dari sudut lain memandang dunia

Tuesday, February 07, 2006

Brandy Bunch: Aspek-aspek Budaya Gay Kontemporer Indonesia (1)

Perlahan-lahan, apa yang disebut budaya gay di Indonesia sepertinya sedang menuju pada satu titik di mana publik di “luar sana” akan bisa berkata, lho, yang seperti itu ada to di sini? Berbeda dengan budaya mainstream yang serba kasat mata, teramati dan dengan demikian terpantau oleh media massa sehingga bisa disaksikan bersama-sama perkembangannya, budaya gay merupakan sesuatu yang bergerak di luar jalur, di bawah tanah, diam-diam, tak jarang malu-malu pula dan nyaris tak terdeteksi dari luar, namun sebenarnya menyimpan gelegak yang tak kalah dinamis. Kalau pun belakangan khasanah industri fiksi kita –novel, sinetron, film- mulai cukup banyak menyingkap sisik-melik kehidupan kaum homoseksual, sehingga tirai mulai tersingkap, masyarakat luas paling banter masih hanya disuguhi “bocoran” yang bersifat permukaan dan serba sekilas. Sedangkan esensi yang terdalam dari budaya gay itu sendiri belum sepenuhnya terkuak secara terang.

Dari sinetron di televisi misalnya, masyarakat luas menjadi tahu, sebatas, bahwa seorang gay itu laki-laki yang kemayu, bicara dengan bahasa gaul yang aneh (orang Jawa bilang, ngomongnya bak-bok-bak-bok). Biasanya, ia merupakan teman setia seorang cewek yang sedang jatuh cinta pada cowok, sehingga si gay ini akan ikut jatuh bangun membantu si cewek mendapatkan perhatian si cowok sambil sesekali dia sendiri mengagumi dengan norak dan penuh nafsu setiap kali melihat cowok itu. Dan, sejauh itu, si gay tersebut tidak punya cerita sendiri, tidak diberi sub-plot yang memungkinkan perkembangan karakternya. Ia hanya pelengkap penderita, bahan untuk menciptakan kelucuan. Kecuali penampilannya yang kebanci-bancian, ia tak pernah dieksplisitkan, misalnya, mencintai sesama lelaki. Bahkan, kadang ada adegan tertentu yang dimaksudkan untuk mengaburkan orientasi seksual tokoh yang bersangkutan.

Tokoh-tokoh seperti saya gambarkan di atas bertebaran dalam sinetron kita, untuk tidak mengatakan ada dalam setiap sinetron. Mereka bisa datang dari kalangan berseragam putih abu-abu, tapi kebanyakan dari dunia kampus. Pada titik ini, baiklah mesti dikatakan, sinetron kita setidaknya telah menggambarkan betapa individu-individu gay –betata pun dipisahkan dari seksualitasnya dan hanya distereotipkan sebagai lelaki yang melambai- merupakan bagian dari kehidupan sosial yang paling lumrah, yang mendiami gedung-gedung sekolah sampai kampus megah. Sampai di sini, secara khusus mari kita mengamati para gay kampus itu, dengan membandingkan “realitas” antara representasi dari dunia sinetron dengan panorama yang terhampar di sebuah acara regular yang secara khusus dipersembahkan untuk komunitas yang sama, dengan nama Brandy Bunch. “Brandy” adalah istilah gaul untuk kata “brondong”, yang artinya abege. Ini merupakan fenomena baru dalam industri hiburan malam yang ditujukan bagi kaum gay, atau yang telah populer dengan sebutan gay night. Dengan kata lain, Brandy Bunch adalah sebuah Campus Gay Night.

Acara Campus Gay Night diberi nama Brandy Bunch diperkenalkan oleh Heaven Club, sebuah diskotek khusus gay di Jakarta yang dalam klaim “resmi”-nya menyamarkan diri sebagai “the hottest alternative club in Jakarta”. Klab yang terletak di kompleks Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan ini telah hadir sejak setahun terakhir, namun secara resmi baru menandai pembukaannya dalam sebuah grand launching, Minggu (27/10/2003). Brandy Bunch digelar setiap Rabu malam, dan pada kesempatan Rabu (23/10/2003) malam lalu, saya mengikuti seorang mahasiswa yang menghadiri acara itu, untuk mengetahui apa yang ada di balik acara yang secara khusus ditujukan untuk sebuah kalangan yang ditandai dengan kata keramat “kampus” itu. Ongky, sebut saja dia begitu, pergi bersama BF(boy friend = pacar)-nya, saya sebut saja Roy, dan dua orang temannya, masing-masing –katakanlah- Bilie dan Eri. Yang terakhir disebut adalah teman sekantor Roy, sedangkan Bilie teman baru Ongky dan Roy yang mereka kenal pada malam Minggu sebelumnya di sebuah kafe.

Kepada saya Eri mengaku baru pertama kali datang ke klab itu, dan sebelumnya ia tak pernah pergi ke mana-mana. Ia belum lama mengetahui bahwa Roy juga gay dan sejak itu ia minta diajak kalau temannya itu punya acara. Sedangkan Bilie bilang, sebenarnya ia tak punya rencana apa-apa malam itu, tapi tiba-tiba ditelepon Ongky dan Roy, diajak bergabung, dan ia pun bersedia karena “di rumah bete”. Bilie mahasiswa tingkat pertengahan sebuah universitas Katholik ternama di Jakarta, seorang lelaki keturunan etnis Tionghoa yang cute, kocak dan energik. Ia hafal hampir setiap lagu yang diputar di klab malam itu, menirukan liriknya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Malam itu sang DJ memutar lagu-lagu R&B yang menggairahkan. Namun, suasana terbilang sepi, sehingga para clubber tampak malas-malasan untuk turun ke arena dansa. Mereka hanya bergerombol-gerombol saja di bangku-bangku, ngobrol, tertawa-tawa, main mata ke sana ke mari, minum sambil bergoyang-tubuh ala kadarnya.

Hingga puku 00.00 WIB lewat, situasi masih seperti itu. Tak ada persembahan khusus malam itu, kecuali munculnya empat orang penari cowok berbusana ketat dan mengkilap warna hitam. Mula-mula mereka menari di arena dansa, lalu menghilang ke belakang, dan sesaat kemudian muncul kembali dengan kostum yang berbeda, dan menari di balkon. Tak ada yang istimewa dari penampilan mereka, kecuali menegaskan bahwa ini benar-benar sebuah gay night yang malas dan membosankan. Tapi, mengingat ini gay night yang secara dagang ditujukan khusus buat kalangan kampus, dari sini setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran mengenai wajah paling kontemporer dari realitas kehidupan kaum gay di Jakarta, terutama dari kalangan yang identik dengan kelompok intelektual dalam masyarakat tersebut. Ongky adalah representasi dari realitas besar itu. Ia mahasiswa tingkat skripsi sebuah sekolah tinggi ekonomi paling ternama di Jakarta. Boleh dibilang ia pengunjung tetap Heaven Club. Bahkan, dalam setiap acara, ia termasuk orang yang memiliki jatah untuk masuk secara gratis dan bisa membawa teman berapa pun untuk masuk gratis pula. Bagi Ongky, pergi ke gay night merupakan bagian tak terpisahkan dari gaya hidup seorang gay. Lebih-lebih, dengan adanya Brandy Bunch yang secara khusus ditujukan untuk mahasiswa, ia merasa makin mendapatkan ruang untuk bersosialisasi dengan komunitas gay lain yang sebaya dengannya, sama-sama mahasiswa, atau lebih muda.

Ongky sendiri, sebagai mahasiswa tingkat skripsi, sudah tak bisa disebut brondong lagi. Tapi, dalam berbagai obrolan, secara berseloroh ia selalu mengaku bahwa dirinya masih pantas disebut brondong. Secara objektif, jika dilihat dari penampakan fisiknya, Ongky memang tergolong gay yang biasa disebut dengan istilah “brondong abadi”, atau yang dalam istilah umum barangkali setara dengan “baby face”. Terlepas dari itu, pengunjung Brandy Bunch memang tidak selalu dan tidak serta-merta para brondong, baik dari kalangan SMU maupun mahasiswa. Namun, setidaknya sebagian besar dari mereka mahasiswa. Mereka tidak mengkontraskan antara clubbing dan belajar, karena keduanya menurut mereka bisa berjalan beriringan bersama-sama dengan baik. Lewat Ongky, saya berkenalan dengan seorang pengunjung yang masih duduk di bangku kelas 3 SMU, yang keesokan harinya harus menghadapi ujian di sekolah. Agak sulit bagi saya memahami bahwa ada seorang anak SMU yang sedang berada dalam musim ujian dan hingga pukul dua pagi masih berada di klab. Tapi, menurut Ongky, anak SMU yang diperkenalkan kepada saya itu pintar, dan dapat ranking di kelasnya. Ongky sendiri, kalau bisa saya simpulkan dari sebagian kisah hidupnya, menurut saya juga tergolong anak yang pintar. Ketika masih SMU, ia sempat pergi ke Jepang untuk sebuah program pertukaran pelajar selama 6 bulan. Bagi saya inilah potret generasi paling baru dari kaum gay di Jakarta yang pada akhirnya menjadi bagian dari aspek-aspek penting yang tengah dan akan terus mengkonstruksi budaya gay di Indonesia.

Ongky telah pacaran dan tinggal serumah dengan Roy (24 tahun) hampir genap setahun. Mereka pasangan yang serasi dalam penglihatan saya. Ongky seorang lelaki yang setia, dan baru pertama kali ini pacaran dengan lelaki. Sebelumnya, ia sempat pacaran dengan cewek teman sekampusnya, yang belakangan dikenal sebagai pemain sinetron dan film horor yang jika saya sebut namanya, pembaca pasti tahu. Ia mengaku banyak disukai dan ditaksir oleh lelaki yang baru dikenalnya, tapi ia punya prinsip yang kuat untuk tak mudah pindah ke lain lelaki. Malam itu, Ongky yang tergolong kurus dan cukup tinggi mengenakan kemeja lengan panjang kotak-kotak ala distro yang kini sedang ngetren di kalangan anak-anak muda gaul metropolis. Wajahnya yang putih berpoles bedak samar-samar sehingga tampak bercahaya. Behel di giginya memberikan aksen lain pada penampilannya. Kulitnya selembut perempuan, namun gerak-gerik dan keseluruhan gaya serta pembawaan dirinya jauh dari sosok gay yang distereotipkan oleh sinetron. Begitu pula dengan Roy, Bilie dan Eri…mereka tak menunjukkan tanda-tanda kebanci-bancian.

Roy tampil formal dengan celana bahan dan kemeja putih lengkap dengan dasi yang dililitkan di leher secara longgar. Bilie tampak lebih kasual dan santai dengan kaos berkrah warna kuning, demikian juga Eri yang tampil bersahaja dengan polo shirt warna biru laut. Mereka berdansa membentuk satu lingkaran kecil, dan sesekali berpasang-pasangan. Ongky dengan Roy dan Bilie dengan Eri, dan sesekali bertukar-tukar posisi. Pada satu kesempatan terlihat Bilie memeluk Eri, lama, seperti orang yang kelelahan. Jam dua pagi lewat sudah dan satu per satu pengunjung klab meninggalkan arena. Bilie berkali menggerutu karena merasa masih terlalu “sore” untuk pulang. Padahal wajahnya sudah tampak merah dan mengantuk. Eri bilang, ia harus masuk kerja pukul enam pagi. Roy mengeluh perutnya sakit. Ongky mengaku lapar tapi malas makan. Mereka duduk di warung kaki lima depan klab sambil minum teh botol dan minuman kaleng lainnya sebelum akhirnya pulang.

4 Comments:

  • At 4:12 PM, Blogger Kian said…

    gay.. gay.. kapan sih dunia mengakui kita? huff..

     
  • At 7:53 PM, Blogger dodY said…

    wow... dgn tulisan setajam ini seharusnya blog anda bisa mendapat lebih banyak hit dan comments. selamat dan sukses selalu utk tulisan-tulisan yang tajam dan "menggigit" :-)

     
  • At 5:29 PM, Blogger nano said…

    gay enaknya
    cba ada yg mw ngentot ma gw
    gw mw nyobain kontol org

     
  • At 8:20 PM, Blogger abeltian said…

    sip deh.. tulisannya seru juga... tapi jangan sampai kelewatin acaranya heaven yang tiap setahun sekali .. yaitu malam tahun baru.. acaranya pasti seru abis.. dan rada gila2an.. acara yang paling berkesan waktu itu 2 tahun lalu.. temanya foam party.. wah.. waktu itu gw mabok berat.. eh tau gak.. gw dah naked.. and cd gw dah kebuka.. banyak banget yang ngoral gw di stage lagi.. wiiih.. bener2 asik banget tuh..

     

Post a Comment

<< Home