“Kalau gue lesbi, lu udah gue cium.”
Dengan kalimat seperti itu, Lala meyakinkan Bunga bahwa kedekatan dan kebaikannya tulus belaka. Bunga pun lega mendengarnya, dan tak menaruh prasangka lagi pada Lala. Sebagai teman baru di sekolah, Lala memang misterius bagi Bunga. Kehadirannya seperti malaikat: sejak ada dia, berbagai beban dan persoalan hidup yang dihadapi Bunga satu per satu terselesaikan. Dan, sampai cerita berakhir, sinetron lepas berjudul
O Lala Bunga (SCTV, Minggu, 12 Maret 2006 pukul 09.30 WIB) itu memperlihatkan bahwa Lala memang bukan lesbian. Dan, tentu saja memang tidak harus. Tapi, mengapa kalimat seperti dikutip di awal tadi harus muncul hanya untuk menegaskan sebuah ketulusan persahabatan antara sesama perempuan?
Dalam berbagai produk industri budaya pop, homoseksualitas kerap hadir sebagai negasi. Saya langsung teringat sebuah tayangan berklaim relijius, dalam salah satu episodenya mengangkat kisah yang diberi judul
Aku Bukan Lesbian (RCTI, Jumat, 10 Februari 2006 pukul 19.00 WIB) Ceritanya begini: seorang gadis tomboi (artinya: berambut cepak, ke mana-mana naik motor) bernama Wiwin harus menghadapi ayahnya yang kasar dan suka memukul. Di kampus, ia berteman akrab dengan seorang perempuan bernama Aga. Keakraban keduanya membuat teman-teman di kampus mengisukan Wiwin lesbian. Seorang cowok yang naksir Aga sampai harus menyebar fitnah untuk menjauhkan gadis pujaannya itu dari Wiwin. Aga pun sempat termakan oleh suara-suara miring yang tak jelas itu, dan mulai menjauhi Wiwin.
Hingga pada suatu saat, Aga tersadar bahwa semua itu tak lebih daripada isu dan fitnah. Ia pun mencari Wiwin untuk meminta maaf. Tapi, segalanya sudah terlambat. Ketika Aga sampai di rumah Wiwin, sahabatnya itu sudah tewas sehabis dihajar oleh ayahnya sendiri. Dan, akhir dari kisah ini bersesuaian benar dengan tajuk acaranya, “Taubat”: lelaki yang gemar menyiksa anak perempuan dan istrinya itu pun bertobat setelah kematian Wiwin di tangannya sendiri. Jadi, untuk apa wacana lesbian(isme) dihembuskan dalam film ini, kalau pesan moralnya sebenarnya lebih ke soal kekerasan (terhadap perempuan) dalam rumah tangga?
***
Sampai detik ini, salah seorang tokoh lesbian Ade Kusumaningrum masih benar ketika dia mengatakan, kata lesbian lebih bersifat asosiatif dan simbolis ketimbang mencerminkan realitas konkret. Di benak banyak orang, demikian menurut Ade, kata lesbian lebih berasosiasi pada sesuatu yang seksi, sensual, erotis dan cenderung pornografis (
Lesbian Jakarta, Komunitas Bayang-bayang, Majalah
Djakarta, Oktober 2003) Kalimat yang saya kutip di awal tulisan tadi adalah contoh yang sangat baik, yang menggambarkan betapa masih rancunya pemahaman awam atas lesbianisme. Dengan dangkal dan serampangan, lesbianisme diidentikkan dengan perempuan yang kalau melihat sesama perempuan matanya ijo, dan langsung bernafsu untuk menciumnya.
Ade juga masih benar ketika mengatakan, sampai saat ini lesbian hanyalah kata yang ketika diucapkan akan membuat orang langsung pasang perhatian lebih, begitu juga ketika dituliskan pada headline ataupun cover media-media cetak. Atau, ketika digembar-gemborkan sebagai tema dalam sebuah film. Kalimat seperti ini --Udah nonton filmnya Cornelia Agatha? Yang dia jadi lesbian itu…”—terdengar di banyak tempat dan berbagai kesempatan ketika film
Detik Terakhir diputar di biskop-bioskop di Jakarta awal Oktober 2005 lalu. Cornelia dan lesbian. Popularitas seorang artis yang bercitra high profile bertemu dengan sebuah tema yang “sensitif”. Dua potensi itu telah melambungkan film yang diangkat dari novel best seller berjudul “ajaib”, Jangan Beri Aku Narkoba karya Alberthiene Endah. Tidak hanya judulnya yang kemudian diganti, ending-nya pun dibuat tidak sama dengan novelnya.
Alberthiene yang juga ikut menulis skenarionya mengubah beberapa bagian, menghilangkan bagian tertentu dan membuat beberapa penambahan yang tak ada dalam novel. Pada novel misalnya, tokoh Vela akhirnya menganggap bahwa (pertemuannya, yang berlanjut pacaran dengan) Regi (yang dalam novel bernama Arimbi) adalah sebuah kesalahan dalam hidupnya. Oleh karenanya, ia pun meminta Regi untuk meninggalkannya. Sedangkan, dalam film, Vela yang pada bagian akhir cerita mengaku telah menjual tubuhnya kepada bandar (narkoba), kemudian dikisahkan mengidap AIDS. Tapi, Regi menegaskan bahwa ia tak menyesal telah mencintai Vela. Dengan begitu, hubungan cinta lesbian mendapat representasi yang positif dalam film ini.
Tapi, novel adalah satu hal dan film adalah hal yang lain. Semangat ketegaran manusia-manusia yang dianggap sampah masyarakat dalam berjuang menegakkan eksistensinya, yang memberi nafas kuat keseluruhan alur novel, di layar lebar berubah menjadi balada kecengengan yang penuh uraian airmata. Terlalu banyak tangis yang pecah, yang pada satu titik adegan tertentu terasa begitu membosankan. Lesbianisme menjadi identik dengan penderitaan tiada akhir, hidup yang muram dan penuh ratapan kesedihan. Belum lagi, kalau kita menilik bagaimana “sejarahnya” Regi menjadi lesbian. Di sini, lesbianisme didekati sebagai wacana dendam, yang lahir dari kekecewaan.
Sejak kecil, Regi (Cornelia) hanya menyaksikan papa dan mamanya –sebuah keluarga pengusaha ternama- bertengkar karena masing-masing berselingkuh. Trauma itu sedikit banyak membentuk kepribadian Regi yang kemudian tumbuh menjadi perempuan yang tak mempercayai institusi rumah tangga yang terdiri atas laki-laki dan perempuan. Kebencian itu menuntunnya untuk mencintai sesama jenis kelaminnya. Salah seorang temanya di kampus, Helena (Shanty) menjadi batu ujian pertamanya, tapi ia mundur karena masih ragu. Baru, setelah ketemu Vela (Sausan) di komunitas pengguna narkoba, Regi merasa makin yakin dengan orientasi seksualnya sebagai seorang lesbian. Artinya, lesbianisme yang muncul dalam Detik Terakhir pertama kali hadir sebagai “dampak”, pengaruh dari sesuatu yang mendahuluinya: karena dibesarkan dalam keluarga yang pecah, maka ia “menjadi” seorang lesbian. Dan, karena lesbianisme tersebut hadir bersama-sama dengan tema narkoba, maka kita juga bisa membacanya secara simbolik, bahwa menjadi lesbian adalah sebuah pelarian.
***
Film karya terbaru sutradara Nia Dinata,
Berbagi Suami menyelipkan isu lesbianisme dalam panorama yang kurang lebih serupa, tapi tak sama. Serupa, karena menampilkan lesbianisme sebagai sebuah bentuk perlawanan. Tapi, tak sama:
Detik Terakhir merupakan refleksi yang nyaris utuh atas penggambaran lesbianisme secara stereotip dan sempit, menyimpang dan aneh. Hubungan antara Regi dan Vela diletakkan dalam kotak narasi antitesis, pelanggaran atas norma seks dan gender, penyempalan dari moral-alegoris impian masyarakat patriarkis-heteroseksis. Sehingga salah satu atau keduanya harus dihukum, dengan penyakit AIDS misalnya. Secara performatif, mereka digambarkan sebagai sosok-sosok yang feminin, namun tak punya spesifikasi gender. Mengenakan pakaian uniseks, namun mengikuti pakem karikatural penyosokan pasangan perempuan lesbian sebagai butch (Vela yang kelaki-lakian dan berambut pendek) dan femme (Regi yang cantik dan berambut panjang).
Sementara, lewat
Berbagi Suami, lesbianisme untuk pertama kalinya mendapatkan penggambaran yang begitu normal dan wajar. Keberhasilan mengangkat tema homoseksualitas lewat
Arisan, agaknya mendorong Nia untuk mencoba memainkan kembali tema yang sama dalam karyanya kali ini, namun dengan subjek perempuan. Kendati tidak mendapat porsi representasi sebesar dalam
Arisan, namun homoseksualitas cukup memegang kunci untuk membuka pemahaman yang komprehensif atas film Nia kali ini, yang mengangkat tema besar tentang poligami. Berbeda dengan Arisan yang secara struktur cerita mengambil cara bertutur yang konvensional, Berbagi Suami menampilkan formula yang tak biasa: tiga fragmen yang berbeda dituturkan berurutan layaknya bab demi bab dalam sebuah buku, namun pada saat yang bersamaan ketiganya saling bersinggungan dalam kilas lembut laku dan wicara tokoh-tokohnya.
Kalau tadi dibilang tidak biasa, tentu maksudnya dalam konteks perfilman di Tanah Air yang selama ini memang belum pernah ada yang menampilkan gaya ucap seperti itu. Namun, dalam konteks yang lebih luas, struktur serupa pernah kita saksikan lewat film
Amores Perros karya sutradara Alejandro Gonzales. Nia melakukannya dengan tak kalah halus dan memikat dalam merangkai tiga kisah yang seolah-olah berjalan sendiri-sendiri dan tak saling berhubungan itu. Pilihan pada struktur cerita semacam itu, ditambah dengan kepiawaian Nia menciptakan detail adegan dan dialog-dialog yang tangkas, sungguh efektif menciptakan mood yang menghanyutkan.
Lebih daripada itu, struktur semacam itu memungkinan Nia untuk menciptakan suatu hierarki wacana –memakai konsep Colin MacCabe (1976)- yakni, pandangan-pandangan yang berbeda atas satu realitas yang disampaikan dalam waktu yang bersamaan. Dengan rujukan konsep ini, maka Berbagi Suami menjadi sebuah medan penggambaran realitas sosial dari berbagai perspektif sekaligus. Fragmen pertama, yang mengalir dari tuturan (sudut pandang) tokoh Salma (Jajang C Noer), mewakili perasaan seorang perempuan istri pertama yang harus menerima kenyataan suaminya berpoligami. Fragmen kedua, yang mengalir dari tuturan tokoh Siti (Shanty), mewakili perasaan perempuan yang akan dijadikan istri ke sekian dari laki-laki. Sedangkan fragmen ketiga, yang mengalir dari tuturan tokoh Ming (Dominique A Diyose), mewakili perasaan perempuan yang dipinang sebagai istri muda sekaligus madu dari perempuan yang telah dikenal dekat dan baik sekali dengannya. Di samping itu, masing-masing fragmen juga mewakili lebih banyak lagi aspek, dari perbedaan generasi, etnis dan budaya hingga kelas sosial.
Di sinilah ketelitian Nia benar-benar teruji: ia mengerti benar materi yang hendak disampaikannya, yang membutuhkan banyak cara untuk melihatnya.
Nia agaknya tahu benar bahwa mengangkat tema poligami dalam sebuah film tidak sama dengan mengangkat tema kontroversial lainnya. Fenomena poligami, dalam masyarakat kita, jauh lebih gawat dari sekedar apa yang bisa dirangkum dengan kata ‘kontroversial’. Tema ini tidak hanya bersentuhan dengan “watak” budaya sebuah etnis masyarakat tertentu, melainkan juga akan berhadapan dengan kebekuan doktrin lembaga agama. Kesadaran ini membuat Nia begitu hati-hati dalam setiap geraknya, bahkan terkesan menjaga jarak secara berlebihan sehingga tatapannya menjadi gamang, serba ambigu.
Dalam berbagai kesempatan bicara dengan media, Nia selalu mengungkapkan ketidaksetujuannya pada praktik poligami dengan alasan apapun. Dan, sikap inilah tentunya yang mendasari lahirnya Berbagi Suami. Namun, teks yang kemudian tertangkap diri film ini secara keseluruhan menurut saya justru penggambaran yang serba manis dari praktik poligami itu sendiri. Para pelaku poligami dalam film ini, yakni Pak Haji (El Manik), Pak Lik (Lukman Sardi) dan Koh Abun (Tio Pakusadewa) disosokkan sebagai lelaki-lelaki yang mengundang simpatik: “tidak sama dengan laki-laki lainnya” (seperti pujian salah satu istri muda Pak Haji), serta penuh cinta, tulus dan begitu bertanggung jawab (seperti diperlihatkan Koh Abun pada Ming sang istri muda).
Dan, kita menjadi tidak simpati kepada Ming. Jika dalam konteks perdebatan tentang poligami selama ini, pihak yang menolak beralasan bahwa perempuan selalu menjadi korban, dalam kasus Ming-Koh Abun, siapa sebenarnya korban? Ming yang masih muda dan punya banyak pilihan, ternyata menerima pinangan Koh Abun karena ia menginginkan materi, sebagai batu loncatan untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pemain film. Artinya, kisah Ming-Koh Abun lebih merupakan drama urban metropolitan biasa ketimbang menukik ke isu poligami yang merugikan perempuan.
Secara keseluruhan, dari ketiga fragmen yang disajikan Nia dalam Berbagi Suami, nyaris tak ada adegan yang bisa dibaca sebagai bentuk penolakan –baik keras maupun lunak- atas poligami. Kemarahan Salma saat pertama tahu Pak Haji punya istri lain bahkan tak digambarkan dengan kuat, dan hanya berupa reaksi kemarahan sesaat. Setelah itu yang ada hanya kepasrahan.
Satu-satunya bagian yang paling siap untuk menjadi sikap menolak poligami adalah larinya Siti bersama salah satu madunya, Dwi (Rieke Diah Pitaloka) dari lelaki yang mempoligami mereka, Pak Lik (Lukman Sardi). Tapi, itu pun terjadi karena pertama-tama lebih didorong oleh rasa cinta yang tumbuh di antara mereka, dan bukan karena dari awal merasa tersiksa karena dipoligami. Di sinilah, tema homoseksualitas perempuan atau lesbianisme muncul; dan bagaimana kita mesti membacanya dalam konteks isu besar poligami yang menafasi seluruh alur film ini?
***
Fragmen Pak Lik dan istri-istrinya tampil pada urutan kedua dari tiga segmen dalam
Berbagi Suami. Ia seorang sopir di sebuah rumah produksi yang dikisahkan baru saja kembali dari kampung, dengan membawa serta salah seorang keponakannya yang masih polos, Siti. Perempuan lugu ini dijanjikan akan dicarikan pekerjaan, dan harus tinggal bersama dua istri Pak Lik, Dwi dan Mbak Sri (Ria Irawan). Namun, dalam perkembangannya, Siti pun diambil istri oleh Pak Lik atas persetujuan dan bahkan dorongan dari Dwi dan Mbak Sri. Pak membagi malam-malamnya untuk tidur bersama masing-masing istrinya itu secara adil. Maka, ketika tiba giliran Pak Lik tidur bersama Mbak Sri, Siti yang merupakan istri terbaru merasa kesepian. Dwi merasa kasihan melihat madunya yang termuda itu, dan pada suatu malam memintanya untuk mendekat, tidur di sisinya.
Dari situlah, Siti lambat laun mulai menemukan pelarian dari perasaannya yang sunyi sebagai istri ketiga yang tak selalu didampingi suaminya. Benih-benih cinta pun mulai tumbuh di hati Siti –ia cemburu setiap kali tiba giliran Dwi tidur bersama Pak Lik. Perasaan senasib sebagai perempuan yang dipoligami akhirnya membuat Dwi juga mulai mempertimbangkan cinta Siti. Begitulah, diam-siam mereka menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih, atau bahkan sepasang suami istri, dengan berbagai rencana masa depan menggelayuti benak mereka. Dwi dan Siti mulai menabung dan merencanakan sebuah pelarian pada hari yang baik. Sebuah resensi
online menyebutkan, lesbianisme dalam Berbagi Suami adalah hukuman Nia untuk perempuan yang lari dari laki-laki yang mempoligami mereka (Dyah Maro,
Berbagi Suami: Membaca Perempuan di Mata Nia, situs
layarperak.com, 28 Maret 2006).
Bagi saya, belum pernah lesbianisme ditampilkan se-“alami” dalam
Berbagi Suami. Nia sungguh dahsyat menggambarkan bagaimana cinta tumbuh di antara Siti dan Dwi dari hari ke hari: diam namun penuh rasa, dan begitu meyakinkan. Namun, perlu diberi catatan khusus dari awal, mengingat lesbianisme dalam film ini diletakkan dalam kerangka tema besar poligami, maka tidak bisa tidak, pertama kali orang akan melihatnya sebagai sebuah bentuk perlawanan. Dalam hal ini, perlawanan perempuan, atau lebih tepat lagi, perempuan korban (poligami) laki-laki. Dalam novel
Tarian Bumi (1999) karya Oka Rusmini, lesbianisme juga tampil sebagai bagian dari perlawanan (politik) perempuan atas dominasi laki-laki. Bedanya: jika pada Tarian Bumi, Oka menampilkannya dengan penuh teriakan, menggebu-nggebu, maka pada Berbagi suami, Nia seolah berbisik lirih namun justru terasa lebih kuat daya gugatnya.
Tokoh lesbian dalam
Tarian Bumi begitu emosional membenci laki-laki dan berpretensi ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa hidup tanpa laki-laki. Sedangkan dalam
Berbagi Suami, Siti dan Sri memang awalnya dipersatukan oleh perasaan yang sama sebagai korban, namun selanjutnya yang lebih mengemuka adalah perasaan masing-masing sebagai individu perempuan yang mengetahui bahwa mereka berhak menentukan nasib sendiri. Mereka pun melakukan perlawanan: menabung dan merencanakan pelarian. Mereka sadar bahwa hidup melarat (dan dalam kungkungan poligami pula) tidaklah gemerlap, sehingga ingin memperoleh uang sendiri demi mencapai impian-impian kemandirian, termasuk cinta “sejati”, dan demi keamanan mereka sendiri, sekaligus demi perubahan sosial.