adipati berkata, “Nurwitri majulah sedikit, saya akan tidur karena itu selimutilah dan bersenandunglah. Nurwitri menjawab, ya, sambil mengerling dan mengatupkan bibirnya. Kiai Adipati segera memeluk leher Nurwitri. Ia gemas maka Nurwitri dicubit kemudian bibir dan pipinya dihisap dan dicium. …tingkahnya tidak berbeda dengan menghadapi wanita.

Singkat cerita, malam itu, Sang Adipati berhubungan seks dengan Nurwitri. Dalam bahasa anak sekarang, Sang Adipati menjadi “top” (pihak yang mencumbu atau melakukan penetrasi), dan Nurwitri “bottom” (pihak yang dicumbu atau dipenetrasi). Pada malam lain, Sang Adipati gantian bercinta dengan Cebolang, yang digambarkan lebih hebat permainan ranjangnya dibandingkan dengan Nurwitri. Yang paling ajaib dari penggambaran adegan seksual antara Adipati-Cebolang-Nurwitri itu adalah pada suatu malam ketika Sang Adipati bertanya pada Cebolang, “Sesungguhnya di manakah letak kenikmatan bagi orang yang bercumbu sesama lelaki, apakah yang mencumbu itu mendapat kebahagiaan hati? Bagaimana pula dengan yang dicumbu? Di manakah letak perbedaanya?”

Sekali lagi, jika diterjamahkan ke dalam bahasa gay sekarang, pertanyaan itu tak lain: Siapa yang lebih menikmati dalam hubungan seks antara dua lelaki –pihak top ataukah bottom?” Jawab Cebolang, “Jauh lebih nikmat yang dicumbu (baca: bottom -pen), rasa berdebarnya merata, hati terasa terhanyut, tenang, kepala terasa berputar-putar, enak berdiri bulu kuduknya, bergeriming karena diraba-raba badannya.

Mendengar penjelasan Cebolang, Sang Adipati pun penasaran dan mengajaknya untuk bertukar peran. Namun, apa yang terjadi? Sang Adipati kesakitan karena, konon, ukuran penis Cebolang sangat besar. Dengan blak-blakan Centhini menggambarkannya kesakitan Sang Adipati itu dengan ratapan seperti ini: “…alat kelaminmu besar menakutkan, aduh kasihanilah aku, aku sudah tidak kuasa lagi.” Selanjutnya, Cebolang pilu hatinya oleh karena itu dipercepat kehendaknya supaya dapat segera lepas…Kiai Adipati terkencing dan menjengkerut sehingga semakin terasa sakit, bergetar dan terkejut dalam hati berharap semoga cepat berakhir. Senjata tersebut dengan perlahan-lahan terlepas dan keluar dengan cepat, meloncat kemudian keluarlah penisnya yang basah kuyup dan berlumuran darah, membasahi kain sprei. Tubuh Kiai Adipati lemas lunglai, sangat lelah keringatnya bercucuran, tulangnya pegal tidak dapat bergerak.

Kembali merujuk pada Benedict Anderson, Centhini menunjukkan, melalui banyak contoh yang disajikan dan penggunaan kosakata teknis Jawa yang bebas, bahwa homoseksualitas laki-laki paling tidak bukanlah sesuatu yang problematis, bagian keseharian dari budaya seksual Jawa yang sangat beragam. Dalam bukunya yang berjudul Javanese Lives: Women and Men in Modern Indonesia Society (1991), Walter L William juga menunjukkan betapa dalam budaya Jawa awam, homoseksual sering diterima sebagai hal yang lumrah. Buku ini berisi 27 riwayat hidup wanita dan pria jawa yang dipilih untuk mewakili beragamnya orang Jawa, dari wanita pedagang di pasar, putri di sitana sultan surakarta, guru dalang wayang kulit, dukun pengantin, mualaf muslim hingga…

…seorang kepala sekolah yang homoseks. Dia seorang keturunan Cina yang lahir di Jawa Tengah pada 1914 dan telah menyadari daya tarik erotisnya pada pria sejak berusia 11 tahun. Ketika menjadi guru dan kemudian kepala sekolah, ia dengan hati-hati menyembunyikan homoseksualitasnya. Pada 1965, selama pembersihan anti-komunis, ia didakwa sebagai komunis dan dipecat dari jabatannya. Meskipun pemecatan itu tak ada kaitannya dengan homoseksnya, tapi setelah peristiwa itu ia menjadi lebih tenang dan terbuka.

Walter L william mewawancara orang tersebut dalam Bahasa Inggris di rumahnya yang bersih dan nyaman, dengan koleksi bukunya yang banyak dan lukisannya menghiasi dinding. Dia hidup tenang di tengah pemukiman kelas menegah yang khas dekat jalan raya di Magelang, Jawa Tengah, bersama dengan empat orang gay muda yang sedang ia rawat. Mereka makan bersama sebagai sebuah keluarga. Pemuda-pemuda itu sering mendapat teman dari mereka yang berkunjung dan rumah itu hidup dengan tawa dan percakapan sejumlah pria muda dan dewasa.
Dua bulan berikutnya, ketika mengunjungi pesta ulang tahun yang ke-73 mantan kepala sekolah itu, William menyaksikan rumah tersebut dipenuhi tamu – mereka adalah mantan teman sesama guru dan murid-muridnya, ditambah 40 orang gay. Dia telah membantu orang-orang ini di masa lalu dan kini mereka datang kembali sebagai ungkapan rasa hormat.

“Kami,” kata sang mantan kepala sekolah itu, “para gay tidak otomatis memiliki keluarga untuk kembali, maka kami bekerja keras untuk menciptakan rasa kekeluargaan sendiri. Membantu orang lain, terutama orang muda, akan menghasilkan imbalannya di kemudian hari –kapan, saya tidak tahu, tapi saya yakin akan terjadi. Saya mungkin telah menerima imbalan tersebut dan ganjaran utama buat saya adalah saya mencintai kehidupan saya dan saya mencintai tempat tinggal saya. Saya membaca buku-buku, melihat TV bersama anak-anak dan menasihati mereka apabila mereka mendapat masalah. “Anak-anak” saya dan teman-teman serta buku-buku adalah sahabat saya. Saya tidak berkeberatan menjadi diri saya sendiri kalau mereka meninggalkan saya. Saya tidak takut menjadi tua.

2 Comments:

  • At 2:26 PM, Blogger ali said…

    I am 't sure, if that true !!

     
  • At 5:23 PM, Blogger indonesia gay pulau said…

    Mengundang perkenalan tuk anda Gay / bisex, yg merasa masih nganggur & butuh pekerjaan. Tertarik merantau?
    Penawaran ini sangat ikhlas & tulus. Tanpa ada embel2 & ganti rugi. Semua dituntut serba dari kesadaran anda...
    Anda yg berkriteria seperti ini, silahkan hubungi saya :
    * wajib berijasah SMA keatas
    * berpenampilan menarik. Tidak kemayu. Tidak lebay. Penampilan pria normal.
    * usia dibawah 30th.
    * punya personality yg baik.

    #
    Tempat saya adalah kota berkembang. Sdg banyak lowongan kerja dibuka. Dimana angka persaingan cukup kecil. Hingga kesempatan kerja cukup mudah.
    Saya tidak mengundang anda yg bergengsy tinggi. Pola pikir dangkal. Hura2. & liar!
    Yg saya tertarik bantu, adalah mereka yg benar2 cari kerja. Siap mandiri & pandai membawa diri.
    Silahkan anda datang dg ongkos sendiri. Setelah datang disini, baru menjadi tanggungjawab saya. Saya akan bantu siapkan tempat tinggal & makan anda. Saya akan bantu selama anda belum dapat kerja,& saya akan STOP setelah anda mendapat gaji.
    Untuk kenali saya kontak aja : 0856 64600 785

     

Post a Comment

<< Home