more

dari sudut lain memandang dunia

Wednesday, July 26, 2006

Selamat Pagi, Saya Banci

“Mbah ojo dadi banci lho, Mbah…mengko aku ndhak dadi lesbian”


Kalimat berbahasa Jawa --yang artinya: Nek, jangan jadi waria lho, Nek…nanti aku bisa (ketularan) jadi lesbian-- itu meluncur dari bocah perempuan berusia kira-kira 8 tahun. Sutopo, waria yang merupakan nenek angkat dari anak itu, menuturkannya kembali untuk acara televisi bertajuk “Kejamnya Dunia”. Agak mengagetkan bahwa acara yang cenderung mengeksploitasi penderitaan dan kesedihan manusia itu kali ini menampilkan kisah yang cukup mengharukan. Objeknya, waria, tentu saja memang masih sesuai dengan tajuk acaranya. Namun, kali ini porsinya terasa begitu pas, sehingga tak tampak adanya upaya yang berlebihan untuk menggali airmata ratapan “ketidaknormalan”.

Judulnya “Selamat Pagi, Saya Pak Topo” dengan sub judul dalam kurung “Kisah Seorang Waria Menjadi Guru”. Yang terakhir ini terdengar lugu dan naif, selugu adegan-adegan ilustrasi yang diperankan oleh model. Tapi, di luar itu, secara substantif, episode “Kejamnya Dunia” kali ini tidak hanya menarik namun juga berhasil mengundang simpati. Pada beberapa bagian bahkan tampil lucu dan menghibur. Misalnya, pada bagian yang saya jadikan pembuka tulisan ini, ketika Pak Topo mengenang kembali kata-kata salah seorang cucu angkatnya. Dari situ kita tak hanya dihadapkan pada sebuah panorama budaya tertentu yang demikian tulus menerima keberadaan waria. Lebih daripada itu, adegan yang menggambarkan keakraban antara seorang waria yang telah menjadi nenek dengan cucunya itu menjadi simbol dari lebih banyak lagi realitas tentang sebuah masyarakat Jawa yang egaliter.

Adegan lain yang menggambarkan hal yang sama adalah ketika Pak Topo, dengan setting ruang kantor di sekolah tempat ia mengajar, menuturkan bahwa semua rekan-rekannya sesama guru memanggilnya mami. “Sampai kepala sekolah pun memanggil saya mami. Yang tidak memanggil mami cuma guru agama.” Dalam tayangan-tayangan fiktif, sosok waria dilukiskan dengan begitu karikatural bahkan cenderung absurd. Seolah-olah, para kreator di balik acara-acara seperti sinetron itu tak pernah melihat secara langsung sosok seorang waria itu seperti apa. Seolah-olah waria itu makluk lain dari luar spesies manusia yang luar biasa aneh. Dalam “Kejamnya Dunia” episode Pak Topo, waria tampil begitu normal, begitu wajar. Ia seorang guru di sebuah SMK di Yogyakarta, bergaul sebagaimana mestinya dengan lingkungannya dan diterima apa adanya.

Tentu saja ia pernah mengalami masa-masa sulit, ketika hidup diwarnai dengan diskriminasi, penolakan dan perlakuan yang menghinakan dari orang-orang di sekitarnya. Ia pernah mengalami masa-masa tidak disukai orangtuanya karena perilakunya yang “menyimpang”: pagi seorang lelaki berseragam pegawai negeri, malamnya berdandan perempuan dan kelayapan mencari teman-teman sehati. Namun, jatuh bangunnya seorang individu manusia dalam berjuang merebut eksistensinya adalah proses yang biasa dilewati oleh siapa saja, tidak laki-laki, tidak perempuan. Dan, tak terkecuali seorang waria. Pada akhirnya, di samping identitas seksualnya yang oleh umum dianggap menyimpang, pertama kali ia adalah seorang manusia.

Maka, lumrah bila kemudian Pak Topo pun berpikir normatif layaknya manusia lain pada umumnya, yang takut pada hari tua. Tak ingin sendirian dan kesepian, ia mengangkat anak (laki-laki), dan sang anak itu kini telah beristri dan beranak pula. Maka, Pak Topo pun punya cucu dan menjadi seorang yang dipanggil nenek. “Cucu saya yang pertama melarang saya dandan lagi. Mbah ojo dadi banci, lho, Mbah…mengko aku ndhak dadi lesbian, katanya,” tutur dia mengenang.

Dari tayangan-tayangan fiktif –termasuk misalnya yang berklaim relijius, dengan berbagai tajuk, dari “Hidayah” sampai “Taubat” yang menampilkan tokoh kiai di dalamnya-- kita disesatkan sejauh menyangkut sosok-sosok seorang waria. “Kejamnya Dunia” edisi Pak Topo telah memberikan pencerahan yang menyegarkan, dan membuat masyarakat jadi tahu bahwa waria bukanlah siapa-siapa. Ia guru di sekolah kita, ia juga bisa jadi orang tua kita (seperti yang digambarkan dalam film “Realita, Cinta dan Rock N Roll” karya sutaradara Upi Avianto), ia bisa nenek kita, tetangga sebelah rumah kita, yang setiap hari lewat depan rumah kita, menyapa kita atau kita sapa, kita ajak bercanda. Dan, ia tak perlu berteriak, “Aku Bukan Banci Kaleng”.

Selengkapnya!

Tuesday, July 25, 2006

Brokeback Mountain: Muara Ironi

Menerjemahkan sebuah cerita pendek asing ke dalam Bahasa Indonesia dan menerbitkannya dalam sebuah buku barangkali bukan hal yang cukup lazim. Betapa pun “panjang”-nya cerpen tersebut, dan cukup “pantas” untuk dikemas menjadi buku yang berdiri sendiri, bila hal itu dilakukan tetaplah akan menyisakan tanda tanya. Tapi, cerpen “Brokeback Mountain” karya Annie Proulx yang pertama kali dipublikasikan di The New Yorker pada 1997 ini memang terlalu menggoda untuk tidak diterjemahkan -dan kita semua sudah tahu sebabnya. Pertanyaan susulan: mengapa tidak diterjemahkan bersama-sama dengan cerpen Proulx lainnya yang terhimpun dalam Close Range: Wyoming Stories (1999)?

Saya menduga, godaan untuk menerjemahkan dan menerbitkan “Brokeback Montain” ini lebih bersifat ekonomi ketimbang, misalnya ideologis. Meskipun Gramedia Pustaka Utama (GPU) belakangan ini dikenal termasuk salah satu penerbit yang terdepan dalam membantu meningkatkan produksi wacana homoseksualitas melalui karya fiksi, tapi dalam “kasus” cerpen Proulx ini justru agak sulit membayangkan bahwa hal itu dilakukan secara sengaja untuk ikut memperjuangkan eksistensi kaum homoseksual di Indonesia dalam level wacana. Meskipun, memang, tak ada tuntutan juga untuk memenuhi hal itu. Tapi, setidaknya, ini cukup menjadi penjelasan paling awal betapa “Brokeback Mountain” telah menjadi ironi besar, muara dari begitu banyak ironi yang selalu menyelimuti wacana homoseksualitas.

Puncak dari segala ironi itu terjadi pada perhelatan Piala Oscar, 6 Maret lalu, ketika film yang diangkat dari cerpen tersebut, yang dijagokan dan diyakini oleh “seluruh dunia” akan memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik, ternyata tidak terbukti. Proulx, lewat “Brokeback Mountain” telah membuat homoseksualitas menjadi begitu “normal”, begitu wajar dan alami, dan dengan demikian begitu mudah diterima oleh semua orang. Tapi, untuk diakui “kebenarannya”, ternyata, nanti dulu! Orang mulai bicara tentang cinta-yang-universal, cinta-yang-mengatasi-jenis-kelamin, tapi tetap menyembunyikan homoseksualitas itu sendiri. Orang masih takut dengan formalitas istilah, dengan 'label' resmi. Tak ada yang pernah menyebut Ennis maupun Jack -dua koboi dalam cerpen yang sedang dibicarakan ini sebagai gay.

Proulx sendiri tak sekalipun menggunakan istilah itu dalam cerpennya ini. Sebab, pada tahun itu, 1963, ketika Ennis dan Jack pertama kali bertemu, kata 'gay' memang belum populer, bahkan mungkin belum ada. Tapi, hubungan mereka kemudian berlanjut, setelah keduanya sempat berpisah dan masing-masing beristri dan beranak, sampai tahun 1980-an, jauh setelah gerakan-gerakan kaum gay marak di Amerika menuntut persamaan hak. Bahkan, ketika mereka bertemu lagi setelah empat tahun berpisah itu, Ennis masih berkata, “Aku tahu aku bukan begitu...” Jauh sebelum itu, ketika mereka baru pertama kali terlibat dalam pengalaman seksual berdua, masing-masing menegaskan diri dengan perkataan, “Aku bukan banci.” Tapi, apa yang bergejolak di dalam hati tak bisa diingkari.

Ketika keduanya bertemu lagi, pertautan perasaan di antara mereka makin menebal bahkan sampai membuat Ennis, dalam bahasa Serat Centhini, “melupakan kenikmatan tubuh istrinya”. Hingga akhirnya rumah tangga Ennis pun bubar dan api asmaranya untuk Jack makin berkobar. Mulai ada rasa cemburu, yang memuncak dengan pertengkaran ketika Ennis bertanya apakah Jack pernah ke Meksiko. Proulx melukiskan pentingnya pembicaraan ini: Meksiko adalah tempatnya. Ennis pernah mendengarnya. Dia melangar batas sekarang, memasuki topik berbahaya.

Ternyata, selama mereka berpisah, Jack berhubungan seks dengan lelaki lain. Ennis marah, tapi Jack tak mau disalahkan, dan Proulx melukiskan konflik ini dengan dialog yang indah, meluap-luap dan menyentuh. Dan, sejauh itu, Proulx tak pernah mengklaim karyanya ini sebagai “cerpen-gay”. Ia hanya memaksudkannya sebagai bagian dari cerpen-cerpen “observasi-sosial” yang diangkatnya dalam kumpulan “Closing Range” -tak ada misi khusus, tak ada pesan khusus. Tapi, sebuah teks tetap saja -dan memang sudah semestinya- bisa dianalisis berdasarkan teks-nya itu sendiri, dan bukan berdasarkan kemauan pengarangnya. Kalau sebagai karya film, “Brokeback Mountain” betapapun masih dianggap terlalu kontroversial untuk Amerika, maka sebagai cerita pendek yang tercetak dalam lembar-lembar buku, ia telah melelehkan kebekuan wacana homoseksual dalam fiksi.

Pada akhirnya, ironi-ironi tadi kemudian terbayar dengan kekuatan teks-nya sendiri. “Brokeback Mountain” karya Proulx telah menggugurkan dekor-dekor stereotip yang selalu “menghiasi” fiksi-fiksi bertema homoseksual. Sepasang cowok yang jatuh cinta pastilah terdiri atas satu cowok macho dan satu cowok lemah-lembut. Dalam sejumlah novel gay yang terbit di Tanah Air, seperti “Kaubunuh Aku dengan Cinta” (Andy Lotex), “Manusia-manusia” (Bagus Utama), “Lelaki Terindah” (Andrei Aksana) hingga “Ini Dia, Hidup” (Ezinky), stereotipisasi itu bahkan terjatuh ke dalam tindakan bunuh diri teks yang fatal: novel-novel dengan tokoh gay itu justru menjadi arena homofobia baru, yang menegaskan kembali norma heteroseksual. Sedangkan Proulx melangkah sangat jauh -ia seperti membuat eksperimen untuk memancing reaksi homofobia langsung ke “pusatnya”: memainkan tokoh-tokoh gay di panggung subkultur yang tertutup, angkuh dan eksklusif bernama koboi.

Abidah El-khaliqy pernah membuat “eksperimen” serupa lewat “Geni Jora” yang memenangkan hadiah kedua Sayembara Novel DKJ 2003. Tapi, ia tak hanya gagal total, melainkan terjerembab dengan pretensinya sendiri. Dalam novel tersebut, secara sekilas-tipis Abidah sempat menyingkap tabir sakral subkultur pesantren perempuan, yang ternyata tak kalis dengan praktik homoseksualitas, dalam hal ini lesbianisme. Novel ini menyimpan potensi untuk menjadi kekuatan yang mendobrak macam “Brokeback Mountain”, sendainya saja Abidah bisa jujur dengan dirinya sendiri. Tapi, seperti kebanyakan penulis lain di Indonesia, ia tidak: ia mengungkap lesbianisme di pesantren dengan tujuan untuk menolaknya, menyembunyikannya. Proulx sebaliknya, mengungkap realitas sebagaimana adanya, tanpa pretensi moral untuk mengomentarinya. Itulah tugas sastra.

Selengkapnya!

Thursday, July 06, 2006

Lesbianisme dan Paradoks Kebahagiaan

Program I-sinema Anteve edisi Selasa (4/7/06) menggulirkan film yang diangkat dari novel karya Alberthiene Endah, Dincintai Jo (Jakarta: Gramedia, 2005). Bersetia pada novelnya, film dibuka dengan pertemuan dua tokoh utamanya, Santi dan Jo di acara pembukaan pameran fotografi. Santi seorang wartawan, dan Jo fotografer. Bagi yang sudah membaca novelnya bisa langsung menebak kelanjutannya. Namun, bagi yang belum pun, kiranya tak teramat susah untuk meraba ke mana arah cerita film ini. Yakni, sejak kita menyaksikan sosok Jo yang stereotip: cewek kelaki-lakian berambut cepak, dengan tatapan mata dan ekspresi wajah yang berbinar-binar saat menghadapi lawan bicaranya, yang sama-sama perempuan itu.

Ya sudah, kita langsung melompat ke bagian ending-nya saja, yang menurut saya cukup menarik: ketika Santi telah menemukan titik kesadaran bahwa ia tak bisa hidup tanpa Jo, justru Jo kini yang tampil dengan kesadaran lain. Dengan arif ia mengakui dirinya selama ini begitu egois karena memanfaatkan keluguan dan keterpurukan Santi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Mendengar itu, Santi mencoba meyakinkan bahwa ia juga mencintai Jo, tapi Jo tetap bersikeras, dengan penegasan: bagi seorang lesbian seperti saya, memaksakan cinta itu sesuatu yang nista.

Tapi, Jo tidak sepenuhnya jujur. Nyatanya, setelah meninggalkan Santi dan masuk ke mobil, ia berkali memukul-mukul stir mobilnya, menumpahkan kekecewaan dan kekesalannya. Kita bisa membacanya sebagai ungkapan ketakberdayaannya merebut kebahagiaan dirinya sendiri: mengapa ketika Santi yang selama ini dikejarnya telah bisa menerima cintanya, ia justru tak punya nyali untuk merengkuhnya, dan justru “sok-bijak” berpetuah tentang ‘cinta yang tak bisa dipaksakan’? Bila Santi sendiri sudah mengakui ‘tidak bisa hidup tanpamu’, mengapa ia justru masih merasa memaksa?

Dicintai Jo menurut saya cukup baik menampilkan sisi paradoks kebahagiaan. Betapa selama ini kita jatuh bangun memburunya, mengejarnya sampai ke ujung dunia dengan segala cara, namun ketika kita berhasil menemukannya di depan mata, begitu dekat dan nyata, dan kita tinggal menjulurkan tangan untuk menjangkaunya, ternyata kita justru tidak siap. Kebahagiaan yang sebelumnya kita impikan, ketika sudah mewujud nyata, tiba-tiba tampak begitu menakutkan. Ternyata kita takut bahagia. Apakah ini problematika khas seorang lesbian?

Selengkapnya!

Media, Gender dan Identitas

Majalah a+ edisi April 2005 lalu tampil dengan sampul yang mengejutkan, dan barangkali tak pernah terbayangkan oleh siapapun: Nicolas Saputra dalam dandanan perempuan. Dengan tata rias yang dikerjakan oleh Gusnaldi, hasil jepretan fotografer Pinky Mirror itu memperlihatkan close up wajah Nico yang manglingi. Ia menjadi cantik dengan bibir merah, alis mata nyaris segaris dan bulu mata palsu yang mencuat lentik.

Sebagai model yang kemudian mencuat lewat film Ada Apa dengan Cinta?, Nico terbilang aktor bercitra high profil. Ia tak main sinetron, selektif memilih tawaran peran main film dan tak dirundung gosip yang aneh-aneh. Pendek kata, citranya baik, lurus. Kabar tentang kehidupan percintaannya yang sesekali muncul di lembar tabloid maupun infotainment –misalnya tentang putusnya hubungan dia dengan model Indah Kalalo- menambah satu poin positif yang penting bagi pencitraan dirinya di hadapan publik: ia laki-laki straight. Penting, karena seksualitas merupakan satu lapis identitas yang paling misterius, dan oleh karenanya menjadi salah satu hal menarik yang selalu mengundang rasa penasaran publik sejauh menyangkut sosok seorang selebritas.

Disadari atau tidak oleh pihak-pihak yang bersangkutan, majalah lifestyle kelas satu terbitan Jakarta yang mengklaim dirinya sebagai “unisex, fashion, lifestyle” itu telah melahirkan Nicolas Saputra sebagai ikon yang mengaburkan hubungan-hubungan keramat antara tubuh, gender dan identitas. Media (massa), termasuk di dalamnya produk majalah, agaknya memang telah menjadi institusi sentral bagi produksi dan sirkulasi diskursif tentang gender dan identitas. Dalam bahasa Michel Foucault, media telah memobilisasi tubuh dalam suatu bentuk tontonan dialektikal berdasarkan dorongan ganda kesenangan dan kekuasaan.

Apa yang dilakukan Majalah a+ sebenarnya bukanlah hal baru dan pertama –dalam konteks bagaimana media menciptakan, melahirkan dan membesarkan sosok-sosok ikonik yang mendekonstruksi pemahaman kita atas identitas-identitas tubuh. Sejak agak lama, kita sudah mengenal desainer Oscar Lawalata yang menerobos batasan-batasan gender dalam berbusana. Hal yang sama kemudian juga kita lihat pada Ivan Gunawan, mantan model yang menekuni dunia rancang busana, tapi belakangan lebih dikenal sebagai presenter acara-acara televisi.

***

Baru-baru ini, sosok Ivan Gunawan menyita perhatian publik lewat sensasi penampilannya. Selebritas berjenis kelamin laki-laki yang sebelumnya selalu tampil dalam gaya –dan tak jarang juga dalam dandanan dan tata rias- feminin ini tiba-tiba mengubah dirinya (kembali) dalam penampakan seorang laki-laki “sejati”. Sebagai sosok artis yang tergolong terkenal, sepak terjang Ivan tentu saja tak pernah luput dari perhatian media –dalam hal ini televisi dan terkhusus lagi tayangan-tayangan infotainment.

Perubahan drastis dan mencolok, serta tentu saja mengejutkan itu, sudah barang pasti memiliki nilai berita yang tinggi bagi berbagai jenis acara gosip artis di televisi. Tak heran bila SCTV, lewat tayangan Ada Gosip edisi Senin (19/6/2006) secara khusus menampilkan sisik-melik transformasi yang dilakukan oleh Ivan tersebut. Bagi dunia infotainment, fenomena Ivan jelas sangat penting untuk memenuhi hasrat veyorisme masyarakat kita yang cenderung ingin tahu kehidupan pribadi orang, terlebih kalangan selebriti.

Namun, di luar konteks komodifikasi industri hiburan televisi, fenomena Ivan Gunawan juga tak kalah penting karena ia telah mengkonkretkan salah satu manifesto terbesar abad ini, yakni bahwa indentitas merupakan sebuah konstruksi sosial. Salah satu pencetus manifesto kontroversial itu adalah Judith Butler yang mengajukan teori performativitas. Inti proposal Butler adalah tidak ada identitas gender di balik ekspresi gender. Melainkan, identitas itu dibentuk secara performatif, berulang-ulang hingga tercapai “identitas yang asli”.

Butler menyerang koherensi yang diharuskan antara identitas gender dan identitas seksual. Seperti telah menjadi wacana yang umum selama ini, setiap orang diharuskan memiliki satu identitas gender yang jelas, yang harus sesuai antara “dalam” (jenis kelamin) dan “luar” (gender: cara berbusana, peran, identitas). Koherensi yang diharuskan inilah yang selama ini digunakan untuk menentukan normal dan abnormalnya seseorang. Bahwa seseorang yang memiliki penis tak punya pilihan lain kecuali harus maskulin, dan orang yang bervagina otomatis harus feminin.

Keberatan semacam itu sebelumnya sudah diajukan oleh Foucault ketika mengangkat kasus tragis Herculine Barbin, seorang hermafrodit Prancis abad XIX. Ketika lahir, Barbin diidentifikasi sebagai perempuan. Namun, setelah serangkaian pengakuannya pada dokter dan pendeta, ia secara hukum diharuskan untuk mengubah seksnya menjadi laki-laki karena karakter maskulin yang dimilikinya. Tertekan oleh seksualitas dan jenis kelamin yang diharuskan itu, Barbin pun bunuh diri.

Menurut Foucault, gagasan tentang keharusan manusia untuk hanya punya satu identitas seks dan gender yang jelas –dan tidak boleh ada identitas in beetween- ini menjadi salah satu strategi yang selama ini digunakan untuk mereproduksi dan melipatgandakan wacana tentang seksualitas. Oleh karenanya, pembangkangan tubuh seperti dilakukan Ivan Gunawan menjadi penting sebagai upaya untuk menciptakan –apa yang disebut pemikir neo-Marxis Italia Antonio Gramsci- “keseimbangan kompromis”.

Memang, kalau kita merujuk Gramsci, maka akan terlihat betapa media merupakan medan pergulatan antara usaha perlawanan yang dilakukan oleh kelompok subordinat dan inkorporasi kelompok dominan dalam masyarakat. Di dalamnya akan terlihat percampuran –yang tak jarang kontrakdiktif- antara berbagai kepentingan dan nilai-nilai yang saling bersaing, yang bergerak di antara resistensi dan kompromi. Majalah a+ barangkali tidak menyangka, jika yang mereka lakukan dengan mendadani Nicolas Saputra sedemikian rupa itu bisa memberi makna simbolik resistensi bagi, misalnya, kaum homoseksual laki-laki terhadap hegemoni budaya heteroseksual dan moral-agama.
Dengan perspektif yang sama, maka kita bisa memaknai suksesnya kemunculan sosok seperti Aming, serta masih bertahannya popularitas Tessy, sebagai simbol keberhasilan budaya minoritas-subordinat merebut ruang di tengah budaya mayoritas-dominan. Televisi sebagai media yang relatif paling popular di masyarakat saat ini telah menjadi arena perebutan perhatian dari tubuh-tubuh yang tak mau patuh, membangkang dari definisi-definisi normatif gendernya dan merayakan pembongkaran identitas-identitasnya.

Selengkapnya!

Dari “Taubat” ke Berbagi Suami: Lesbianisme dalam Pantulan Layar

“Kalau gue lesbi, lu udah gue cium.”

Dengan kalimat seperti itu, Lala meyakinkan Bunga bahwa kedekatan dan kebaikannya tulus belaka. Bunga pun lega mendengarnya, dan tak menaruh prasangka lagi pada Lala. Sebagai teman baru di sekolah, Lala memang misterius bagi Bunga. Kehadirannya seperti malaikat: sejak ada dia, berbagai beban dan persoalan hidup yang dihadapi Bunga satu per satu terselesaikan. Dan, sampai cerita berakhir, sinetron lepas berjudul O Lala Bunga (SCTV, Minggu, 12 Maret 2006 pukul 09.30 WIB) itu memperlihatkan bahwa Lala memang bukan lesbian. Dan, tentu saja memang tidak harus. Tapi, mengapa kalimat seperti dikutip di awal tadi harus muncul hanya untuk menegaskan sebuah ketulusan persahabatan antara sesama perempuan?

Dalam berbagai produk industri budaya pop, homoseksualitas kerap hadir sebagai negasi. Saya langsung teringat sebuah tayangan berklaim relijius, dalam salah satu episodenya mengangkat kisah yang diberi judul Aku Bukan Lesbian (RCTI, Jumat, 10 Februari 2006 pukul 19.00 WIB) Ceritanya begini: seorang gadis tomboi (artinya: berambut cepak, ke mana-mana naik motor) bernama Wiwin harus menghadapi ayahnya yang kasar dan suka memukul. Di kampus, ia berteman akrab dengan seorang perempuan bernama Aga. Keakraban keduanya membuat teman-teman di kampus mengisukan Wiwin lesbian. Seorang cowok yang naksir Aga sampai harus menyebar fitnah untuk menjauhkan gadis pujaannya itu dari Wiwin. Aga pun sempat termakan oleh suara-suara miring yang tak jelas itu, dan mulai menjauhi Wiwin.

Hingga pada suatu saat, Aga tersadar bahwa semua itu tak lebih daripada isu dan fitnah. Ia pun mencari Wiwin untuk meminta maaf. Tapi, segalanya sudah terlambat. Ketika Aga sampai di rumah Wiwin, sahabatnya itu sudah tewas sehabis dihajar oleh ayahnya sendiri. Dan, akhir dari kisah ini bersesuaian benar dengan tajuk acaranya, “Taubat”: lelaki yang gemar menyiksa anak perempuan dan istrinya itu pun bertobat setelah kematian Wiwin di tangannya sendiri. Jadi, untuk apa wacana lesbian(isme) dihembuskan dalam film ini, kalau pesan moralnya sebenarnya lebih ke soal kekerasan (terhadap perempuan) dalam rumah tangga?


***

Sampai detik ini, salah seorang tokoh lesbian Ade Kusumaningrum masih benar ketika dia mengatakan, kata lesbian lebih bersifat asosiatif dan simbolis ketimbang mencerminkan realitas konkret. Di benak banyak orang, demikian menurut Ade, kata lesbian lebih berasosiasi pada sesuatu yang seksi, sensual, erotis dan cenderung pornografis (Lesbian Jakarta, Komunitas Bayang-bayang, Majalah Djakarta, Oktober 2003) Kalimat yang saya kutip di awal tulisan tadi adalah contoh yang sangat baik, yang menggambarkan betapa masih rancunya pemahaman awam atas lesbianisme. Dengan dangkal dan serampangan, lesbianisme diidentikkan dengan perempuan yang kalau melihat sesama perempuan matanya ijo, dan langsung bernafsu untuk menciumnya.

Ade juga masih benar ketika mengatakan, sampai saat ini lesbian hanyalah kata yang ketika diucapkan akan membuat orang langsung pasang perhatian lebih, begitu juga ketika dituliskan pada headline ataupun cover media-media cetak. Atau, ketika digembar-gemborkan sebagai tema dalam sebuah film. Kalimat seperti ini --Udah nonton filmnya Cornelia Agatha? Yang dia jadi lesbian itu…”—terdengar di banyak tempat dan berbagai kesempatan ketika film Detik Terakhir diputar di biskop-bioskop di Jakarta awal Oktober 2005 lalu. Cornelia dan lesbian. Popularitas seorang artis yang bercitra high profile bertemu dengan sebuah tema yang “sensitif”. Dua potensi itu telah melambungkan film yang diangkat dari novel best seller berjudul “ajaib”, Jangan Beri Aku Narkoba karya Alberthiene Endah. Tidak hanya judulnya yang kemudian diganti, ending-nya pun dibuat tidak sama dengan novelnya.

Alberthiene yang juga ikut menulis skenarionya mengubah beberapa bagian, menghilangkan bagian tertentu dan membuat beberapa penambahan yang tak ada dalam novel. Pada novel misalnya, tokoh Vela akhirnya menganggap bahwa (pertemuannya, yang berlanjut pacaran dengan) Regi (yang dalam novel bernama Arimbi) adalah sebuah kesalahan dalam hidupnya. Oleh karenanya, ia pun meminta Regi untuk meninggalkannya. Sedangkan, dalam film, Vela yang pada bagian akhir cerita mengaku telah menjual tubuhnya kepada bandar (narkoba), kemudian dikisahkan mengidap AIDS. Tapi, Regi menegaskan bahwa ia tak menyesal telah mencintai Vela. Dengan begitu, hubungan cinta lesbian mendapat representasi yang positif dalam film ini.

Tapi, novel adalah satu hal dan film adalah hal yang lain. Semangat ketegaran manusia-manusia yang dianggap sampah masyarakat dalam berjuang menegakkan eksistensinya, yang memberi nafas kuat keseluruhan alur novel, di layar lebar berubah menjadi balada kecengengan yang penuh uraian airmata. Terlalu banyak tangis yang pecah, yang pada satu titik adegan tertentu terasa begitu membosankan. Lesbianisme menjadi identik dengan penderitaan tiada akhir, hidup yang muram dan penuh ratapan kesedihan. Belum lagi, kalau kita menilik bagaimana “sejarahnya” Regi menjadi lesbian. Di sini, lesbianisme didekati sebagai wacana dendam, yang lahir dari kekecewaan.

Sejak kecil, Regi (Cornelia) hanya menyaksikan papa dan mamanya –sebuah keluarga pengusaha ternama- bertengkar karena masing-masing berselingkuh. Trauma itu sedikit banyak membentuk kepribadian Regi yang kemudian tumbuh menjadi perempuan yang tak mempercayai institusi rumah tangga yang terdiri atas laki-laki dan perempuan. Kebencian itu menuntunnya untuk mencintai sesama jenis kelaminnya. Salah seorang temanya di kampus, Helena (Shanty) menjadi batu ujian pertamanya, tapi ia mundur karena masih ragu. Baru, setelah ketemu Vela (Sausan) di komunitas pengguna narkoba, Regi merasa makin yakin dengan orientasi seksualnya sebagai seorang lesbian. Artinya, lesbianisme yang muncul dalam Detik Terakhir pertama kali hadir sebagai “dampak”, pengaruh dari sesuatu yang mendahuluinya: karena dibesarkan dalam keluarga yang pecah, maka ia “menjadi” seorang lesbian. Dan, karena lesbianisme tersebut hadir bersama-sama dengan tema narkoba, maka kita juga bisa membacanya secara simbolik, bahwa menjadi lesbian adalah sebuah pelarian.

***

Film karya terbaru sutradara Nia Dinata, Berbagi Suami menyelipkan isu lesbianisme dalam panorama yang kurang lebih serupa, tapi tak sama. Serupa, karena menampilkan lesbianisme sebagai sebuah bentuk perlawanan. Tapi, tak sama: Detik Terakhir merupakan refleksi yang nyaris utuh atas penggambaran lesbianisme secara stereotip dan sempit, menyimpang dan aneh. Hubungan antara Regi dan Vela diletakkan dalam kotak narasi antitesis, pelanggaran atas norma seks dan gender, penyempalan dari moral-alegoris impian masyarakat patriarkis-heteroseksis. Sehingga salah satu atau keduanya harus dihukum, dengan penyakit AIDS misalnya. Secara performatif, mereka digambarkan sebagai sosok-sosok yang feminin, namun tak punya spesifikasi gender. Mengenakan pakaian uniseks, namun mengikuti pakem karikatural penyosokan pasangan perempuan lesbian sebagai butch (Vela yang kelaki-lakian dan berambut pendek) dan femme (Regi yang cantik dan berambut panjang).

Sementara, lewat Berbagi Suami, lesbianisme untuk pertama kalinya mendapatkan penggambaran yang begitu normal dan wajar. Keberhasilan mengangkat tema homoseksualitas lewat Arisan, agaknya mendorong Nia untuk mencoba memainkan kembali tema yang sama dalam karyanya kali ini, namun dengan subjek perempuan. Kendati tidak mendapat porsi representasi sebesar dalam Arisan, namun homoseksualitas cukup memegang kunci untuk membuka pemahaman yang komprehensif atas film Nia kali ini, yang mengangkat tema besar tentang poligami. Berbeda dengan Arisan yang secara struktur cerita mengambil cara bertutur yang konvensional, Berbagi Suami menampilkan formula yang tak biasa: tiga fragmen yang berbeda dituturkan berurutan layaknya bab demi bab dalam sebuah buku, namun pada saat yang bersamaan ketiganya saling bersinggungan dalam kilas lembut laku dan wicara tokoh-tokohnya.

Kalau tadi dibilang tidak biasa, tentu maksudnya dalam konteks perfilman di Tanah Air yang selama ini memang belum pernah ada yang menampilkan gaya ucap seperti itu. Namun, dalam konteks yang lebih luas, struktur serupa pernah kita saksikan lewat film Amores Perros karya sutradara Alejandro Gonzales. Nia melakukannya dengan tak kalah halus dan memikat dalam merangkai tiga kisah yang seolah-olah berjalan sendiri-sendiri dan tak saling berhubungan itu. Pilihan pada struktur cerita semacam itu, ditambah dengan kepiawaian Nia menciptakan detail adegan dan dialog-dialog yang tangkas, sungguh efektif menciptakan mood yang menghanyutkan.

Lebih daripada itu, struktur semacam itu memungkinan Nia untuk menciptakan suatu hierarki wacana –memakai konsep Colin MacCabe (1976)- yakni, pandangan-pandangan yang berbeda atas satu realitas yang disampaikan dalam waktu yang bersamaan. Dengan rujukan konsep ini, maka Berbagi Suami menjadi sebuah medan penggambaran realitas sosial dari berbagai perspektif sekaligus. Fragmen pertama, yang mengalir dari tuturan (sudut pandang) tokoh Salma (Jajang C Noer), mewakili perasaan seorang perempuan istri pertama yang harus menerima kenyataan suaminya berpoligami. Fragmen kedua, yang mengalir dari tuturan tokoh Siti (Shanty), mewakili perasaan perempuan yang akan dijadikan istri ke sekian dari laki-laki. Sedangkan fragmen ketiga, yang mengalir dari tuturan tokoh Ming (Dominique A Diyose), mewakili perasaan perempuan yang dipinang sebagai istri muda sekaligus madu dari perempuan yang telah dikenal dekat dan baik sekali dengannya. Di samping itu, masing-masing fragmen juga mewakili lebih banyak lagi aspek, dari perbedaan generasi, etnis dan budaya hingga kelas sosial.

Di sinilah ketelitian Nia benar-benar teruji: ia mengerti benar materi yang hendak disampaikannya, yang membutuhkan banyak cara untuk melihatnya.
Nia agaknya tahu benar bahwa mengangkat tema poligami dalam sebuah film tidak sama dengan mengangkat tema kontroversial lainnya. Fenomena poligami, dalam masyarakat kita, jauh lebih gawat dari sekedar apa yang bisa dirangkum dengan kata ‘kontroversial’. Tema ini tidak hanya bersentuhan dengan “watak” budaya sebuah etnis masyarakat tertentu, melainkan juga akan berhadapan dengan kebekuan doktrin lembaga agama. Kesadaran ini membuat Nia begitu hati-hati dalam setiap geraknya, bahkan terkesan menjaga jarak secara berlebihan sehingga tatapannya menjadi gamang, serba ambigu.

Dalam berbagai kesempatan bicara dengan media, Nia selalu mengungkapkan ketidaksetujuannya pada praktik poligami dengan alasan apapun. Dan, sikap inilah tentunya yang mendasari lahirnya Berbagi Suami. Namun, teks yang kemudian tertangkap diri film ini secara keseluruhan menurut saya justru penggambaran yang serba manis dari praktik poligami itu sendiri. Para pelaku poligami dalam film ini, yakni Pak Haji (El Manik), Pak Lik (Lukman Sardi) dan Koh Abun (Tio Pakusadewa) disosokkan sebagai lelaki-lelaki yang mengundang simpatik: “tidak sama dengan laki-laki lainnya” (seperti pujian salah satu istri muda Pak Haji), serta penuh cinta, tulus dan begitu bertanggung jawab (seperti diperlihatkan Koh Abun pada Ming sang istri muda).

Dan, kita menjadi tidak simpati kepada Ming. Jika dalam konteks perdebatan tentang poligami selama ini, pihak yang menolak beralasan bahwa perempuan selalu menjadi korban, dalam kasus Ming-Koh Abun, siapa sebenarnya korban? Ming yang masih muda dan punya banyak pilihan, ternyata menerima pinangan Koh Abun karena ia menginginkan materi, sebagai batu loncatan untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pemain film. Artinya, kisah Ming-Koh Abun lebih merupakan drama urban metropolitan biasa ketimbang menukik ke isu poligami yang merugikan perempuan.
Secara keseluruhan, dari ketiga fragmen yang disajikan Nia dalam Berbagi Suami, nyaris tak ada adegan yang bisa dibaca sebagai bentuk penolakan –baik keras maupun lunak- atas poligami. Kemarahan Salma saat pertama tahu Pak Haji punya istri lain bahkan tak digambarkan dengan kuat, dan hanya berupa reaksi kemarahan sesaat. Setelah itu yang ada hanya kepasrahan.

Satu-satunya bagian yang paling siap untuk menjadi sikap menolak poligami adalah larinya Siti bersama salah satu madunya, Dwi (Rieke Diah Pitaloka) dari lelaki yang mempoligami mereka, Pak Lik (Lukman Sardi). Tapi, itu pun terjadi karena pertama-tama lebih didorong oleh rasa cinta yang tumbuh di antara mereka, dan bukan karena dari awal merasa tersiksa karena dipoligami. Di sinilah, tema homoseksualitas perempuan atau lesbianisme muncul; dan bagaimana kita mesti membacanya dalam konteks isu besar poligami yang menafasi seluruh alur film ini?

***

Fragmen Pak Lik dan istri-istrinya tampil pada urutan kedua dari tiga segmen dalam Berbagi Suami. Ia seorang sopir di sebuah rumah produksi yang dikisahkan baru saja kembali dari kampung, dengan membawa serta salah seorang keponakannya yang masih polos, Siti. Perempuan lugu ini dijanjikan akan dicarikan pekerjaan, dan harus tinggal bersama dua istri Pak Lik, Dwi dan Mbak Sri (Ria Irawan). Namun, dalam perkembangannya, Siti pun diambil istri oleh Pak Lik atas persetujuan dan bahkan dorongan dari Dwi dan Mbak Sri. Pak membagi malam-malamnya untuk tidur bersama masing-masing istrinya itu secara adil. Maka, ketika tiba giliran Pak Lik tidur bersama Mbak Sri, Siti yang merupakan istri terbaru merasa kesepian. Dwi merasa kasihan melihat madunya yang termuda itu, dan pada suatu malam memintanya untuk mendekat, tidur di sisinya.

Dari situlah, Siti lambat laun mulai menemukan pelarian dari perasaannya yang sunyi sebagai istri ketiga yang tak selalu didampingi suaminya. Benih-benih cinta pun mulai tumbuh di hati Siti –ia cemburu setiap kali tiba giliran Dwi tidur bersama Pak Lik. Perasaan senasib sebagai perempuan yang dipoligami akhirnya membuat Dwi juga mulai mempertimbangkan cinta Siti. Begitulah, diam-siam mereka menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih, atau bahkan sepasang suami istri, dengan berbagai rencana masa depan menggelayuti benak mereka. Dwi dan Siti mulai menabung dan merencanakan sebuah pelarian pada hari yang baik. Sebuah resensi online menyebutkan, lesbianisme dalam Berbagi Suami adalah hukuman Nia untuk perempuan yang lari dari laki-laki yang mempoligami mereka (Dyah Maro, Berbagi Suami: Membaca Perempuan di Mata Nia, situs layarperak.com, 28 Maret 2006).

Bagi saya, belum pernah lesbianisme ditampilkan se-“alami” dalam Berbagi Suami. Nia sungguh dahsyat menggambarkan bagaimana cinta tumbuh di antara Siti dan Dwi dari hari ke hari: diam namun penuh rasa, dan begitu meyakinkan. Namun, perlu diberi catatan khusus dari awal, mengingat lesbianisme dalam film ini diletakkan dalam kerangka tema besar poligami, maka tidak bisa tidak, pertama kali orang akan melihatnya sebagai sebuah bentuk perlawanan. Dalam hal ini, perlawanan perempuan, atau lebih tepat lagi, perempuan korban (poligami) laki-laki. Dalam novel Tarian Bumi (1999) karya Oka Rusmini, lesbianisme juga tampil sebagai bagian dari perlawanan (politik) perempuan atas dominasi laki-laki. Bedanya: jika pada Tarian Bumi, Oka menampilkannya dengan penuh teriakan, menggebu-nggebu, maka pada Berbagi suami, Nia seolah berbisik lirih namun justru terasa lebih kuat daya gugatnya.

Tokoh lesbian dalam Tarian Bumi begitu emosional membenci laki-laki dan berpretensi ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa hidup tanpa laki-laki. Sedangkan dalam Berbagi Suami, Siti dan Sri memang awalnya dipersatukan oleh perasaan yang sama sebagai korban, namun selanjutnya yang lebih mengemuka adalah perasaan masing-masing sebagai individu perempuan yang mengetahui bahwa mereka berhak menentukan nasib sendiri. Mereka pun melakukan perlawanan: menabung dan merencanakan pelarian. Mereka sadar bahwa hidup melarat (dan dalam kungkungan poligami pula) tidaklah gemerlap, sehingga ingin memperoleh uang sendiri demi mencapai impian-impian kemandirian, termasuk cinta “sejati”, dan demi keamanan mereka sendiri, sekaligus demi perubahan sosial.

Selengkapnya!

Teks, Perspektif, Penyimpangan

Sapardi Joko Damono suatu kali pernah disibukkan dengan problem pembacaan berkaitan dengan ideologi gender yang tersirat di balik sebuah teks, ketika menghadapi cerpen-cerpen Linda Christanty. “Sebagai (pembaca) laki-laki, sulit bagi saya membayangkan, dagu (laki-laki) kok seksi.” Ujaran Sapardi itu merujuk pada cerpen berjudul Lubang Hitam (dalam Kuda Terbang Maria Pinto, Jakarta: Katakita, 2004), pada bagian ketika tokoh perempuan bernama Tina “tak berkedip menatap pria itu…jejak cukuran kumis si pria yang kehijauan membuat dagu belahnya tampak seksi.” Apakah Sapardi harus menjadi perempuan, seperti Tina, untuk bisa menyelami teks tersebut?

Membaca imajinasi penulis-penulis generasi sekarang, dan dalam pembicaraan ini khususnya yang berjenis kelamin perempuan, agaknya memerlukan perspektif baru yang mampu memaknai teks secara “benar”. Dalam sebagian besar karya-karya mereka –sebutlah penulis generasi (setelah) Ayu Utami- kita akan mendapati sebuah dunia, orang-orang, berikut alam pikirannya yang sama sekali berbeda. Sebagai gambaran awal, ada baiknya kita tengok lebih dalam cerpen Linda tadi. Tina adalah perempuan yang percaya bahwa nenek moyang manusia itu ikan. Tapi, Tante Sin, adik ibunya, menyebut binatang lain ketika beberapa kali bicara tentang laki-laki. Jangan percaya pria. Mereka semua kucing pada dasarnya. Tina pun jadi berpikir, ayah juga kucing. Dan, Tina kemudian memang mendengar dan melihat sendiri lebih banyak lagi: ayahnya punya perempuan simpanan. Ibunya juga punya lelaki lain, tapi mereka tewas dalam kecelakaan mobil. Anehnya, setelah ibu meninggal, hubungan ayah dan kekasih gelapnya itu justru bubar jalan. Pada suatu hari, ayah yang sedang mabuk memperkosa Rena, kakak Tina. Di hadapan sang adik, Rena menangis dan berkata, “Ayah sudah minta maaf, tapi aku ingin lagi.”

Alkisah, setelah itu, Tina melanjutkan kulihnya ke Australia dan di sana ia pacaran dengan (sesama) perempuan, bernama Natalie. Tepat setelah ia lulus, datang kabar bahwa ayah mati mendadak. Tina pun pulang, meninggalkan Natalie. Di kampung halaman, Tina bertemu dan berkenalan dengan seorang pria peniup saksofon di sebuah kafe. Tepat setahun setelah kematian Ayah, Tina melahirkan bayi dari hasil hubungannya dengan sang pria. Tapi, pria itu sudah pergi sejak bulan pertama kehamilan Tina. Sedih? Tidak. Sejak awal mereka sepakat having fun. Dan, bayi itu mati dalam kandungan.

Di tangan Linda, cerpen adalah kerumitan yang luar biasa yang dijalin dari kejadian-kejadian yang tak biasa pula. Teks bagaikan lalu lintas informasi yang riuh, susul-menyusul, seperti keping-keping mozaik yang tak beraturan. Apa yang disebut sebagai peristiwa, jika memang ada, bukanlah sesuatu yang terjadi saat ini, melainkan hadir sebagai tuturan kisah dari masing-masing tokohnya, dalam bentuk ingatan-ingatan yang datang kembali secara acak. Tiba-tiba ia masih anak usia dua tahun, berbaju katun motif ikan mas koki bordiran, sedang makan telur rebus. Tiba-tiba dia sudah terlempar pada tahun yang sekarang, minum anggur di kamar hotel. Ingatan manusia berlaku acak.

Tokoh-tokoh, dalam cerpen Linda, merupakan semesta pembicaraan yang lain, yang tak kalah rumit dibandingkan dengan hubungan-hubungan antartokoh itu sendiri. Rena misalnya, sejak kanak-kanak sudah beberapa kali dibawa ke psikiater karena menderita skizofrenia paranoia. Ia pernah mencoba mencekik pembantu di rumah, lari bugil keliling rumah dan mengaduk-aduk kotorannya sendiri di lantai ruang tamu. Ketika dewasa, oleh sang ayah Rena dijodohkan dengan keponakan jauh, tapi pernikahan mereka hancur, dan Rena menjadi janda. Belakangan Rena mengaku, dialah sebenarnya yang membunuh ayah, dengan mencampurkan pil tidur dalam whisky. Cerpen ini ditutup dengan kisah Tina yang kemudian menjalin hubungan dengan Lilian. Dia bertemu Lilian dua minggu lalu di sebuah galeri. Mereka saling jatuh cinta. Tapi, tak ada yang bisa menggantikan Natalie. Di akhir cerita, Tina bunuh diri dengan terjun dari jendela kamar lantai atas, pada pagi hari setelah semalaman bercinta dengan Lilian.


***

Cerpen Lubang Hitam karya Linda adalah sebuah panggung bagi pribadi-pribadi dengan biografi yang kelam, yang lahir dari sebuah keluarga yang jauh dari gambaran ideal tentang keluarga bahagia dalam buku pelajaran sekolah atau iklan teh celup. Salah satu hasil dari keluarga yang carut-marut itu adalah lahirnya sosok-sosok yang punya kecenderungan sakit jiwa. Termasuk di dalamnya, kalau kita baca teks Linda, individu yang memiliki orientasi seksual yang dalam ukuran normal dianggap menyimpang.

Panorama imajinasi yang sama tampak dalam cerpen Ucu Agustin berjudul Anak yang Ber-Rahasia (dalam Rahasia Bulan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006). Ayah dalam cerpen ini punya perilaku yang sama dengan ayah dalam cerpen Linda: ia memerkosa anaknya sendiri. Bedanya, dalam cerpen Ucu, anak yang diperkosa oleh sang ayah itu laki-laki. Hal itu terjadi ketika usia sang anak delapan tahun. Dua bulan setelah ulang tahunnya yang ke duapuluh ia pergi. Setelah itu dikisahkan, ia berpacaran dengan (sesama) laki-laki. Tak pelak, cerpen ini menghadirkan kesimpulan tunggal bahwa homoseksualitas tokoh tersebut disebabkan oleh trauma psikologis masa lalu akibat peristiwa perkosaan oleh ayahnya sendiri itu. Pada Linda, biseksualitas tokoh Tina kemungkinan besar disebabkan oleh keluarganya yang berantakan, ditambah dengan peringatan tantenya tentang ‘semua pria kucing’.

Dalam nafas yang masih kurang-lebih sama, tokoh lesbian dalam cerpen Stefanny Irawan, Ketika Hangat Lupa Pulang pada Teh (dalam Tak Ada Kelinci di Bulan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006) punya masa lalu yang agak berbeda. Waktu masih kecil, ‘aku’ sering diajak ayahnya makan mie ayam di sebuah warung yang merangkap sebagai tempat semacam lokalisasi bagi laki-laki penggemar seks kilat. Suatu hari, ‘aku’ memegorki ayahnya sedang melakukannya dengan seorang perempuan di kamar belakang warung. Agak susah mengaitkan kejadian masa lalu itu dengan homoseksualitas sang ‘aku’ ketika ia dewasa. Tapi, penekanan cerpen Stefanny memang bukan pada homoseksualitasnya itu sendiri, melainkan pada sensasi seks kilat yang memerlukan strategi tersendiri agar tidak kepergok orang, termasuk anaknya sendiri.

Dan, sebagaimana Linda dan Ucu, Stefanny juga sama sekali tidak memberikan klaim eksplisit tentang orientasi seksual tokohnya. Tak ada kata lesbian, dan pada kenyataannya, tokoh ‘aku’ pada cerpen Stefanny punya anak. Ada kemungkinan dia biseksual juga seperti Tina dalan cerpen Linda, tapi kemungkinan lain juga bisa terjadi: bisa saja anak itu hasil adopsi setelah ‘aku’ memutuskan untuk hanya berhubungan dengan perempuan, yang oleh sang anak dipanggil ‘tante’ itu. Dengan demikian, tokoh-tokoh dan cerita dalam cerpen-cerpen tersebut memang memerlukan pembacaan secara kritis, dengan menimbang berbagai kemungkinan karena teks-nya sendiri menolak untuk berterus-terang. Mungkin inilah salah satu ciri karya sastra, dengan kesengajaan memberikan ambiguitas pada pembacanya untuk memperkaya pemaknaan.

Masalahnya sekarang, sudah siapkan kita dengan perspektif yang memadai untuk melihat teks-teks semacam itu? Saya jadi teringat bagaimana Maman S Mahayana membedah novel N Riantiarno, Cermin Merah (Jakarta: Grasindo, 2004) yang secara eksplisit (jelas-jelas) menempelkan identitas gay pada tokoh-(tokoh)nya. Jangankan menelisik, apakah penokohan gay dalam novel itu memang substantif, atau hanya tempelan belaka, yang jika diganti dengan identitas lain tidak mengubah cerita. Maman bahkan masih hanya berputar-putar dalam terma-terma standar yang kabur, semisal “problem psikologis”, “letupan hasrat terpendam”, dan “percintaan menyimpang”. Bagi Maman, homoseksualitas tokoh novel tersebut tak lebih dari bagian tema besar tentang penyimpangan. Sumber segala penyimpangani itu adalah penculikan…yang dilegitimasi atas nama negara. Penyimpangan ini menular pada hubungan seks dan ekses lain.

Bagaimana kikuknya Sapardi membaca “dagu seksi” pada cerpen Linda sudah cukup membuktikan, bahwa perspektif perempuan yang selama ini sudah populer dan lazim untuk membaca teks karya sastra saja (ternyata) belum cukup diakrabi oleh kritikus. Sementara, di luar sana, dalam taman sastra kita telah berkembang subur teks-teks yang sudah tidak memadai lagi untuk sekedar dibaca dengan perspektif perempuan. Teks semacam yang disuguhkan Linda, Ucu dan Stefanny, dengan contoh cerpen masing-masing, secara khusus memerlukan perspektif homoseksual untuk memahaminya. Benarkah, misalnya, keluarga yang berantakan melahirkan anak-anak yang cenderung homoseks? Atau, sebaliknya, masih relevankah bicara homoseksualitas hanya sebatas problem trauma masalalu dan pengaruh lingkungan? Benarkah ada faktor-faktor yang bisa membuat seseorang menjadi gay, lesbian atau biseks? Di atas semua itu, apakah penulis-penulis kita memperlakukan tema homoseksualitas sebagai bagian dari wacana sosial-politik, atau (masih) sekedar melihatnya sebagai “tema kontroversial” -sehingga dengan menuliskannya sang sastrawan akan mendapat pujian tinggi sebagai “pendobrak tabu yang berani menyentuh tema-tema sensitif”?

Selengkapnya!

Thursday, February 16, 2006

Bapakku

Malam itu, aku masuk ke kamar bapak. Bau pesing dan aroma tahi langsung menyerbu hidungku tapi tak kuhiraukan. Sudah seminggu bapak terbaring tak berdaya di tempat tidur, tanpa bisa bergerak ke mana-mana. Ia kencing dan berak di kasur, dan aku mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Kulihat mata bapak terpejam, tapi aku menduga ia belum tidur. Telapak tangannya yang memeluk bantal di atas perutnya bergerak-gerak, seolah mengikuti ketukan sebuah irama musik yang tengah mengalun. Tapi, tak ada suara di kamar itu selain desah napas bapak yang beraturan, yang menyebabkan perutnya yang buncit tertutup bantal bergerak naik-turun. Tubuh bapak hanya terbalut kain sarung yang menutupi sebagian perut hingga bawah lututnya. Kulihat sarung bapak basah, tentu oleh air kencing.

Kuurungkan niatku untuk menyapanya. Kubalikkan badanku, tapi sebelum tanganku mencapai gagang pintu, kudengar bapak memanggilku.
“Lintang, kok belum tidur?”
Aku berbalik dan kembali mendekat.
“Bapak juga belum tidur?”
“Jangan khawatirkan bapak,”
“Saya hanya mau memastikan apakah bapak baik-baik saja.”
“Mana mungkin aku baik-baik saja anakku? Separo badanku lumpuh, aku tak bisa ke mana-mana selain berbaring di tempat tidur seperti kain basah yang teronggok…”
“Pak! Maksudku, saya ingin memastikan apakah bapak sudah tidur.”
“Bagaimana orang bisa tidur di atas kasur yang basah dan bau pesing ompolnya sendiri.”
“Sini, Pak, biar saya ganti sarung Bapak.”
“Tidak usah, nak, percuma, sebentar lagi bapak pasti akan kencing lagi, dan terus kencing lagi sepanjang malam.”
“Mestinya bapak kalau mau kencing bangun, dan kencing di pispot yang sudah saya sediakan.”
“Bapak nggak pernah tahu kapan akan kencing, selalu saja tiba-tiba kasur di bawah paha bapak sudah basah.”

Aku menghela napas paling berat yang bisa dihela oleh orang yang tengah mengahadapi sebuah kenyataan terpahit dalam hidupnya.
“Ya, sudah, Pak, tidur, kalau perlu apa-apa panggil saya.”
“Kamu nggak pernah mendengar kalau Bapak panggil.”
“Mungkin suara Bapak kurang keras.”

***

Aku bangun dengan ingatan pada Bapak. Sejak dulu aku selalu memendam ketakutan tertentu pada orang sakit. Entahlah, aku selalu berpikir, orang sakit akan meninggal pada pagi hari. Maka, inilah kesibukanku setiap pagi sejak bapak mengalami kelumpuhan pada separo badannya: terburu-buru membuka pintu kamar bapak dan memastikan apakah perutnya yang buncit masih bergerak naik-turun sebagai pertanda bahwa ia masih bernafas.

Biasanya, bapak masih tidur ketika aku menenggoknya pertama kali pada pagi hari. Bila begitu, aku akan kembali ke kamar, melanjutkan tidurku barang satu atau dua jam. Ketika aku bangun lagi, kutengok kembali kamar bapak dan biasanya kudapati bapak sudah bangun.

Dan, kumulailah ritual yang sebelumnya tak pernah kubayangkan akan kulakukan sepanjang hidupku: mengganti sprei penuh tahi dan air kencing, dan mengelap seluruh tubuh bapak dengan handuk basah. Setelah itu, kubikinkan bapak sarapan. Biasanya dua gulung omelet dan secangkir kopi. Aku juga membuat sarapan yang sama untuk diriku sendiri. Tapi, pada hari ketiga sakitnya, ia minta nasi uduk. Kalang kabut aku mencari nasi uduk pada pukul 8 pagi seperti itu. Setelah bertanya kepada tetangga sebelah, aku berhasil menemukan warung nasi uduk di dekat pasar tak jauh dari rumah.

Tiba-tiba aku merasa telah menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus sebuah keluarga. Tapi, setelah kupikir lagi, tak seharusnya aku punya perasaan seperti itu. Aku hanyalah anak bapakku, yang kini sehari-hari tergolek tak berdaya di tempat tidur. Siapa lagi yang akan mengurusnya kalau bukan aku? Para tetangga, terutama ibu-ibu yang suka berkumpul dan menggosip, saling berbisik menyatakan keheranannya atas apa yang kulakukan. Lelaki semuda itu, bagaimana bisa begitu telaten mengurus orangtua yang sudah jompo. Yang lain kudengar bilang, benar-benar anak yang tahu balas budi pada orangtua. Yang lain lagi menambahi, sudah cakep, karier mapan, berhati mulia pula. Mereka tentu tidak tahu, bagaimana sebenarnya perasaanku terhadap bapakku, bahkan sampai ketika ia sudah seminggu terbaring tak berdaya layaknya bayi merah yang baru lahir.

***

Ketika umurku masih 10 tahun, bapak meninggalkan kami –aku dan ibu. Sejak itu, ibu jadi sakit-sakitan. Lebih-lebih setelah mendengar kabar bahwa bapak menikah lagi dengan perempuan di kota lain. Tak kuat menanggung sakit hati, ibu pun meninggal dalam kekecewaan dan beban pikiran. Umurku sudah 14 tahun waktu itu, dan aku sudah bisa membenci ayahku. Bertahun-tahun aku membencinya, namun ketika lulus kuliah dan mendapat pangilan kerja di kota yang sama dengan bapakku tinggal, aku jadi ingin bertemu dengannya. Entahlah, kebencianku seperti berubah menjadi kerinduan. Bagaimana pun aku pernah punya bapak.

Akhirnya kutemukan bapakku, yang ternyata juga merindukanku. Lalu bapak memintaku tinggal bersama di rumahnya. Aku bersedia karena bapak tak memiliki anak lagi dengan istri barunya itu, seorang perempuan yang masih muda dan cantik. Empatbelas tahun lebih muda daripada bapak. Tapi, aku tetap memanggilnya ibu. Ia baik sekali padaku, begitu memperhatikanku seolah anak kandungnya sendiri. Lalu bapak pun beranjak tua dan mulai sakit-sakitan. Dan, istrinya yang masih muda dan cantik itu nafsunya masih begitu membara. Aku mulai mencium gelagat yang tidak baik, dan tetangga-tetangga pun mulai menggosip tentang istri bapak yang punya demenan lagi.

Dan, kenyataannya, istri bapak mulai jarang pulang. Tapi, bapak mencoba menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi dengan mengatakan, ibumu menginap di rumah teman pengajiannya. Aku geram dengan ketakberdayaan bapak. Sehari setelah bapak benar-benar sudah ambruk tak berdaya, aku membawanya ke rumah sakit. Tepatnya, aku memaksanya karena bapak bersikeras tidak mau berobat. Sebenarnya memang boleh dibilang percuma membawa bapak ke rumah sakit, karena bapak sebenarnya tidak sakit. Ia hanya tak berdaya menanggung beban pikiran yang sangat berat baginya.

***

“Sebenarnya apa yang Bapak pikirkan?” tanyaku suatu malam kepada bapak, mencoba membuka percakapan yang serius dengan harapan, bapak mau berterus terang membuka segala yang selama ini dipendamnya.
“Mengapa kau berpikir bahwa sakit bapak disebabkan oleh beban pikiran?”
Aku gemas mendengar jawaban bapak yang berupa pertanyaan balik.
“Aku justru ingin bertanya, mengapa kau tak kunjung menikah? Berapa umurmu sekarang? Mau menunggu apa lagi? Pekerjaan sudah mapan, gaji lumayan…menikahlah dan rumah ini bisa kau tempati.”
Aku menghempaskan nafas kekesalan yang tak tertahankan.
“Pak, ini kita bicara tentang sakit bapak. Kenapa bapak malah ngomong macam-macam?”
Kulihat wajah bapak menatap tegak lurus ke langit-langit kamar. Pandangannya kosong. Beberapa detik aku menunggu bapak bicara. Tapi, sampai terhitung menit, hanya kesunyian yang lewat.
“Pak, bapak jangan menutupi persoalan yang sesungguhnya. Bapak sakit karena mikirin istri bapak, maksudku, mikirin ibu. Mengapa bapak tak mencoba mengambil keputusan sebelum segalanya terlambat? Bapak tinggal mengatakan apa yang bapak inginkan saat ini, dan saya akan berusaha mewujudkannya. Misalnya, kalau bapak ingin kembali ke Solo dan menghabiskan sisa umur bapak di sana…”

Mata bapak terpejam. Nafasnya berbunyi layaknya sebuah dengkuran. Ternyata bapak tidak mendengar apa yang kukatakan.

***

Seandainya tak pernah ada pertemuan kembali dengan bapak, barangkali aku tak perlu menanggung beban seperti sekarang ini. Istri bapak sudah benar-benar tak pernah pulang ke rumah. Bapak mulai bicara tentang karma. Dulu aku meninggalkan ibumu, sekarang…tapi, aku tak mau berpikir apa pun. Aku hanya menyesali kenapa harus aku juga yang akhirnya harus mengurus bapakku di masa tuanya. Aku benci jika teringat dulu ia meninggalkan kami dan menyebabkan ibu meninggal lebih cepat. Aku benci jika teringat dalam usiaku yang baru 10 tahun aku sudah tak memiliki seorang lelaki yang bisa kupanggil bapak dengan penuh kemanjaan layaknya anak-anak sebayaku.

Pagi itu, segala kebencian dan dendam menyumbat otakku ketika kakiku bergerak keluar dari kamarku, dan masuk ke kamar bapakku. Kulihat sarung basah bau pesing terserak di lantai. Tubuh bapak telanjang bulat di atas kasur yang spreinya tersingkap ke mana-mana dan penuh ceceran tahi. Untuk pertama kalinya perutku terasa mual menyaksikan semua itu. Pandanganku gelap oleh rasa pusing yang membelit kepalaku. Dalam kegelapan itu, aku tak bisa melihat dengan jelas apakah bapak sudah bangun. Yang kulihat hanya gundukan tahi yang menggunung, dan kuraup bersama dengan sprei yang teronggok di atas kasur. Kumasukkan sprei bersama sarung ke dalam ember dan kuinjak-injak agar lebih mampat, lalu kuseret ember penuh tahi ke kamar mandi dan kusiram berjam-jam dengan air yang mengucur dari kran, sambil terus kuinjak-injak.

Menjelang siang, aku terduduk kelelahan di dapur sambil kuketik SMS di layar HP-ku: teman-teman, bapakku telah meninggal dengan tenang pagi ini.

Selengkapnya!

Homoseksualitas sebagai Fiksi

Di tengah booming industri penerbitan buku dewasa ini, dunia fiksi kita seperti didera oleh sebuah godaan besar untuk melampaui klaimnya selama ini sebagai tempat bagi masyarakat bercermin, melihat dan memahami dirinya sendiri. Pengalaman kolektif sehari-hari sebuah masyarakat, atau peristiwa-peristiwa “biasa” yang dekat dengan dunia pengarang yang bersangkutan, seolah kehilangan daya pikat sebagai bahan eksplorasi untuk dihadirkan kembali sebaga wacana alternatif bagi pembaca, untuk mendefinisikan kembali keberadaannya, dan menimbang-nimbang kembali apa yang sebenarnya disebut sebagai realitas. Para pengarang tiba-tiba berpretensi menjadi peneliti sosial dan beramai-ramai menyingkap “realitas-realitas tersembunyi”, wilayah yang sebelumnya secara umum dianggap “abu-abu”, “sensitif” dan “tabu”. Maka, seperti kita saksikan, seksualitas merupakan lahan yang pertama kali dan paling banyak diserbu oleh pengarang-pengarang dengan ambisi seperti itu.

Bahkan hingga hari ini, seks masih menjadi muara bagi segala bentuk eksplorasi tema: pengarang bisa menjelajahi apa saja dan ke mana saja, dari komunitas punk, dunia para pemakai narkoba hingga bilik-bilik pesantren, tapi semua itu bermuara pada satu titik singgung yang sama, seks. Tentu saja tidak semua pengarang menampilkan cara dan gaya yang sama dalam hal ini, dan untuk itulah kita masih bisa berharap dari sini karena di tengah keseragaman masih selalu bisa ditemukan hal-hal yang keluar jalur. Paling tidak, kita masih bisa dibuat kaget, gemas, mengernyitkan dahi untuk pada akhirnya dipaksa jujur mengakui bahwa apa yang dihadirkan itu tak lebih dari serpihan dunia yang kita diami, realitas yang sebenarnya dekat, namun selama ini, mungkin atas nama banyak hal, sengaja tak diungkapkan.

Sampai batas tertentu, dengan analisis tajam, apa yang dilakukan Abidah El Khalieqy lewat novel “Geni Jora” bisa dilihat sebagai upaya seperti diilustrasikan di atas. Panorama dunia pesantren perempuan yang dilukiskannya dalam novel itu tidak hanya telah memesona para juri Sayembara Novel DKJ 2003 sehingga menganugerahinya hadiah kedua, tapi juga kita semua. Betapa kita menjadi tahu bahwa di balik tembok pesantren perempuan ada kehidupan yang dinamis serupa dunia sekolah yang sering kita saksikan di sinetron-sinetron: ada geng urakan yang terdiri dari anak-anak orang kaya melawan kelompok “anak baik-baik”. Ada intrik, fitnah dan upaya dari kelompok yang satu untuk menjatuhkan kelompok yang lain.

Mari kita tengok lebih dalam. Dalam “Geni Jora” yang pertama disebut tadi diwakili oleh Sonya, dan yang kedua oleh tokoh “aku”.

Alkisah, si aku punya teman yang sangat akrab, bernama Elya. Kepada Elya, semua keluh kesah kutumpahkan. Sebaliknya, Elya sama sekali tidak pernah mengeluh. Aku kagum oleh ketegaran dan sikap mandirinya. Barangkali usianya yang lebih tua dibandingkan aku sendiri, menjadikan Elya begitu dewasa…Seperti seorang kakak yang penuh perhatian, Elya senantiasa mendorongku…dengan luapan kasih sayang…Kadang aku merasa Elya lebih memperhatikanku daripada dirinya sendiri, demikianlah si aku melukiskan keakrabannya dengan sahabatnya di pesantren itu. Pada bagian lain, hubungan keduanya digambarkan dalam detail yang bisa diimajinasikan sebagai sesuatu yang mesra. Simak misalnya pengakuan ini: Jika aku ngantuk dan molor terus untuk qiyamullail, Elya segera membikinkan aku kopi panas sembari melantunkan puisinya Rabi’ah al Adwiyya…Aku mencintaimu dengan dua macam cinta…

Sampai di situ pembaca bisa curiga, jangan-jangan salah satu dari kedua perempuan itu menganggap yang lain lebih dari sekedar sahabat. Dalam arti, ada cinta di antara mereka, layaknya hasrat yang tumbuh antara laki-laki dengan perempuan dalam etika hubungan seksual yang normatif. Dengan cerdik, pengarang mengelola kemungkinan kecurigaan pembaca semacam itu dan mewakilkannya lewat tokoh Sonya, musuh mereka. Sonya pun mengawasi setiap gerak-gerik si aku dan Elya yang hampir setiap malam selalu berduaan, dan pada suatu malam berhasil memergoki keduanya sedang berpelukan. Pelukan itu, harum parfum Elya, membuat aku terkesiap, sekejap. Lalu demam itu menyerangku kembali, demam yang kualami beberapa waktu lalu saat tangan Elya mengelus jemariku di atas lantai tiga. Kata Sonya, “Ternyata sedang dimabuk kepayang, to. Mesra benar. Ketua majelis tahkim tengah bercinta dengan anak buahnya. Benar-benar sensasional.”

Puncak ketegangan konflik antara Sonya dengan si aku dan Elya itu kemudian menjadi semacam pintu masuk bagi pengarang untuk mendiskusikan wacana yang hendak dihampirkannya dalam novelnya: homoseksualitas –dalam hal ini homoseksualitas perempuan- di pesantren. Sampai akhir cerita memang tidak ada penyebutan yang tegas dan eksplisit bahwa baik si aku maupun Elya, atau pun dua-duanya adalah lesbian atau bukan lesbian. Namun jelas, bahwa wacana lesbian dihadirkan sebagai sebuah bentuk fitnah –alasan bagi Sonya untuk melaporkan kedua musuhnya itu kepada pemimpin pondok. Pengarang memberikan penjelasan yang diletakkan di dalam tanda kurung: Biasanya, para pelaku lesbian akan dihukum cambuk sebanyak delapan puluh kali…lalu mereka dikirim kembali pulang kepada orangtua masing-masing setelah wali murid dipanggil dan diberi wejangan tentang perilaku para putri mereka…Dalam keseluruhan kehidupan pesantren, kejahatan lesbian merupakan kejahatan paling tidak terampuni.

***

Tanpa harus jauh-jauh melacak sampai ke Serat Centhini dari abad ke-19 kita bisa mengatakan, isu homoseksualitas dalam (karya) fiksi sebenarnya sama tuanya dengan heteroseksualitas dalam fiksi. Setidaknya, kalau kita mau bicara tentang “fiksi modern”, homoseksualitas bukanlah tema yang sama sekali baru di Indonesia. Kita bisa menelusurinya hingga ke dekade 1970-an, ketika untuk pertama kalinya cerpenis SN Ratmana mempublikasikan cerpennya yang berjudul “Sang Profesor”. Kendati tak sekali pun menyebut kata ‘homoseks’ atau pun ‘gay’, cerpen bertanda tahun 1974 itu dengan lugas memainkan imajinasi pada wilayah tersebut. Cukup mengejutkan bahwa cerita ini ditulis oleh cerpenis yang dikenal konservatif dan bergaya realis, sekaligus seorang guru SMA di daerah. Cerpen ini berkisah tentang tokoh bernama Ramli yang sedang melayat mantan dosennya yang meninggal dunia. Lewat kilas balik yang dilakukan Ramli, pembaca mendapat penjelasan mengenai sang dosen. Ia cendekiawan sekaligus pejuang kemerdekaan yang berhati tulus: ketika orang ramai terjun ke gelanggang politik untuk mencari kedudukan setelah proklamasi, ia justru memilih jalan yang sepi, menjadi rektor di universitas.

Ramli salah satu murid sang profesor yang sangat mengagumi dan memujanya. Hingga pada suatu ketika, diajaklah Ramli meninjau proyek universitas di suatu desa. Mereka menginap di rumah Pak Lurah, dan di situlah terjadi -apa yang di masa sekarang disebut- pelecehan seksual: sang profesor mencoba menyetubuhi Ramli. Hormat Ramli pada gurunya itu pun berubah menjadi rasa muak dan jijik. Namun, di saat menyaksikan arak-arakan jenazah sang profesor menuju kuburan, Ramli mengalami pergulatan batin hingga akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa profesor itu hanyalah seorang manusia biasa. “Telah berpulang seorang manusia biasa pada hari ini.” Ya, alangkah tepatnya kalimat itu menurut Ramli…Dengan jalan pikiran demikian, Ramli seolah-olah mendapat semangat baru…tidak ia rasakan benturan apa-apa lagi di dalam hatinya.

Di sela acara Cakrawala Sastra Indonesia di TIM belum lama ini, saya berkesempatan mendiskusikan cerpen tersebut dengan penulisnya. Secara implisit, Ratmana menolak jika karyanya itu dikatakan sebagai cerpen bertema homoseksual. Menurutnya, homoseksualitas hanyalah background saja, sedangkan “pesan utama” cerpen itu sebenarnya soal ketidaksempurnaan manusia, bahwa betapa seorang yang sudah menyandang gelar profesor pun ternyata masih menyimpan cacat dan kekurangan. Ini berlawanan dengan Serat Centhini, yang dalam analisis Ben Anderson menempatkan adegan-adegan homoseksual sebagai bagian dari simbol impian akan sebuah masyarakat yang ideal. Dua kontras ini pada akhirnya justru membantu kita memahami lebih dalam, seperti apa dan bagaimana homoseksualitas tampil dalam fiksi. Sebab, justru pada dua kontras inilah terletak paradoksnya: homoseksualitas dalam fiksi benar-benar menjadi fiksi. Ia tak pernah hadir secara nyata sebagai dan untuk dirinya sendiri. Pada Centhini, setidaknya sejauh kita masih bersepakat dengan Anderson, homoseksualitas hanyalah simbol, sedangkan dalam Ratmana, ia lebih minor lagi karena dilihat sebagai nilai-kurang dari kemanusiaan seseorang.

Begitu pun dalam “Geni Jora”: homoseksualitas hanyalah informasi yang dihampirkan, diletakkan dalam tanda kurung sebagai penjelasan dari penulisnya. Ia ada, tapi tidak di “sini”: kehadirannya hanyalah merupakan upaya untuk menegaskan kembali penolakan atasnya. Dengan kata lain, dalam fiksi homoseksualitas telah dijauhkan dari seksualitas, dari hakikatnya. Dalam diskusi bertajuk “Homoseksualitas dalam Fiksi” yang berlangsung di tengah Q! Film Festival 2005 (ajang pemutaran film-film gay dan lesbian) di Jakarta, 22 September lalu, memberi gambaran yang konkret mengenai hal itu. Diskusi tersebut menampilkan tiga novelis-pop yang dikenal banyak menulis tema homoseksualitas dalam karya mereka. Tapi, ketika mereka diminta bicara tentang karya-karyanya itu, dan bagaimana peserta diskusi sebagai wakil dari masyarakat pembaca menanggapinya, memperlihatkan sebuah kecenderungan yang keluar konteks. Andrei Aksana, penulis novel “Lelaki Terindah” yang laris, justru dengan bising sibuk menegas-negaskan bahwa dirinya bukan gay. Sedangkan, salah seorang peserta diskusi justru bertanya, apakah para penulis itu tidak takut kalau apa yang ditulisnya ditiru oleh pembaca yang awam. Sampai di sini, yang terjadi sudah mengisyaratkan sebuah kepanikan moral yang berlebihan, yang menandakan bahwa baik penulis maupun pembaca (masyarakat) ternyata sama-sama belum cukup siap dengan tema yang satu ini.

Selengkapnya!

Wednesday, February 08, 2006

Surga di Bumi: Aspek-aspek Budaya Gay Kontemporer di Indonesia (2)

Mengapa klab malam khusus gay yang paling baru dan sedang happening di Jakarta dinamai Heaven? Karena di sini, konon, “semua orang” bisa menjadi apapun sesuai keinginan. Bukankah demikian hakikat surga yang kita ketahui dari ajaran agama? Dengan maksud memberikan suasana surga seperti itulah Heaven Club hadir di Jakarta sejak kurang lebih setahun lalu, dan menandai pembukaannnya secara resmi Minggu (27/10/2003) malam dalam sebuah acara grand launching bertajuk Kingdom of Heaven.

Heaven merupakan sebuah klab franchise dari Singapura yang menempati salah satu sudut Dharmawangsa Square, sebuah citywalk elit di kawasan Jakarta Selatan. Heaven sendiri terdiri atas dua diskotek, masing-masing Centro the Club di lantai dasar dan Heaven Club di lantai dua. Bila Heaven Club –meski tidak dieksplisitkan- secara khusus ditujukan sebagai tempat clubbing kaum gay, maka Centro dibuka untuk umum, dengan satu malam tertentu, yakni Minggu malam, disediakan khusus sebagai gay night. Acara grand launching malam itu digelar di dua diskotek tersebut sekaligus dengan pemandu acara Ivan Gunawan dan Dave Hendrik. Keduanya mengenakan kostum ketat, Ivan warna putih dan Dave warna hitam, dengan sayap bulu-bulu berbentuk lambang cinta di punggung masing-masing. Ivan, konon mewakili malaikat dan Dave representasi sosok setan.

Begitulah, atmosfer surga memang terasa sejak pengunjung memasuki arena klab. Lelaki-lelaki berbusana ketat serba putih lengkap dengan sayap di punggung –yang mengimajinasikan sosok malaikat- berseliweran. Mereka para kru klab tersebut, yang belum lama direkrut lewat sebuah pengumuman yang secara terang-terangan menyebutkan kata “gay” sebagai persyaratan bagi yang tertarik untuk melamar. Salah satu tugas mereka malam itu menjajakan kondom fiesta yang merupakan sponsor utama. Sponsor lainnya antara lain Hard Rock FM Jakarta yang cukup menunjukkan bahwa acara tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan, atau katakanlah media, mainstream. Apakah ini merupakan isyarat permukaan bahwa budaya gay telah, atau setidaknya mulai, diterima sebagai bagian dari budaya arus utama? Ini pertanyaan berat. Untuk menjawabnya kita juga bisa mempertimbangkan kehadiran Ivan Gunawan dan Dave Hendrik yang merupakan sosok-sosok yang telah dikenal secara luas sebagai “selebriti
nasional”, bintang-bintang televisi yang sukses dan digemari masyarakat. Namun, bukankah mereka berdua, betapa pun jaimnya ketika tampil di televisi maupun di media massa lainnya, identik dengan homoseksualitas? Atau, masyarakat luas dengan sederhana akan mengidentifikasikan mereka sebagai “banci”. Dalam pergaulan sosial, gay dan banci sering tak dibedakan dan sampai batas tertentu ini bisa kita terima sebagai bentuk pemahaman tertentu dari kaum awam.

Di Heaven, Ivan dan Dave –yang beberapa hari sebelumnya tampil bareng pula memandu acara ulang tahun tayangan infotainment KISS di Menchester United Café, Sarinah- tampil dengan lepas, saling melempar joke khas para gay, dengan sedikit sentuhan intelektual ala presenter profesional. Di acara ulang tahun KISS, mereka harus membawakan acara dengan tunduk pada skenario, sedangkan di grand launching Heaven Club keduanya, seperti mereka ungkapkan sendiri di atas panggung, “bisa menjadi diri kita sendiri.” Di mana lagi Ivan Gunawan bisa, misalnya, memelorotkan celana ketatnya untuk mempelihatkan G-string hitam yang dikenakannya, dan memamerkan perutnya yang “ke mana-mana” itu? Di mana lagi Dave Hendrik bisa, misalnya, secara terang-terangan memuji cowok ganteng yang berdiri di antara pengunjung yang memadati acara yang sedang ia pandu, sambil melontarkan celetukan, “Saya pulang jam empat, nomer hp saya…”

Semua itu hanya bisa terjadi di Heaven Club, sebuah ruang surga yang dihadirkan di bumi Jakarta yang penuh hipokrisi.

***

Tidak terlalu penting untuk menyebutkan, bahwa acara grand launching Heaven Club menampilkan, antara lain, DJ dari De Javu Bali. Dan, sudah agak klise pula jika dirinci bahwa pergelaran tersebut dimeriahkan oleh parade cowok-cowok berbadan bagus yang hanya mengenakan celana dalam mini. Namun, yang masih menarik untuk dibicarakan adalah penampilan grup Lenong Bocor malam itu. Bukan penampilan di atas panggung itu benar yang penting, namun fenomena Lenong Bocor sendiri yang identik dengan duo Olga dan Ruben. Boleh dibilang mereka ini merupakan pengisi tetap gay night di Heaven Club. Malam itu, mereka memang tidak tampil secara mengesankan, mungkin karena waktu yang sangat singkat dan hanya tampil bertiga.

Lenong Bocor merupakan sempalan dari sebuah grup yang sebelumnya dikenal sebagai Lenong Bocah. Setelah cukup dikenal dari panggung ke panggung, nama Lenong Bocor mencuat ketika menjadi pengisi acara sahur Ramadhan 2005 di Indosiar, bersama-sama dengan Dorce, Marwoto, Taufik Savalas dan Topan-Leisus. Di antara para komedian senior, baik yang “modern” maupun “tradisional” itu, Olga dan Ruben sama sekali tak tenggelam. Sebaliknya, mereka bahkan berhasil mencuri perhatian dan menonjol dengan lawakan-lawakannya yang segar, yang barangkali tanpa disadari oleh publik pemirsanya, banyak mereka olah dari khasanah budaya gay. Gaya mereka yang kemayu, dan sering berperan sebagai sosok perempuan, sebenarnya bukan hal baru dalam khasanah lawakan di negeri ini. Namun, Olga dan Ruben, serta anggota Lenong Bocor secara keseluruhan, mampu memberikan sentuhan lain yang membedakan mereka dengan, misalnya Tessy atau pelawak-pelawak lelaki lainnya yang tergolong sering berperan sebagai perempuan, seperti Wendy (dari grup Cagur) atau pun Aming (Ekstravaganza).

Sungguh menarik menyaksikan penampilan Lebong Bocor di Heaven Club pada salah satu malam di pertengahan bulan puasa lalu. Mereka memparodikan sosok-sosok perempuan berjilbab, dan salah satu sasaran parodi mereka tak lain Dorce, “bunda” mereka sendiri dan lawan main mereka di acara sahur Indosiar. Lawakan Lenong Bocor cenderung spontan, kadang kasar dan tak jarang “kasar sekali” dan sering terjatuh ke dalam slapstick yang dangkal. Begitulah yang tampak dalam setiap penampilan mereka di Heaven. Namun, di televisi tentu saja mereka demikian santun, dan dalam acara sahur Indosiar itu, Lenong Bocor diberi sesi khusus, dan mereka mengangkat khasanah legenda atau pun cerita rakyat yang popoler sebagai materi lawakan.

Ketika ada seorang penulis surat pembaca di Kompas yang mengeluhkan betapa acara sahur di TV didominasi oleh lawakan, yang kemudian dikembangkan oleh harian tersebut menjadi sebuah artikel yang membahas soal itu, yang pertama terbayang di benak saya tak lain Olga dan Ruben dan Lenong Bocor. Seandainya saja penulis surat pembaca itu, dan publik secara luas, tahu bahwa beberapa jam sebelum tampil di acara sahur itu, Olga dan Ruben dan Lenong Bocor tampil di sebuah klab gay dengan lawakan yang sama sekali lain…

***

Untuk itulah, perlunya dibangun surga di bumi, dan Heaven Club telah memberikan itu. Yakni, untuk memungkinkan terwujudnya sesuatu yang tak mungkin ditampakkan di media publik seperti televisi. Yakni, ini yang lebih penting, untuk memberi ruang kepada orang-orang yang ingin menjadi dirinya sendiri dan apa yang mereka inginkan. Karena surga seperti itu memang tidak ada di luar sana…

Selengkapnya!

Tuesday, February 07, 2006

Brandy Bunch: Aspek-aspek Budaya Gay Kontemporer Indonesia (1)

Perlahan-lahan, apa yang disebut budaya gay di Indonesia sepertinya sedang menuju pada satu titik di mana publik di “luar sana” akan bisa berkata, lho, yang seperti itu ada to di sini? Berbeda dengan budaya mainstream yang serba kasat mata, teramati dan dengan demikian terpantau oleh media massa sehingga bisa disaksikan bersama-sama perkembangannya, budaya gay merupakan sesuatu yang bergerak di luar jalur, di bawah tanah, diam-diam, tak jarang malu-malu pula dan nyaris tak terdeteksi dari luar, namun sebenarnya menyimpan gelegak yang tak kalah dinamis. Kalau pun belakangan khasanah industri fiksi kita –novel, sinetron, film- mulai cukup banyak menyingkap sisik-melik kehidupan kaum homoseksual, sehingga tirai mulai tersingkap, masyarakat luas paling banter masih hanya disuguhi “bocoran” yang bersifat permukaan dan serba sekilas. Sedangkan esensi yang terdalam dari budaya gay itu sendiri belum sepenuhnya terkuak secara terang.

Dari sinetron di televisi misalnya, masyarakat luas menjadi tahu, sebatas, bahwa seorang gay itu laki-laki yang kemayu, bicara dengan bahasa gaul yang aneh (orang Jawa bilang, ngomongnya bak-bok-bak-bok). Biasanya, ia merupakan teman setia seorang cewek yang sedang jatuh cinta pada cowok, sehingga si gay ini akan ikut jatuh bangun membantu si cewek mendapatkan perhatian si cowok sambil sesekali dia sendiri mengagumi dengan norak dan penuh nafsu setiap kali melihat cowok itu. Dan, sejauh itu, si gay tersebut tidak punya cerita sendiri, tidak diberi sub-plot yang memungkinkan perkembangan karakternya. Ia hanya pelengkap penderita, bahan untuk menciptakan kelucuan. Kecuali penampilannya yang kebanci-bancian, ia tak pernah dieksplisitkan, misalnya, mencintai sesama lelaki. Bahkan, kadang ada adegan tertentu yang dimaksudkan untuk mengaburkan orientasi seksual tokoh yang bersangkutan.

Tokoh-tokoh seperti saya gambarkan di atas bertebaran dalam sinetron kita, untuk tidak mengatakan ada dalam setiap sinetron. Mereka bisa datang dari kalangan berseragam putih abu-abu, tapi kebanyakan dari dunia kampus. Pada titik ini, baiklah mesti dikatakan, sinetron kita setidaknya telah menggambarkan betapa individu-individu gay –betata pun dipisahkan dari seksualitasnya dan hanya distereotipkan sebagai lelaki yang melambai- merupakan bagian dari kehidupan sosial yang paling lumrah, yang mendiami gedung-gedung sekolah sampai kampus megah. Sampai di sini, secara khusus mari kita mengamati para gay kampus itu, dengan membandingkan “realitas” antara representasi dari dunia sinetron dengan panorama yang terhampar di sebuah acara regular yang secara khusus dipersembahkan untuk komunitas yang sama, dengan nama Brandy Bunch. “Brandy” adalah istilah gaul untuk kata “brondong”, yang artinya abege. Ini merupakan fenomena baru dalam industri hiburan malam yang ditujukan bagi kaum gay, atau yang telah populer dengan sebutan gay night. Dengan kata lain, Brandy Bunch adalah sebuah Campus Gay Night.

Acara Campus Gay Night diberi nama Brandy Bunch diperkenalkan oleh Heaven Club, sebuah diskotek khusus gay di Jakarta yang dalam klaim “resmi”-nya menyamarkan diri sebagai “the hottest alternative club in Jakarta”. Klab yang terletak di kompleks Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan ini telah hadir sejak setahun terakhir, namun secara resmi baru menandai pembukaannya dalam sebuah grand launching, Minggu (27/10/2003). Brandy Bunch digelar setiap Rabu malam, dan pada kesempatan Rabu (23/10/2003) malam lalu, saya mengikuti seorang mahasiswa yang menghadiri acara itu, untuk mengetahui apa yang ada di balik acara yang secara khusus ditujukan untuk sebuah kalangan yang ditandai dengan kata keramat “kampus” itu. Ongky, sebut saja dia begitu, pergi bersama BF(boy friend = pacar)-nya, saya sebut saja Roy, dan dua orang temannya, masing-masing –katakanlah- Bilie dan Eri. Yang terakhir disebut adalah teman sekantor Roy, sedangkan Bilie teman baru Ongky dan Roy yang mereka kenal pada malam Minggu sebelumnya di sebuah kafe.

Kepada saya Eri mengaku baru pertama kali datang ke klab itu, dan sebelumnya ia tak pernah pergi ke mana-mana. Ia belum lama mengetahui bahwa Roy juga gay dan sejak itu ia minta diajak kalau temannya itu punya acara. Sedangkan Bilie bilang, sebenarnya ia tak punya rencana apa-apa malam itu, tapi tiba-tiba ditelepon Ongky dan Roy, diajak bergabung, dan ia pun bersedia karena “di rumah bete”. Bilie mahasiswa tingkat pertengahan sebuah universitas Katholik ternama di Jakarta, seorang lelaki keturunan etnis Tionghoa yang cute, kocak dan energik. Ia hafal hampir setiap lagu yang diputar di klab malam itu, menirukan liriknya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Malam itu sang DJ memutar lagu-lagu R&B yang menggairahkan. Namun, suasana terbilang sepi, sehingga para clubber tampak malas-malasan untuk turun ke arena dansa. Mereka hanya bergerombol-gerombol saja di bangku-bangku, ngobrol, tertawa-tawa, main mata ke sana ke mari, minum sambil bergoyang-tubuh ala kadarnya.

Hingga puku 00.00 WIB lewat, situasi masih seperti itu. Tak ada persembahan khusus malam itu, kecuali munculnya empat orang penari cowok berbusana ketat dan mengkilap warna hitam. Mula-mula mereka menari di arena dansa, lalu menghilang ke belakang, dan sesaat kemudian muncul kembali dengan kostum yang berbeda, dan menari di balkon. Tak ada yang istimewa dari penampilan mereka, kecuali menegaskan bahwa ini benar-benar sebuah gay night yang malas dan membosankan. Tapi, mengingat ini gay night yang secara dagang ditujukan khusus buat kalangan kampus, dari sini setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran mengenai wajah paling kontemporer dari realitas kehidupan kaum gay di Jakarta, terutama dari kalangan yang identik dengan kelompok intelektual dalam masyarakat tersebut. Ongky adalah representasi dari realitas besar itu. Ia mahasiswa tingkat skripsi sebuah sekolah tinggi ekonomi paling ternama di Jakarta. Boleh dibilang ia pengunjung tetap Heaven Club. Bahkan, dalam setiap acara, ia termasuk orang yang memiliki jatah untuk masuk secara gratis dan bisa membawa teman berapa pun untuk masuk gratis pula. Bagi Ongky, pergi ke gay night merupakan bagian tak terpisahkan dari gaya hidup seorang gay. Lebih-lebih, dengan adanya Brandy Bunch yang secara khusus ditujukan untuk mahasiswa, ia merasa makin mendapatkan ruang untuk bersosialisasi dengan komunitas gay lain yang sebaya dengannya, sama-sama mahasiswa, atau lebih muda.

Ongky sendiri, sebagai mahasiswa tingkat skripsi, sudah tak bisa disebut brondong lagi. Tapi, dalam berbagai obrolan, secara berseloroh ia selalu mengaku bahwa dirinya masih pantas disebut brondong. Secara objektif, jika dilihat dari penampakan fisiknya, Ongky memang tergolong gay yang biasa disebut dengan istilah “brondong abadi”, atau yang dalam istilah umum barangkali setara dengan “baby face”. Terlepas dari itu, pengunjung Brandy Bunch memang tidak selalu dan tidak serta-merta para brondong, baik dari kalangan SMU maupun mahasiswa. Namun, setidaknya sebagian besar dari mereka mahasiswa. Mereka tidak mengkontraskan antara clubbing dan belajar, karena keduanya menurut mereka bisa berjalan beriringan bersama-sama dengan baik. Lewat Ongky, saya berkenalan dengan seorang pengunjung yang masih duduk di bangku kelas 3 SMU, yang keesokan harinya harus menghadapi ujian di sekolah. Agak sulit bagi saya memahami bahwa ada seorang anak SMU yang sedang berada dalam musim ujian dan hingga pukul dua pagi masih berada di klab. Tapi, menurut Ongky, anak SMU yang diperkenalkan kepada saya itu pintar, dan dapat ranking di kelasnya. Ongky sendiri, kalau bisa saya simpulkan dari sebagian kisah hidupnya, menurut saya juga tergolong anak yang pintar. Ketika masih SMU, ia sempat pergi ke Jepang untuk sebuah program pertukaran pelajar selama 6 bulan. Bagi saya inilah potret generasi paling baru dari kaum gay di Jakarta yang pada akhirnya menjadi bagian dari aspek-aspek penting yang tengah dan akan terus mengkonstruksi budaya gay di Indonesia.

Ongky telah pacaran dan tinggal serumah dengan Roy (24 tahun) hampir genap setahun. Mereka pasangan yang serasi dalam penglihatan saya. Ongky seorang lelaki yang setia, dan baru pertama kali ini pacaran dengan lelaki. Sebelumnya, ia sempat pacaran dengan cewek teman sekampusnya, yang belakangan dikenal sebagai pemain sinetron dan film horor yang jika saya sebut namanya, pembaca pasti tahu. Ia mengaku banyak disukai dan ditaksir oleh lelaki yang baru dikenalnya, tapi ia punya prinsip yang kuat untuk tak mudah pindah ke lain lelaki. Malam itu, Ongky yang tergolong kurus dan cukup tinggi mengenakan kemeja lengan panjang kotak-kotak ala distro yang kini sedang ngetren di kalangan anak-anak muda gaul metropolis. Wajahnya yang putih berpoles bedak samar-samar sehingga tampak bercahaya. Behel di giginya memberikan aksen lain pada penampilannya. Kulitnya selembut perempuan, namun gerak-gerik dan keseluruhan gaya serta pembawaan dirinya jauh dari sosok gay yang distereotipkan oleh sinetron. Begitu pula dengan Roy, Bilie dan Eri…mereka tak menunjukkan tanda-tanda kebanci-bancian.

Roy tampil formal dengan celana bahan dan kemeja putih lengkap dengan dasi yang dililitkan di leher secara longgar. Bilie tampak lebih kasual dan santai dengan kaos berkrah warna kuning, demikian juga Eri yang tampil bersahaja dengan polo shirt warna biru laut. Mereka berdansa membentuk satu lingkaran kecil, dan sesekali berpasang-pasangan. Ongky dengan Roy dan Bilie dengan Eri, dan sesekali bertukar-tukar posisi. Pada satu kesempatan terlihat Bilie memeluk Eri, lama, seperti orang yang kelelahan. Jam dua pagi lewat sudah dan satu per satu pengunjung klab meninggalkan arena. Bilie berkali menggerutu karena merasa masih terlalu “sore” untuk pulang. Padahal wajahnya sudah tampak merah dan mengantuk. Eri bilang, ia harus masuk kerja pukul enam pagi. Roy mengeluh perutnya sakit. Ongky mengaku lapar tapi malas makan. Mereka duduk di warung kaki lima depan klab sambil minum teh botol dan minuman kaleng lainnya sebelum akhirnya pulang.

Selengkapnya!

Wednesday, February 01, 2006

Apakah Saya Bisa Sembuh, Dok? Homoseksualitas di Ruang Konsultasi

Konon, ada empat kendala yang akan ditanggung seumur hidup oleh para homoseksual yang tidak mencari upaya untuk keluar dari keadaannya. Pertama, kendala anatomi dalam berhubungan seks –karena penis dirancang untuk vagina, maka homoseksualitas memunculkan aktivitas seks yang tidak lazim, seperti anal seks dengan segala risikonya. Kedua, kendala reproduksi –intinya, hubungan seksual sesama jenis kelamin tak mungkin membuahkan anak. Ini mengantarkan pada masalah ketiga yang lebih rumit dan lebih berat, yakni kendala psikologis. Tak ada keterangan lebih jauh tentang yang terakhir ini, tapi mudahlah ditebak, yang dimaksud tentu perasaan kesepian, ketakutan akan masa tua dan sejenisnya. Kendala keempat, gesekan sosial.

Saya mengawali tulisan ini dengan kata “konon”, jadi Anda otomatis paham bahwa “teori kendala” di atas bukan pendapat saya. Saya menemukannya dalam buku berjudul “Seksplorasi 55 Masalah Seksual”. Penulisnya Dr Andrik Wijaya, MRepMed (Dipl.) –duh, tangan saya keringatan mengetik titelnya, penerbitnya Gramedia, terbit awal tahun ini, jadi benar-benar masih fresh. Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi 55 persoalan seputar seksualitas yang diklaim sebagai “yang ingin Anda ketahui tapi tabu untuk ditanyakan”. Format penyajiannya berupa tanya-jawab. Bagi Anda yang rajin membaca –atau, sekedar menengok sesekali pun- rubrik konsultasi seks di majalah-majalah dan tabloid, dengan berbagai nama dan modelnya, tak sulit menebak isi buku ini. Tentu saja pertanyaan yang muncul masih sekitar keperawanan, seks oral aman atau tidak hingga ejakulasi dini. Tapi, sudahlah, tulisan ini bukan resensi untuk buku tersebut.

Saya hanya tertarik karena di antara 55 tanya-jawab dalam buku ini, terselip dua bab yang menyangkut homoseksual. Yang pertama, datang dari “pemuda berusia 32 tahun, sudah bekerja dan memiliki kehidupan yang lumayan.” Ia merasa, “seharusnya saya bahagia, namun kenyataannya saya merasa hidup saya kosong dan tidak berarti.” Kenapa? “Masalahnya, saya tidak bisa tertarik dengan lawan jenis, tapi sebaliknya dengan sesama jenis.” Dan, layaknya sebuah pertanyaan yang dilayangkan di rubrik konsultasi, maka surat itu ditutup dengan, “Apa yang harus saya lakukan, Dok?” Maka, terpaparlah “teori kendala” tadi dari sang dokter yang yakin, seperti secara eksplisit dinyatakannya sebagai judul bab yang bersangkutan, bahwa “homoseks bisa reorientasi”. Keyakinan sang dokter ini diulang lagi ketika menjawab pertanyaan, “Bila kekasih mantan lesbi, apa yang harus saya tempuh agar pacar saya itu bisa sembuh 100%”.

***

Saya teringat dengan rubrik konsultasi seks dan konsultasi psikologi dalam Majalah “Matra”. Kedua rubrik tersebut termasuk sangat rajin menampilkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan homoseksualitas. Keluhan yang terdengar, baik dari segi seksualitas itu sendiri maupun secara psikologis nyaris selalu sama: apakah saya bisa sembuh? Saya tak pernah tertarik dengan jawaban dokter atau pun ahli yang mengasuh rubrik-rubrik tersebut. Saya lebih tertarik dengan kasus-kasus yang muncul, pertanyaan-pertanyaan yang diulang-ulang itu. Pada paruh kedua 1990-an, ruang konsultasi di Harian “Kompas” yang diampu oleh psikolog Leila Ch Budiman sempat diramaikan oleh kasus “homoseksual ingin sembuh” semacam itu juga. Saya lupa persis dan detailnya, tapi saya ingat benar, surat tersebut mendapat banyak tanggapan dari pembaca lain, yang umumnya sharing pengalaman tentang “kesembuhan” dari homoseksualitas.

Saya jadi curiga, ruang konsultasi –seks maupun psikologi- di media massa tak bebas dari kepentingan politik wacana. Artinya, ada unsur kesengajaan dari pihak pengelola untuk melakukan –dalam teori komunikasi disebut- agenda setting. Yakni, memilih wacana apa yang dimunculkan dan tidak dimunculkan. Media massa merupakan sarana komunikasi dan informasi yang diakses oleh ribuan bahkan mungkin jutaan orang. Ada sederet pertimbangan ketika pengelolanya menampilkan atau tidak menampilkan suatu informasi tertentu -dari pertimbangan komersial hingga moral. Suratkabar sebesar “Kompas” misalnya, saya menduga, pastilah tidak akan “berani” menampilkan pertanyaan yang memungkinkan munculnya jawaban yang “mendukung” ataupun “membenarkan” homoseksualitas.

Demikian pula halnya dengan “Matra” dan media massa lainnya. Dengan kata lain, sejauh menyangkut pertanyaan mengenai homoseksualitas, media massa akan berpegang pada “moralitas umum” yang selama ini (masih juga) memandang homoseksual sebagai penyakit dan dengan demikian harus diupayakan penyembuhannya. Dua bab homoseksual yang disertakan dalam buku “Seksplorasi 55 Masalah Seksual” tadi menegaskan hal itu. Pertanyaan-pertanyaan yang dihimpun dalam buku itu dikumpulkan oleh penulisnya dari pengalamannya mengasuh rubrik-rubrik konsultasi seks di sejumlah media massa, seperti Radio SCFM, Harian Pagi “Surya” dan Tabloid “Bunda” –semuanya di Surabaya.

***

Saya percaya dengan kekuatan (pengaruh) media massa, sebesar kepercayaan saya betapa koran, majalah dan tabloid itu tak lain barang dagangan juga. Sehingga, semua isi media –selain merupakan pesan-pesan informasi- juga bisa dipandang sebagai komoditi yang menopang nilai jual media tersebut. Tak terkecuali, rubrik konsultasi seks (maupun psikologis). Dalam perspektif industri semacam itu, maka rubrik konsultasi setara nilainya dengan berita, esei seni rupa maupun cerita pendek yang muncul di koran. Yakni, sebagai barang dagangan sehingga harus memiliki nilai jual –istilah medianya, “nilai berita”. Cerpen di koran-koran edisi Minggu misalnya, diseleksi antara lain dalam kriteria “aktualitas”-nya juga.

Rumus yang sama tentu saja berlaku untuk rubrik konsultasi. Pandangan masyarakat yang masih minor terhadap homoseksualitas justru merupakan ceruk tersendiri bagi berharganya informasi-informasi yang berkaitan dengan isu tersebut. Orang kebanyakan masih menganggap homoseksual sebagai gaya hidup “aneh” sehingga wacana seputar hal itu menjadi menarik, menimbulkan penasaran. Pada sisi yang lain lagi, isu homoseksual dimunculkan sebagai alat kontrol, untuk terus-menerus menjaga kesinambungan moral heteroseksual sebagai satu-satunya etika seksual yang mereka anggap benar selama ini. Sekarang Anda mengerti, mengapa acara-acara liputan malam di televisi demikian rajin mengangkat tema ini. Anda pun mafhum pula adanya, jika rubrik-rubrik konsultasi seks dan psikologi di koran-koran tak pernah sepi dari pertanyaan seputar homoseksualitas, tapi yang dari dulu tak pernah beranjak dari keluhan yang itu-itu saja.

Selengkapnya!

Gay dalam Keluarga dan Masyarakat Jawa

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2004 lalu, saya berkenalan dengan seorang remaja gay Solo, sebut saja namanya Hendra. Ia tinggal di Sangkrah, sebuah kampung padat di bagian timur kota keraton yang sangat terkenal di Jawa Tengah itu. Saya berkunjung ke rumahnya yang masih sangat tipikal rumah orang Jawa tempo dulu: berdinding kayu dengan interior yang nyaris tanpa sekat. Tak ada ruang-ruang. Yang disebut kamar hanyalah dipan kayu yang ditutupi dengan tirai kain, atau pembatas dari papan triplek. Demikian pula dapurnya, tempat keluarga itu memasak, hanyalah lorong memanjang di bagian belakang rumah yang tercipta dari sekat papan. Tak ada ruang makan, bahkan meja makan: anggota keluarga bisa makan di mana saja. Ketika saya berkunjung malam itu, karena kunjungan saya lama, Hendra meminta izin untuk makan, dan ia melakukannya di ruang tengah.

Dan, inilah yang disebut ruang tengah itu: sebuah areal luas yang terbentang di depan pintu masuk, yang terdiri atas seperangkat meja-kursi penjalin yang di-set menghadap ke pesawat televisi mungil berlayar hitam-putih yang diletakkan di atas bufet. Dan, yang disebut sebagai “kamar tidur” tadi terletak di sekitar ruang tengah itu. Komposisi keluarga Hendra sendiri cukup unik: ia tinggal bersama kakek, nenek dan adiknya, lelaki yang berusia dua tahun lebih muda daripadanya yang saat ini duduk di bangku kelas tiga SMU. Ketika saya datang, sang kakek tidur di atas dipan yang terletak di sisi kiri pintu masuk, tanpa sekat apapun. Ketika saya tanyakan hal itu ke Hendra, ia menjelaskan, neneknya juga sedang tidur di balik tirai di sisi dipan sang kakek. Saya tak bisa melihatnya. Di depan dua dipan yang berjajar itu, terdapat satu dipan lagi yang ditutupi dengan papan. Di situlah, Hendra menginapkan tamu-tamu lelakinya, atau pacarnya bila ia sedang punya pacar. Dan, di situ pulalah ia berhubungan seks dengan partnernya!

Saya agak bergidik membayangkan, bagaimana dua lelaki bisa bercinta di atas ranjang tanpa dinding, tanpa daun pintu seperti itu, dalam sebuah keluarga Jawa yang tak punya pemahaman apapun mengenai homoseksualitas. Sebagai bagian dari generasi-baru-gay, Hendra bersosialisasi dan mengenal dunianya lewat chatting. Dari chatting ia tak hanya mendapat banyak kenalan, tapi juga pacar. Tapi, perkenalan pertamanya dengan sesama gay terjadi berkat jasa sebuah ruang biro jodoh di tabloid lokal yang banyak menyajikan menu bertema seks, termasuk homoseksualitas. X-Hot, nama tabloid yang berkantor pusat di Surabaya itu, membuat terobosan berani dengan mengangkat tema gay sebagai bagian dari sajian utamanya. Dari iseng-iseng mengirimkan biodata ke tabloid itu, Hendra mendapat kenalan seorang mahasiswa dari Purwokerto, dan selama setahun, ketika ia masih duduk di kelas satu SMU, Hendra berpacaran jarak jauh dengannya. Beberapa waktu sekali, Hendra berkunjung ke Purwokerto, dan sebaliknya, sang pacar secara periodik melakukan kunjungan balik ke Sangkrah. Oleh suatu sebab yang sengaja tak diungkapkan dengan jelas, hubungan mereka akhirnya putus, dan Hendra menjalin hubungan baru dengan seorang dokter dari Semarang. Kali ini, hubungan mereka bersifat “kakak-adik” tapi setiap sang dokter datang ke Solo, biasanya pada akhir pekan, mereka melakukan hubungan seks di rumah Hendra yang tak bersekat tadi. Ketika saya mengunjunginya pada malam Lebaran itu, Hendra mengaku sedang tak punya pacar, tapi ia punya “kakak” seorang lelaki keturunan Cina asli Solo yang kuliah di Yogya. Kendati menyebutnya kakak, tapi Hendra mengaku mereka berhubungan seks juga.
Saya tak tahu bagaimana Hendra mengkategorikan pasangannya pada suatu masa tertentu sebagai “pacar” atau sebagai “kakak” bila kenyataannya keduanya sama-sama diwarnai dengan hubungan seks. Hendra sendiri tampak begitu kesulitan ketika saya meminta menjelaskannya. Kepada ibunya, seorang perempuan berusia awal 30-an, Hendra memperkenalkan pasangan-pasangan lelakinya itu –baik itu pacar maupun “kakak”- sebagai teman yang dikenalnya dari internet. Dan, sang ibu tak pernah bertanya apa-apa tentang itu. Sedangkan ayah Hendra, 37 tahun, lebih pendiam lagi.

Ayah dan Ibu Hendra tinggal di rumah lain yang terletak di kampung sebelah. Hendra dan adiknya sejak kecil diminta untuk tinggal di rumah kakek-neneknya untuk menemani orang-orang tua itu. Ibu Hendra sendiri setiap hari datang ke rumah orangtuanya itu dari pagi, memasak dll. Sedangkan sang ayah menyusul sepulang kerja. Mereka akan berada di rumah itu sampai pukul satu dini hari. Sang ibu biasanya tidur di dipan tanpa sekat di sebelah kanan ruang tengah itu, dan sang ayah duduk di depan TV, merokok sampai terkantuk-kantuk.
Saat berkunjung malam itu, saya menyaksikan, pasangan suami-istri itu benar-benar baru meninggalkan rumah itu pada pukul satu dini hari dan itu berlangsung sejak dulu, begitu setiap hari. Kunjungan saya berikutnya saya lakukan siang hari, setelah lebaran. Saya ngobrol dengan sang kakek yang bertelanjang dada duduk di lincak depan rumah. Atap rumah di bagian teras itu begitu rendah. Di depan rumah ada sumur, dan tiga kamar yang disewakan. Sang nenek sedang uring-uringan mencari jarum yang hilang yang hendak dipakainya untuk meronce bunga mawar. Sang kakek menyalah-nyalahkan sang nenek yang dikatakannya sudah pikun, suka lupa menaruh sesuatu. Hendra yang habis mandi mengatakan kepada saya bahwa ia benci dengan kakek-neneknya. Mereka berdua sumber stres baginya, dan ia bosan tinggal di situ. Ia ingin tinggal di rumah orangtuanya saja, tapi bapak-ibunya bersikeras Hendra dan adiknya harus tinggal di situ menemani orang-orang jompo itu sampai mereka meninggal dunia.

“Setiap hari begitulah mereka, bertengkar terus untuk hal-hal yang nggak jelas,” gerutu Hendra. Nenek Hendra seorang perempuan berbadan gemuk, berjalan gontai dan berbeda dengan perempuan tua Jawa umunya yang berkain-kebaya, ia mengenakan rok dan kaos yang kedomboran. Hari-hari berikutnya, Hendra mengajak saya untuk berkeliling kota sampai saya kemudian balik ke Jakarta. Saya datang lagi ke Sangkrah seminggu setelah Hari Raya Idul Adha. Dia bilang, baru saja mengantarkan pacarnya pulang setelah menginap empat hari di rumah itu. Pacar yang mana, tanya saya. Rupanya, ia baru saja jadian dengan pacar baru, seorang mahasiswa yang tinggal di Karang Pandan, kota kecamatan di lereng Gunung Lawu berjarak 30-an km dari Solo. “Itu, tasnya masih ditinggal di sini, besok mungkin dia ke sini lagi,” jelasnya sambil menunjuk tas ransel yang tergolek di atas kursi. Matanya berbinar, menyiratkan sebuah kebahagiaan. Tak ada yang berubah dari penampilannya: kemeja kuning, rambut belah tengah model kuno dan celana pendek. Di bawah lampu yang menyala remang, kulitnya yang hitam tampak dekil. Wajahnya juga hitam tapi cukup manis oleh hidung yang mancung. Pada kunjungan saya kali ini, ia minya diantarkan ke wartel untuk menelepon temannya. “Saya mau curhat.” Saya diajak masuk ke bilik telepon di sebuah warnet tak jauh dari rumahnya, dan saya bisa mendengar, ia meminta orang di seberang sana untuk ke rumahnya, besok.

Dua hari kemudian, Hendra menelepon saya dan mengajak saya main ke rumah temannya -teman yang lain lagi, bukan yang ditelepon kemarin untuk diminta datang ke rumahnya itu. Belakangan saya tahu, teman yang dimaksud tak lain salah satu mantan pacar Hendra. Umurnya sebaya, namanya Putera, tinggal di Desa Pandean, Baki, Sukoharjo, sebuah wilayah di perbatasan Solo bagian barat. Ketika diperkenalkan, saya menduga Putera keturunan Cina. Tapi, tenyata tidak. Matanya memang sipit, dan wajahnya yang putih nyaris tertutup oleh timbunan jerawat. Ia seorang penyanyi di kelompok Campur Sari di desanya, yang dipimpin oleh pamannya sendiri. Bersama kelompoknya ia sering mendapat tanggapan untuk acara kawinan.Ketika kami datang ia tengah menyeterika pakaian, rumahnya sepi. Ibu dan bapaknya sedang ke THR di Taman Sriwedari Solo bersama adik perempuannya. Saat itu memang liburan anak sekolah dan THR Sriwedari mengundang siswa berprestasi untuk menikmati fasilitas gratis. “Aku gak ikut karena gak dapet rangking,” kata Putera.

Hendra yang membawa kamera digital segera mengajak Putera untuk foto-foto. Ia ingin difoto bugil. Rumah Putera tampak belum selesai dibangun, sehingga kamar-kamar yang ada belum punya pintu. Mereka masuk ke salah satu kamar, dan saya diminta berjaga di ruang depan, siapa tahu ada yang datang. Hendra melepas pakaiannya, menyisakan celana dalam, dan minta Putera untuk memotretnya. Tapi, prosesi foto bugil itu tak berjalan lancar karena kamera Hendra ternyata rusak.

Pada kesempatan berikutnya, saya berkunjung sendiri ke rumah Putera siang hari. Lagi-lagi rumahnya sepi. Adiknya tengah bermain di sepetak tanah tersisa di depan rumah, di bawah pepohonan melinjo. Ibunya bekerja di pabrik pakaian bayi tak jauh dari rumah. Pada jam makan siang sang ibu pulang untuk makan dan istirahat lalu balik lagi hingga jam 9 malam. Ayahnya kerja sampai sore. Saya ngobrol dengannya di lantai, disuguhi tayangan VCD lagu-lagi campursari. Di sela-sela itu, Putera sesekali menengok ke luar, menyaksikan tetangga-tetangga sebayanya, sebagian besar perempuan, yang sedang bermain “benthik”. “Wah, mereka kurang satu karena aku nggak ikut,” katanya.

Lalu, Putera bercerita bahwa ia belum lama ikut audisi KDI (Kontes Dangdut Indonesia) yang diadakan oleh stasiun televisi TPI di Semarang. “Baru audisi pertama sudah gagal,” ujarnya kecewa. Putera mengaku tak punya banyak cerita tentang dirinya sebagai seorang gay –yang tentu saja seperti halnya Hendra masih tertutup. Ia mengaku baru sekali pacaran, itu pun cuma tiga bulan dan sang pacar itu tak lain Hendra. Tiba-tiba Putera sibuk dengan HP-nya. Ada yang mau datang, katanya. Ia mengajak saya untuk menjemput sang tamu itu di ujung gang, tapi saya sarankan ia jemput sendiri dengan motor saya. Putera setuju. Kira-kira lima belas menit Putera kembali bersama seorang lelaki yang juga mengendarai motor.

Dijelaskan, mereka kenalan lewat chatting dan sudah sebulan ini saling kontak SMS. Ini merupakan pertemuan pertama mereka. Ketika diperkenalkan pada saya, lelaki itu menyebut sebuah nama yang tidak saya dengar dengan jelas, tapi setelah kami ngobrol lebih banyak ia mengaku itu bukan nama aslinya. Nama aslinya Fajar. Ia tinggal di kampung Dawung, masih masuk wilayah Solo sebelah selatan. Saya tanya apa kesibukannya, ia mengaku menganggur. Ia baru saja mengurus surat lamaran pacarnya, sambil buru-buru menjelaskan, pacarnya itu cewek. “Pacar cowok?” pancing saya. “Belum punya, nggak ada yang mau,” sahutnya.

Sedikit demi sedikit, Fajar makin membuka diri. Ia berumur 23 tahun, lulusan sebuah akademi perbangkan di Yogyakarta, dan sekarang tak punya kesibukan apa-apa. “Tadi pagi mbedhol (mencabut -pen) kacang,” katanya yang awalnya saya kira bercanda tapi kemudian dengan serius ia menjelaskan, di belakang rumahnya ada sebidang tanah kosong yang ia tanami kacang. Sampai agak lama, sambil terus ngobrol, Fajar tampak sibuk mengusir gerah. Lalu, ia tiduran di lantai. Saya lihat Putera berkali memperhatikannya, seperti hendak mengenali lebih jauh sosok teman barunya itu. Untuk ukuran rata-rata, wajah Fajar tergolong manis, hidungnya mancung mirip bintang film India –dan ia memang mengaku suka film India. Kulitnya gelap tapi bersih.
Putera mengganti VCD lagu-lagu Jawa dengan Peter Pan. Fajar segera bilang, ia tak suka Peter Pan yang disambut dengan keheranan oleh Putera. “Lagu-lagu Peter Pan ini mirip kisahku,” kata Putera. Fajar menimpali, “Tak ada lagu yang mirip kisahku, karena aku tak punya kisah apapun, hidupku datar saja, biasa saja…”

Ketika saya pamit pulang pukul tigabelas, Fajar hendak ikut pulang juga, tapi dicegah oleh Putera. Akhirnya, ia mengurungkan niatnya. Malamnya, tanpa saya sangka, Fajar mengirim SMS ke saya, memberitahukan bahwa tadi ia pulang dari rumah Putera pukul enambelas karena menunggu hari teduh dan sampai di rumah sempat mbedhol kacang lagi dan kini tengah nonton TV sambil menikmati susu cokelat. Saya senang dengan keakraban yang coba ia bangun lewat SMS seperti itu.

Hendra, Putera, Fajar adalah gambaran dari gay lokal yang sangat jauh bila dibandingkan dengan tipikal gay metropolitan Jakarta. Setidaknya, dalam penampilan fisik mereka begitu sederhana. Meskipun Fajar mengenal istilah-istilah macam “fashionista” dan “metroseksual”, tapi penampilannya sendiri tak mencirikan seorang gay secara stereotip. Ia mengenakan kaos yang dilapisi kemeja hitam dan celana bahan berwarna sama. Potongan rambutnya belah tengah model kuno, layaknya Hendra. Bagi mereka, sepertinya tak terpikirkan sisi-sisi gay sebagai gaya hidup. Mereka hanya tahu mereka punya orientasi seksual yang berbeda dengan kebanyakan, dan itu harus ditutupi dengan rapat di tengah-tengah keluarga dan teman-teman.
***
Hendra, Putera dan Fajar tentu saja bukanlah fenomena baru dalam konteks masyarakat Jawa. Kendati tak secara eksplisit mengacu kepada homoseksual sebagai sebuah orientasi seks, Serat Centhini yang disebut-sebut sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa sudah mengenalnya. Sekali lagi, memang tidak mengacu kepada homoseksual sebagai orientasi seks, melainkan “sekedar” sebagai variasi hubungan seksual yang berbasis pada same sex relation.

Serat Centhini, atau lebih lengkapnya Centhini Tambangraras-Amongraga ditulis pada 1814 sampai 1823 oleh sebuah tim yang dipimpin Adipati Anom Amangkunagara III, putera mahkota Kerajaan Surakarta, yang kemudian menjadi raja dengan gelar Sunan Paku Buwana V (1820-1823). Anggota tim penulis itu terdiri atas tiga orang, yakni Kiai Ngabei Ranggasutrasna, Kiai Ngabei Yasadipura II dan Kiai Ngabehi Sastradipura. Ketebalan naskah ini mencapai 4200 halaman yang tertuang dalam 12 jilid dengan kandungan isi yang sangat beragam.

Jika dapat dikatakan sebagai suatu cerita, seperti catatan yang pernah diberikan oleh Benedict Anderson, secara sekilas Centhini dapat dijabarkan sebagai berikut: Setelah penaklukan-berdarah atas Giri, kerajaan Islam yang makmur di pelabuhan Jawa Timur, pada 1625 oleh tentara Sultan Agung dari Mataram di Jawa Tengah, ketiga anak (dua laki-laki dan satu perempuan) penguasa yang ditaklukan itu lari untuk menyelamatkan diri. Diburu mata-mata Mataram, mereka pun berpisah: anak sulung yang bernama Jayengresmi (yang kemudian bergelar Seh Amongraga) lari ke barat, sedang dua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti meloloskan diri ke tenggara. Mereka lalu disatukan oleh seorang tokoh yang aneh bernama Cebolang, anak semata wayang seorang pertapa di Gunung Sokayasa. Untuk menghidupi dirinya, Mas Cebolang mencari nafkah sebagai penghibur keliling –ia bermain musik, menari dan memainkan sulapan. Ia juga berjudi, mencuri dan berzina.Lewat tokoh Cebolang itulah, seks dieksplorasi dalam Centhini, tepatnya pada Jilid V –yang terjemahannya kebetulan terbit awal tahun ini (Yogyakarta: Gajah Mada University Press). Proyek penyaduran Centhini Jilid V ini merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh Balai Pustaka, yang hingga 1992 lalu telah menerbitkan terjemahannya sampai Jilid IV.

Dalam Centhini Jilid V itu dikisahkan, Cebolang dan para santrinya ditanggap oleh adipati Kabupaten Wirasaba untuk merayakan kelahiran puteranya. Penampilan Cebolang dan salah satu penari utamanya yang bernama Nurwitri membuat Sang Adipati terpesona. Demikianlah, Kiai Adipati hatinya sungguh-sungguh hanyut oleh Nurwitri, penari laki-laki. Ki Adipati sedikit mabuk brem, tape dan tua. Ia mabuk bercampur asmara. Nurwitrilah yang menjadi sasaran asmaranya. Baru kali inilah ia berkehendak yang janggal. Nurwitri dibawa pulang ke rumah tembok bagian belakang. Kiai adipati berkata, “Nurwitri majulah sedikit, saya akan tidur karena itu selimutilah dan bersenandunglah. Nurwitri menjawab, ya, sambil mengerling dan mengatupkan bibirnya. Kiai Adipati segera memeluk leher Nurwitri. Ia gemas maka Nurwitri dicubit kemudian bibir dan pipinya dihisap dan dicium. …tingkahnya tidak berbeda dengan menghadapi wanita.

Singkat cerita, malam itu, Sang Adipati berhubungan seks dengan Nurwitri. Dalam bahasa anak sekarang, Sang Adipati menjadi “top” (pihak yang mencumbu atau melakukan penetrasi), dan Nurwitri “bottom” (pihak yang dicumbu atau dipenetrasi). Pada malam lain, Sang Adipati gantian bercinta dengan Cebolang, yang digambarkan lebih hebat permainan ranjangnya dibandingkan dengan Nurwitri. Yang paling ajaib dari penggambaran adegan seksual antara Adipati-Cebolang-Nurwitri itu adalah pada suatu malam ketika Sang Adipati bertanya pada Cebolang, “Sesungguhnya di manakah letak kenikmatan bagi orang yang bercumbu sesama lelaki, apakah yang mencumbu itu mendapat kebahagiaan hati? Bagaimana pula dengan yang dicumbu? Di manakah letak perbedaanya?”

Sekali lagi, jika diterjamahkan ke dalam bahasa gay sekarang, pertanyaan itu tak lain: Siapa yang lebih menikmati dalam hubungan seks antara dua lelaki –pihak top ataukah bottom?” Jawab Cebolang, “Jauh lebih nikmat yang dicumbu (baca: bottom -pen), rasa berdebarnya merata, hati terasa terhanyut, tenang, kepala terasa berputar-putar, enak berdiri bulu kuduknya, bergeriming karena diraba-raba badannya.

Mendengar penjelasan Cebolang, Sang Adipati pun penasaran dan mengajaknya untuk bertukar peran. Namun, apa yang terjadi? Sang Adipati kesakitan karena, konon, ukuran penis Cebolang sangat besar. Dengan blak-blakan Centhini menggambarkannya kesakitan Sang Adipati itu dengan ratapan seperti ini: “…alat kelaminmu besar menakutkan, aduh kasihanilah aku, aku sudah tidak kuasa lagi.” Selanjutnya, Cebolang pilu hatinya oleh karena itu dipercepat kehendaknya supaya dapat segera lepas…Kiai Adipati terkencing dan menjengkerut sehingga semakin terasa sakit, bergetar dan terkejut dalam hati berharap semoga cepat berakhir. Senjata tersebut dengan perlahan-lahan terlepas dan keluar dengan cepat, meloncat kemudian keluarlah penisnya yang basah kuyup dan berlumuran darah, membasahi kain sprei. Tubuh Kiai Adipati lemas lunglai, sangat lelah keringatnya bercucuran, tulangnya pegal tidak dapat bergerak.

Kembali merujuk pada Benedict Anderson, Centhini menunjukkan, melalui banyak contoh yang disajikan dan penggunaan kosakata teknis Jawa yang bebas, bahwa homoseksualitas laki-laki paling tidak bukanlah sesuatu yang problematis, bagian keseharian dari budaya seksual Jawa yang sangat beragam. Dalam bukunya yang berjudul Javanese Lives: Women and Men in Modern Indonesia Society (1991), Walter L William juga menunjukkan betapa dalam budaya Jawa awam, homoseksual sering diterima sebagai hal yang lumrah. Buku ini berisi 27 riwayat hidup wanita dan pria jawa yang dipilih untuk mewakili beragamnya orang Jawa, dari wanita pedagang di pasar, putri di sitana sultan surakarta, guru dalang wayang kulit, dukun pengantin, mualaf muslim hingga…

…seorang kepala sekolah yang homoseks. Dia seorang keturunan Cina yang lahir di Jawa Tengah pada 1914 dan telah menyadari daya tarik erotisnya pada pria sejak berusia 11 tahun. Ketika menjadi guru dan kemudian kepala sekolah, ia dengan hati-hati menyembunyikan homoseksualitasnya. Pada 1965, selama pembersihan anti-komunis, ia didakwa sebagai komunis dan dipecat dari jabatannya. Meskipun pemecatan itu tak ada kaitannya dengan homoseksnya, tapi setelah peristiwa itu ia menjadi lebih tenang dan terbuka.

Walter L william mewawancara orang tersebut dalam Bahasa Inggris di rumahnya yang bersih dan nyaman, dengan koleksi bukunya yang banyak dan lukisannya menghiasi dinding. Dia hidup tenang di tengah pemukiman kelas menegah yang khas dekat jalan raya di Magelang, Jawa Tengah, bersama dengan empat orang gay muda yang sedang ia rawat. Mereka makan bersama sebagai sebuah keluarga. Pemuda-pemuda itu sering mendapat teman dari mereka yang berkunjung dan rumah itu hidup dengan tawa dan percakapan sejumlah pria muda dan dewasa.
Dua bulan berikutnya, ketika mengunjungi pesta ulang tahun yang ke-73 mantan kepala sekolah itu, William menyaksikan rumah tersebut dipenuhi tamu – mereka adalah mantan teman sesama guru dan murid-muridnya, ditambah 40 orang gay. Dia telah membantu orang-orang ini di masa lalu dan kini mereka datang kembali sebagai ungkapan rasa hormat.

“Kami,” kata sang mantan kepala sekolah itu, “para gay tidak otomatis memiliki keluarga untuk kembali, maka kami bekerja keras untuk menciptakan rasa kekeluargaan sendiri. Membantu orang lain, terutama orang muda, akan menghasilkan imbalannya di kemudian hari –kapan, saya tidak tahu, tapi saya yakin akan terjadi. Saya mungkin telah menerima imbalan tersebut dan ganjaran utama buat saya adalah saya mencintai kehidupan saya dan saya mencintai tempat tinggal saya. Saya membaca buku-buku, melihat TV bersama anak-anak dan menasihati mereka apabila mereka mendapat masalah. “Anak-anak” saya dan teman-teman serta buku-buku adalah sahabat saya. Saya tidak berkeberatan menjadi diri saya sendiri kalau mereka meninggalkan saya. Saya tidak takut menjadi tua.

Selengkapnya!